Breaking News
  • Ada 70.000 ibu hamil dan menyusui di antara pengungsi Rohingya
  • ASEAN Para Games - Doni Yulianto sumbang emas nomor kursi roda 1.500m
  • Kemenperin buka rekrutmen PNS untuk 380 formasi
  • Malaka, NTT diguncang gempa
  • Menhub: uji coba Transjabodetabek hasilnya kurang maksimal

TAJUK Hari Ini di Rengasdengklok… 16 Aug 2017 13:12

Article image
Rumah di Rengasdengklok tempat Soekarno-Hatta dibawa para pemuda. (Foto: Historia)
Malam hari di Rengasdengklok selanjutnya adalah malam bersama langit Nusantara yang melanjutkan berkah para leluhur dan Ibu Pertiwi. Soekarno-Hatta menyerap berkah itu sambil membesarkan hati.

HARI ini 16 Agustus 1945, para pemuda yang digerakkan Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh “menculik” Soekarno dan Hatta. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.00. WIB. Soekarno dan Muhammad Hatta dibawa ke Rengasdengklok, Karawang. Para pemuda lalu mendesak Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan pada hari tersebut.

Pertanyaannya, mengapa Rengasdengklok? Karena  Rengasdengklok yang berjarak sekitar 81 kilometer dari Jakarta itu jauh dari jangkauan pengawasan tentara Jepang. Rengasdengklok berjarak sekitar 15 kilometer dari jalan utama, yang termasuk bagian dari jalur Pantura. Di tempat yang sunyi itu, para pemuda merasa proklamasi kemerdekaan Indonesia sudah saatnya dilakukan tanpa gangguan, tanpa ancaman, tanpa intimidasi.

Kita pahami maksud para pemuda saat itu. Hancurnya kekuasaan Jepang di Asia (termasuk Indonesia) menjadi saat yang tepat untuk mendeklarasikan kemerdekaan. Kekosongan kekuasaan (abuse of power) yang ada bisa saja digunakan oleh pihak luar (Belanda dan sekutunya) untuk melanjutkan penjajahannya ataupun sesama anak  bangsa lain untuk mendirikan Negara baru yang tidak sesuai semangat Sumpah Pemuda 1928.

Transformasi dan revolusi dimulai dari kekosongan. Maka sebaiknya kemerdekaan Indonesia dideklarasikan secepatnya untuk mengisi kekosongan itu. Tidak boleh ada niat atau perbuatan lain yang mengisi kekosongan itu!

Di Rengasdengklok, Soekarno-Hatta ditempatkan di rumah Djiauw Kie Siong, salah seorang dari pasukan Pembela Tanah Air (Peta). Di tempat itu, terjadi negosiasi antara Soekarno-Hatta dan para pemuda yang tidak sabar untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Kita pun tahu, semua akhirnya sepakat bahwa kemerdekaan Indonesia tidak dideklarasikan di Rengasdengklok.

Kita membayangkan malam hari di Rengasdengklok selanjutnya adalah malam bersama langit Nusantara yang melanjutkan berkah para leluhur dan Ibu Pertiwi. Soekarno-Hatta menyerap berkah itu sambil membesarkan hati.

Malam itu di Rengasdengklok, adalah malam pemutusan sejarah penjajahan, dan esoknya adalah babak baru kemerdekaan Indonesia. Malam itu di Rengasdengklok Soekarno-Hatta menyerap tangisan air mata para ibu yang bersimbah tangis karena para putra yang gugur, desah lapar para gerilyawan/wati di hutan-hutan, darah para pahlawan yang bangga berkorban demi Indonesia, dan komitmen para pemuda mendengungkan semangat kemerdekaan.

Rengasdengklok lalu bukan lagi sebuah tempat. Ia sebetulnya “situasi transit” yang  menaburkan bibit kekuatan baru untuk hari esok. Dalam situasi hening itu, Soekarno-Hatta berhenti sejenak dari aktivisme politik dan riuh perjuangan, supaya energi perjuangan bangsa diberkahi para pahlawan yang gugur di medan laga.

Untuk kita hari ini, “momen Rengasdengklok” mengingatkan untuk menghentikan segala aktivitas lalu masuk dalam sejarah perjuangan para pahlawan bangsa. Mari masuk dalam permenungan reflektif-kontemplatif tentang kemerdekaan. Energi perjuangan bangsa pada gilirannya akan memberkati hari-hari ber-Indonesia.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar