Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

KESEHATAN Hasilkan ‘bio-ink’, Peneliti Mencetak Kornea Mata Manusia 05 Jun 2018 10:12

Article image
Peneliti Newcastle University menunjukkan hasil cetakan kornea mata (Foto: The Independent)
Tercatat, saat ini terdapat 10 juta orang di seluruh dunia memerlukan operasi untuk mencegah kebutaan kornea akibar dari penyakit tertentu. Sementara 5 juta orang lainnya menderita kebutaan total karena jaringan parut di kornea mata mereka.

NEWCASTLE, IndonesiaSatu.coUntuk pertama kalinya di dunia, para ilmuwan berhasil memproduksi kornea mata manusia dengan printer 3D. Hal ini diperkirakan bisa membantu jutaan orang di seluruh dunia yang menderita kebutaan kornea.

Menurut penelitian, kerusakan pada kornea mata bisa mendistorsi penglihatan dan bahkan mengarah pada kebutaan. Dengan teknik ini, para peneliti di Newcastle University mampu menyediakan kornea dalam jumlah tidak terbatas. Mereka menggabungkan sel induk manusia dari donor sehat dengan kolagen dan alginat, bahan kimia yang sering digunakan untuk menghasilkan anggota badan buatan.

Penelitian proof of concept (pembuktian sistem bisa dijalankan) ini menghasilkan "bio-ink" untuk bio-printer 3D. Printer tersebut bisa mencetak model kornea menggunakan gel, membangunnya dengan menekan tinta tersebut dalam lingkaran konsentris. Hal ini dilakukan hanya dalam waktu 10 menit. Selanjutnya, sel induk ditambahkan dan dibiarkan tumbuh untuk menciptakan kornea yang secara teoretis bisa digunakan dalam transplantasi.

Tercatat, saat ini terdapat 10 juta orang di seluruh dunia memerlukan operasi untuk mencegah kebutaan kornea akibar dari penyakit tertentu. Sementara 5 juta orang lainnya menderita kebutaan total karena jaringan parut di kornea mata mereka.

"Banyak tim di seluruh dunia telah mengejar 'bio-ink' yang ideal untuk membuat proses ini layak dan berhasil," ungkap Che Connon, pemimpin penelitian ini dikutip dari The Independent sebagimana dilansir Kompas.com, Jumat (01/06/18).

Che Connon menerangkan bahwa Gel unik yang dihasilkan yakni kombinasi alginat dan kolagen membuat sel-sel induk tetap hidup sementara (campuran ketiganya) yang menghasilkan bahan yang cukup kaku untuk menahan bentuknya tetapi cukup lunak untuk diperas keluar dari nosel printer 3D.

“Penelitian kali ini didasari dari penelitian yang dilakukan tim sebelumnya. Ini dibangun di atas pekerjaan sebelumnya, di mana kami menjaga sel-sel hidup selama berminggu-minggu pada suhu kamar di dalam hidrogel yang sama. Sekarang kami telah siap menggunakan 'bio-ink' yang mengandung sel induk yang memungkinkan pengguna untuk mulai mencetak jaringan tanpa harus khawatir tentang menumbuhkan sel secara terpisah," terang profesor teknik jaringan di Newcastle University tersebut.

Connon juga menyebut, temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Experimental Eye Research ini menunjukkan bahwa para peneliti mampu memproduksi kornea untuk mencocokkan persyaratan unik pasien. Untuk membuktikan hal itu, mereka memindai mata seorang relawan dan menggunakan data yang sama untuk mencetak satu kornea dengan dimensi yang sama persis.

"Kornea mata cetak 3D kami sekarang harus menjalani pengujian lebih lanjut dan akan beberapa tahun sebelum kami bisa menggunakannya untuk transplantasi. Namun, apa yang ingin kami tunjukkan adalah bisa dan layak untuk mencetak kornea menggunakan koordinat data yang diambil dari mata pasien sehingga pendekatan ini memiliki potensi untuk memerangi kebutaan di seluruh dunia" ujar Connon.

Penelitian ini kemudian mendapat respons baik dari beberapa peneliti lain. Salah satunya Dr Neil Ebenezer, direktur penelitian, kebijakan, dan inobasi di Fight for Sight.

"Kami senang atas keberhasilan para peneliti di Newcastle University dalam mengembangkan printer 3D kornea menggunakan jaringan manusia," kata Ebenezer.

"Penelitian ini menyoroti kemajuan signifikan yang telah dibuat dalam bidang ini dan membawa kita satu langkah lebih dekat untuk mengurangi kebutuhan kornea donor yang akan berdampak positif pada beberapa pasien yang mengalami kebutaan," katanya.

--- Guche Montero

Komentar