Breaking News
  • Kemkominfo tunggu Telegram sampai bulan depan
  • KPK ajukan banding terhadap vonis Irman & Sugiharto
  • KPK pantau penanganan kasus korupsi di Malut
  • PKB dan NU siap ke Palestina
  • Presiden akan hadiri Pekan Nasional Perubahan Iklim

SASTRA Harunesia (Puisi) 27 Nov 2016 16:45

Article image
Ilustrasi keramaian di sebuah tempat yang padat aktivitas. (Foto: republika)
"Keramaian adalah ketakutan yang tak berani sendiri..."

Oleh Fridz Embu

 

Untuk semua yang telah gagal

Atas nama semua yang mungkin berhasil

Aku mohon maaf pada nasib

Pada-Mu

 

(I)

Keramaian adalah ketakutan yang tak berani sendiri

Pagi ini kita begitu ribut

(Hanya) karena sepasang kaus kaki

 

Kita selalu ribut karena hal yang percuma

Kenapa tak ada selamat pagi?

Kenapa tak ada hujan?

Kenapa kau tak percaya?

Kenapa Kau tak berdaya?

 

Tiap malam sebelum tidur

Masing-masing orang diharuskan menemukan keributan dan makian baru

Untuk diteriakkan esok pagi

Sayangnya, tak ada yang berani bertanya,

"Untuk Siapa yang mana lagi?"

 

(II)

Akan datang suatu hari

Ketika kata-kata habis

Marah-marah tumpul

Tak ada yang bisa kita bisikan atau bisukan

Pada embun muda di patung pejuang

Pada daun tepi kuburan

Kita tak punya apa apa lagi!

 

Suatu hari

Akan datang suatu hari

Kita mulai jujur pada tubuh kita sendiri

Marah bisa lemas

Ikhtiar bisa gagal

 

Suatu hari

Masing-masing orang akan dinilai

Dengan berapa pasang mata yang ia simpan dan beri makan di wajahnya

 

(III)

Bayangkan kita berdiri

Entah hari apa

Menangisi hujan yang terlambat datang

Meratapi doa-doa yang terlanjur kita isi dengan pecahan beling dan kekosongan

Kembali membaca

Karena yang kita kenal sejak lahir sampai akhirnya pulang

Adalah tidak tahu

Kau aku: sepi debu tanah

Bermain, belajar, menendang, mencium

Dengan kesenangan, ilmu, telapak, dan bibir yang dititipkan orang lain

Setiap kali kita bangun kemah

Kemah yang satu mengurung kemah yang lain tanpa berhenti

 

Sampai suatu hari

Moga-moga hari ini

Kita ingin muntah

Dan yang jatuh ternyata hati jantung kita sendiri

Tak ada orang lain

Meski kitapun sebenarnya orang lain!

 

Maka ketika kota muntah

Yang muntah adalah orang lain

Yang jatuh adalah orang lain

Kemana kita?

Tak ada!

Kita bukan orang lain

Kita sendiri

Menyepi, gaduh, tak dipedulikan

...

 

Atas nama pertemuan yang cuma-cuma

Untuk bibirMu ranum selalu

Bolehkan aku minta?

Kalau nanti mata dan tangan kami rabun

Maukah Kau jadi batu sekali lagi

Di tempat sepi, di kamar kami masing-masing!

***

 

(Bintaro 2016)

 

*) Penulis adalah alumni STFK Ledalero, Flores. Kumpulan puisi pertamanya telah terbit dengan judul '1 Hari Lelaki' (2016) 

Komentar