Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

MUSIK Hadiri Konferensi Musik Indonesia 2018, Ivan Nestorman: Kebudayaan Sebagai Akar Peradaban 09 Mar 2018 00:38

Article image
Ivan Nestorman (kanan) dan Dwiki Dharmawan) pada Acara Konferensi Musik Indonesia dan Festival 2018 di Ambon (Foto: Sita)
“Budaya yang kuatlah yang menang dan mampu menggiring orang lain. Saatnya kita membuat orang lain melihat budaya kita. Ibarat kitalah yang menjadi banjir dan bukan sebaliknya menjadi korban banjir," kata Ivan Nestorman.

AMBON, IndonesiaSatu.co-- Musisi Neotradisi asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Ivan Nestorman turut menghadiri Konferensi Musik Indonesia dan Festival Tahun 2018 yang berlangsung di Taman Budaya Karang Panjang, Ambon sejak tanggal 7 hingga 9 Maret 2018.

Sebelumnya, penyanyi bernama lengkap Flavianus Nestor Embun ini melakukan kunjungan di bebeberapa daerah di Flores dan Atambua guna mempromosikan pemajuan budaya di NTT.

Sesuai rilis yang diterima media ini, Ivan Nestorman mengatakan kegiatan promosi budaya dan festival musik di Ambon merupakan salah satu bentuk dukungan para pemusik Indonesia terhadap UU no 5 2017 tentang pemajuan kebudayaan Indonesia.

“Kebudayaan adalah akar peradaban sehingga harus terus ditumbuh kembangkan, dikultivasi. Kebudayaan yang mengalami penyuburan akan berujung pada peradaban manusia,” ungkapnya.

Ivan menilai bahwa Pemerintah Indonesia harus melihat bahwa kebudayaan kita stagnan sehingga perlu dipikirkan cara terbaik untuk direvitalisasi. Menurutnya, daerah-daerah harus menyambut baik upaya pemajuan budaya di daerahnya masing-masing dengan cara yang lebih kreatif dan sedapat mungkin gagasan dan implementasinya dilakukan dari komunitas-komunitas kreatif berbasis budaya dalam masyarakat.

“Selama berkunjung ke Flores, baik di level Perguruan Tinggi maupun sekolah menengah serta komunitas anak muda, saya menganjurkan para milinialer untuk memperkukuh karakteristik budaya Flores. Sebab, saya melihat Flores seperti bagian lain dari dunia saat ini yang sudah menjadi sungai besar yang dilalui aliran banjir globalisme yang menabrak apa saja yang ada di depannya. Ibarat banjir datang dengan sampah produknya dalam berbagai hal dan menggiring kita melompat keluar dari karakteristik budaya kita. Gerusan sudah mulai terjadi di seluruh negeri kita. Kita tidak bisa mencegahnya terjadi,” nilai Ivan.

Menanggapi hal tersebut, Ivan menegaskan bahwa generasi dituntut untuk semakin kuat mempertegas identitas dan karakter budaya lokal jika tidak ingin hidup dalam dunia yang seragam.

“Budaya yang kuatlah yang menang dan mampu menggiring orang lain. Saatnya kita membuat orang lain melihat budaya kita. Ibarat kitalah yang menjadi banjir dan bukan sebaliknya menjadi korban banjir! Ini bukan pekerjaan mudah karena membutuhkan kehadiran negara dan komponen masyarakat untuk mewujudkannya. Menteri keuangan, Sri Mulyani berjanji bahwa pemerintah akan mengalokasikan anggaran untuk pemajuan musik. Namun harus disertai tanggungjawab yang baik dalam penggunannya. Musik etnis adalah ujung tombak musik-musik Indonesia. Ini yang seharusnya digarap serius,” tandas penyanyi yang dikenal dengan rambut gimbal ini.

--- Guche Montero

Komentar