Breaking News

HUKUM Hentikan Sementara Penyidikan Kasus Kematian Ansel Wora, Polda NTT Dinilai Cederai Keadilan Hukum 21 Feb 2020 21:46

Article image
Dirkrimum Polda NTT, Kombes Pol Yudi AB Sinlaeloe (tengah) saat menggelar konferensi pers terkait hasil otopsi kematian Anselmus Wora di Mapolda NTT. (Foto: Dok Antara)
Menurut Iryanto, jika Polda NTT dan Polres Ende ingin menjaga marwah institusi dan penegakan hukum, seharusnya meneruskan proses ini.

KUPANG, IndonesiaSatu.co-- Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Polda NTT) akhirnya menghentikan sementara penyidikan kasus dugaan pembunuhan terhadap Anselmus Wora, Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Perhubungan Kabupaten Ende, yang meninggal di Dusun Ekoreko, Desa Rorurangga, Kecamatan Pulau Ende, Kabupaten Ende pada 31 Oktober 2019 lalu.

Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda NTT, Kombes Polisi Yudi AB Sinlaeloe dalam sesi konferensi pers di hadapan para wartawan, pihak keluarga dan Forum Peduli Hukum di Kupang, Jumat (21/2/20) mengatakan bahwa alasan dihentikannya penyiidikan kasus tersebut karena tidak cukup bukti.

"Anselmus Wora yang diduga tewas dibunuh pada 31 Oktober 2019 lalu, ternyata tidak cukup bukti. Sehingga kami memandang penting untuk menghentikan penyidikannya," kata Kombes Sinlaeloe seperti dilansir Tajukflores.com.

Yudi Sinlaeloe menjelaskan bahwa dari hasil pemeriksaan ahli forensik dr. Ni Luh Putu Eny Astuty, yang melakukan autopsi mayat korban, menerangkan bahwa adanya penebalan pembuluh nadi jantung (koroner) kiri depan sebesar 50 persen.

Selain itu, juga ditemukan adanya resapan darah di bawah kulit kepala hampir seluruh bagian, yang mana dapat disebabkan akibat kekerasan menggunakan benda tumpul.

"Selain itu, ditemukan juga kemerahan pada tulang dahi serta otak membubur warna abu-abu bercampur merah yang lazim ditemukan pada otak yang mengalami pendarahan," ujarnya.

Oleh karena itu, kata dia, kasus tersebut, ahli forensik menyimpulkan bahwa pendarahan pada otak korban dapat menjadi penyebab kematian Anselmus Wora.

Polisi juga menyatakan bahwa dari laporan ahli forensik, meninggalnya korban juga akibat pembuluh darah di otak pecah. Sebab, dari informasi yang diterima disebutkan bahwa korban memiliki riwayat hipertensi.

"Sehingga apabila tidak terkontrol, kemungkinan dapat menyebabkan kegawat-daruratan dengan akibat pecahnya pembuluh darah otak. Pernyataan dari ahli forensik yang pertama juga mendapat dukungan dari ahli forensik kedua yakni dr. Arif Wahyono," lanjut Sinlaloe.

Pihaknya juga, kata dia, akan kembali membuka kembali kasus ini jika ada bukti-bukti baru yang ditemukan keluarga korban.

“Kami membuka diri bagi pihak keluarga, yang apabila ingin membuka kembali penyidikan, silahkan kirimkan bukti-bukti kepada kami sehingga kami dapat membantu," katanya.

Janggal dan Cederai Keadilan Hukum

Terhadap putusan hukum yang menghentikan penyidikan kasus oleh Polda NTT, salah seorang tokoh masyarakat Ende di Jakarta, Ignatius Iryanto menilai, jika kasus ini tidak dibuka tuntas maka akan berpotensi menimbulkan gelombang protes yang menasional bahkan bisa mendunia.

"Hasil otopsi sudah ada, bahkan sudah diketahui publik, sehingga tidak ada alasan lagi untuk menghentikan proses ini. Bahkan, Mabes Polri juga sudah mengetahui persoalan ini. Sangat janggal jika dihentikan proses hukumnya. Justru hal ini berdampak pada resitensi publik terhadap rasa keadilan hukum dan perikemanusiaan," nilai Iryanto dalam keterangannya kepada media ini.

Mantan aktivis ini menilai, jika Polda NTT dan Polres Ende ingin menjaga marwah institusi dan penegakan hukum, seharusnya meneruskan proses ini.

"Hal itu penting agar berbagai rumor yang beredar tentang pelaku dan master mind-nya dapat dihentikan dengan membuka kebenarannya. Janganlah yg tidak bersalah menjadi korban fitnah yang terkandung dalam rumor yang beredar," imbuhnya.

Sesepuh Diaspora NTT di Jakarta ini menegaskan bahwa biarkan yang terbukti bersalah mendapatkan hukuman yg setimpal.

"Ini soal nyawa seorang anak manusia yang diduga kuat dibunuh secara berencana. Otopsi menurut berbagai sumber, menegaskan adanya bukti tindak kekerasan terhadap korban bahkan hasil visum et repertum awal di RSUD Ende. Kasus ini harus dibuka, dengan diteruskan proses hukumnya," tandasnya.

Merujuk pada keterangan kepolisian terkait hasil otopsi, Iryanto berdalil, bahwa adanya kekerasan dengan benda tumpul di hampir seluruh bagian, dapat juga menyebabkan pendarahan di otak.

"Bagaimana mungkin fakta adanya tindakan kekerasan pada bagian kepala diabaikan begitu saja dalam analisa forensik. Secara logika sederhana, sulit diterima bahwa pecahnya pembuluh darah di otak mengakibatkan luka luar bagian kepala seperti ini. Namun, pukulan benda tumpul yang keras di kepala dapat menimbulkan luka dan pecahnya pembuluh darah serta membuburnya isi otak," timpalnya.

Iryanto merekomendasikan agar jika pihak keluarga merasa kecewa dan keberatan dengan hasil otopsi, maka keluarga dapat meminta ahli forensik lain yang lebih kredibel dan profesional guba memastikan sebab kematian korban.

"Pasalnya, menurut keterangan pihak keluarga, korban Ansel Wora tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Masih ada upaya hukum dan keadilan yang dapat ditempuh oleh keluarga dan publik yang terus menyoroti penuntasan kasus ini," pungkasnya.

--- Guche Montero

Komentar