Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

AGAMA Hanga (Kanga), Pusat Seremoni Adat Ende Lio 16 Oct 2017 08:04

Article image
Hanga di kampung ada Lio. (Foto: Ist)
Setiap seremoni adat hanya berpusat di pelataran rumah induk adat. Dalam bahasa setempat, tempat seremoni adat disebut hanga atau kanga.

ENDE, IndonesiaSatu.co -- Dalam tradisi Ende Lio, Flores, tidak semua tempat dapat digunakan untuk menggelar upacara adat. Setiap seremoni adat hanya berpusat di pelataran rumah induk adat. Dalam bahasa setempat, tempat seremoni adat disebut hanga atau kanga.

Kepada IndonesiaSatu.co, Sabtu (14/10/17), budayawan Lio, Cosmas Minggu menjelaskan bahwa pelataran adat (hanga) mengandung makna sakralitas (magis), persekutuan serta simbol kewibawaan adat setempat.

"Dalam adat budaya Ende Lio umumnya, hanga merupakan sentra setiap upacara adat yang menghimpun seluruh pemangku adat dan segenap penggarap (fai walu ana kalo). 'Hanga' sebagai tanda persekutuan (communio) dan kewibawaan adat yang ditunjukan oleh para pemangku adat (mosalaki). Tidak semua orang dapat memasuki 'hanga' pada saat berlangsungnya upacara resmi adat. Ada daya sakral (magis) sesuai keyakinan masyarakat adat Ende Lio," ungkapnya.

Master hukum adat yang turut mendorong pembentukan Lembaga Pemangku Adat (LPA) di tingkat desa ini menjelaskan bahwa sudah menjadi warisan tradisi jika semua seremoni adat wajib diselenggarakan di pusat 'hanga' yang biasanya terletak di tengah-tengah kampung dan sekitar rumah adat induk.

"Kekuatan magis 'hanga' karena dilengkapi dengan unsur sakral adat yakni 'prasasti' (musumase/tubumusu) yang dijadikan tempat untuk memberikan sesajian bagi para leluhur oleh mosalaki. Pemberian sesajian oleh mosalaki ditandai dengan intensi adat (suasasa) sesuai konteks upacara adat seperti syukuran panen, menolak hama penyakit, pantangan dan larangan maupun ujud adat saat memulai musim tanam. Seremoni adat sudah menjadi tradisi turun-temurun dan diperkuat oleh keyakinan segenap masyarakat adat yang wajib berlangsung di 'hanga'," jelasnya.

Musyawarah adat

Selain sebagai pusat seremoni, 'hanga' juga digunakan sebagai tempat musyawarah adat yang melibatkan pemangku adat (mosalaki) dan para penggarap (fai walu ana kalo).

Hal itu sebagaimana diutarakan Siprianus Se'a, pegiat seni dan budaya Ende Lio.

"Musyawarah atau forum resmi adat selalu diselenggarakan di 'hanga' yang dipimpin oleh mosalaki dan para tetua adat. Jika terjadi perselisihan atau kesalahpahaman yang menyangkut hak ulayat atau norma adat setempat, maka 'hanga' dijadikan tempat musyawarah adat. Meski tidak dibuat sebagai norma tertulis, namun hal itu sudah menjadi tradisi bagi masyarakat adat setempat," katanya.

Menurutnya, tidak semestinya persoalan hak ulayat yang akhir-akhir sering terjadi, berurusan melalui proses hukum baik perdata maupun pidana.

"Adat semestinya menjadi ruang untuk bermusyawarah, menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan bahkan konsekuensi hukum adatnya yakni denda adat (poi/wale). Karena adat sebagai warisan luhur mengandung nilai moral, etika, kekeluargaan, solidaritas, persatuan, toleransi serta kekerabatan. Secara simbolik, 'hanga' menjadi simbol perdamaian, musyawarah dan persekutuan," tandasnya.

Musisi tradisional Ende Lio ini mengharapkan agar warisan tradisi dan adat-budaya Ende Lio yang kaya dengan nilai-nilai kultural tetap dipertahankan oleh generasi sekarang agar tidak tergerus atau merosot seiring dengan perkembangan zaman.

"Unsur dan nilai budaya harus menjadi identitas dan jati diri kultural. Generasi sekarang harus sungguh-sungguh mengenal, memahami serta mempertahankan apa yang menjadi kekhasan budaya lokal. Arus modernisasi perlahan mempengaruhi mentalitas generasi. Sangat disayangkan jika generasi mulai malu atau lupa dengan budaya sendiri. Adat harus menjadi sumber pengetahuan," pungkasnya.

--- Guche Montero

Komentar