Breaking News

OPINI Hari Paskah: Beralih dari Realitas Kegelapan kepada Terang Pengharapan 12 Apr 2020 10:56

Article image
Beralih dari realitas kegelapan kepada terang pengharapan. (Foto: LIVE 97.9)
Beragama pertama-tama bukan soal tempat, tetapi soal disposisi batin yang selalu siap menerapkan nilai-nilai keagamaannya dalam hidup.

Oleh Alfred B. Jogo Ena

 

SEPERTI perayaan-perayaan besar sebelumnya (Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung) perayaan Vigili Paskah dan Minggu Paskah juga ditayangkan secara live streaming dari berbagai keuskupan dan paroki yang menyediakan sarana untuk itu. Umat bebas memilih. Bisa melalui saluran televisi nasional maupun live streaming. Umat bisa mengikuti perayaan paskah secara lintas keuskupan dan lintas paroki baik dalam negeri maupun luar negeri, mengikuti siaran misa langsung dari Vatikan bersama Paus Fransiskus.

Enak ya jadi orang katolik, misanya bisa sama untuk seluruh dunia. Bedanya hanyalah bahasa yang digunakan, tapi itu tak mengurangi rasa kesatuan gereja yang kudus, katolik dan apostolik. Satu sisi positif yang muncul dari pandemi Covid-19 ini adalah ia muncul pada moment ketika umat katolik hendak merayakan hari besar keagamaan selama pekan suci. Kalau biasanya hari-hari menjelang pekan suci umat di berbagai paroki sibuk mempersiapkan diri baik kegiatan liturgis (gladi resik persiapan misa pekan suci) dan non liturgis (bakti sosial, poskes, dll), para imam sibuk melayani pengakuan dosa. Kali ini, kita diberi waktu dan ruang untuk mempersiapkan batin secara lebih lama dari rumah-rumah demi ketaatan pada perintah negara untuk jaga jarak sosial dan fisik antarkita. Kenyataan semacam ini selain menjadi pengalaman lahiriah – yang mungkin pertama dan seumur hidup – juga menjadi sebuah pengalaman iman yang mendewasakan.

Kenyataan dunia yang diguncang Covid-19 selain menyatukan kita sebagai manusia yang terpanggil untuk berbela rasa di satu pihak, juga mengajak kita untuk secara baru menata cara berteologi dan beriman kita. Ada banyak meme yang mengiringi kedua kenyataan ini: “Paroki Santo Yutub”, Keuskupan “Live Streaming”, Kevikepan online, dan aneka hiburan yang tampak sepele tapi menyimpan kenangan yang berarti.

 

Cara Menjadi Manusia

Satu hal yang mendewasakan kita umat beriman Katolik, bahwa dengan pengalaman “pembatasan” ruang gerak dalam ruang publik, kita justru diajak untuk semakin menyadari cara beriman kita selama ini. Bisa jadi, dalam suasana aman-aman dan tenang-tenang saja, kita hanya melakukan rutinitas ritual keagamaan. Kita hanya menjalankan kewajiban dan tugas (entah sebagai anggota koor, lektor, passio, tata laksana, keamanan dan parkir, bahkan tugas memimpin misa sebagai imam). Kita berlelah-lelah secara fisik dan hanya fokus pada persiapan seremonialnya. Selebihnya akan muncul litani kelelahan dan kecewa: koor kurang baguslah, lektor kurang power-lah, kotbah romo kurang “menggigit”lah, dll.

Pandemi virus corona yang mengguncang dunia sejak akhir Desember 2019 silam di Wuhan, China, hingga kini seakan kian memporak-porandakan dunia dengan merenggut puluhan ribu nyawa yang meninggal, jutaan yang terpapar dan positif. Dunia tercengang dan terengah-engah karena tidak menyangka akan demikian. Negara-negara yang tadinya aman-aman saja menjadi kelabakan dan serba salah langkah. Dunia lalu tersadar. Kita ini sesama yang mestinya saling bergandengan tangan dan menolong satu sama lain.

Dalam suasana aman, banyak negara saling ‘menggigit’ secara ekonomis maupun politis, merasa paling unggul dalam iptek dan persenjataan, saling embargo tanpa rasa kemanusiaan. Tiada hari tanpa perang fisik maupun perang urat syarat. Tapi kini, dunia seperti tak berdaya pada Covid-19. Covid-9 seakan membuat dunia mengkaji ulang cara menjadi sesama, cara bertetangga antarnegara, antarbangsa, antaretnis, antaragama. Covid-19 menyatukan manusia untuk saling berbela rasa, mampu berempati, mampu berlangkah merengkuh sesama.

 

Beragama itu Bukan Soal Tempat

Dampak lainnya dari Covid-19 yang paling terasa adalah terbatasnya kesempatan orang untuk merayakan ritual keagamaannya di rumah-rumah ibadah. Covid-19 menyadarkan umat beragama, (sekurang-kurangnya bagi saya yang Katolik) bahwa beragama pertama-tama bukan soal tempat, tetapi soal disposisi batin yang selalu siap menerapkan nilai-nilai keagamaannya dalam hidup. Beragama mesti berbuah dalam kehidupan. Buah itulah yang disebut dengan beriman: mewujudkan pesan dari yang ilahi ke dalam kehidupan yang aktual.

Beragama yang mengabaikan tragedi kemanusiaan di sekitar kita tentu tidak kita kehendaki. Begitu juga demi alasan kemanusiaan, kita diimbau (kerasanya dilarang) untuk tidak merayakan ritual keagamaan secara massal di rumah ibadah. Kita bisa memindahkan ritual-ritual keagamaan kita ke dalam rumah dengan menggunakan kemajuan teknologi informatika. Dan itu sudah kita jalani selama hampir sebulan ini.

Dengan mengikuti para uskup dan para imam yang mempersembahkan misa dan ibadat secara live streaming dari altar-altar gereja, kita sebenarnya sedang menyucikan altar gereja rumah tangga/keluarga (ecclesia domestica) tempat kita menenun kasih dan peradaban, tempat cinta dan pengharapan serta nilai-nilai kehidupan diberi arti dan tempat bertumbuh. “Keluarga-keluarga itu sangat penting sebagai pusat suatu iman yang hidup dan meyakinkan” (bdk Lumen Gentium 11 dan Familiaris Consortio 21). Pengalaman selama pekan suci telah memperlihatkan kepada anak-anak kita bahwa mesbah dalam keluarga yang kokoh akan menjadi media pendidikan bagi anak-anak akan iman yang hidup, berdaya dan berempati karena menyentuh keseharian kita. Dari mesbah rumah tangga justru “ketabahan dan kegembiraan dalam pekerjaan, cinta saudara sekandung, pengampunan dengan jiwa besar, malahan berkali-kali dan terutama pengabdian kepada Allah dalam doa dan dalam penyerahan hidup (KGK 1657) mendapatkan legitimasinya.

Sekali lagi, Covid-19 mengajarkan kepada kita betapa beriman itu melintas batas, mengatasi ruang dan waktu. Beriman itu menyatukan umat yang beragama sama, sekaligus mengikat sesama dalam solidaritas kemanusiaan yang sama.

 

Beralih dari Realitas Kegelapan

Setelah kita mencermati konteks aktual di atas - dengan tidak mengulangi pesan/homili/khotbah paskah para uskup dan para imam - satu pesan paskah 2020 yang bisa saya tawarkan adalah: kita beralih dari realitas kegelapan: ketakutan, kecemasan, keputus-asaan akibat Covid-19 menuju realitas berpengharapan: manusia yang bergandengan tangan, saling merengkuh dalam cinta, saling menghibur dalam kasih dan saling menguatkan bahkan saling mendahului untuk mengabarkan kebaikan (bandingkan pesan malaikat kepada para perempuan untuk mengabarkan berita gembira kepada para murid di Galilea).

Paskah 2020 di tengah pandemi Covid-19 menggugah cara berteologi (baca beragama dan beriman) kita yang harus berkumpul dalam satu ruang dan waktu menuju cara berteologi baru yang lebih spiritual, saling mengikat diri dalam kesatuan gereja yang katolik, kudus, satu dan apostolik. Gereja model live streaming bisa menjadi sebuah cara berteologi yang lebih penuh harapan di tengah dunia yang sedang terluka dan sekarat (Biarlah konsep ini menjadi pekerjaan rumah bagi para teolog). Gereja live streaming bisa menawarkan kegelapan sekaligus pengharapan. Tinggal bagaimana kita memaknainya. Pemaknaannya – sekali lagi – biarlah itu menjadi pekerjaan para teolog untuk memikirkan dan menjabarkannya bagi kita awam. Selamat Paskah.

Kaki Merapi, 11 April sampai dini hari 12 April 2020

Editor dan penulis buku-buku rohani Katolik, tinggal di Yogyakarta.

Tags:
Paskah Reflksi

Komentar