Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

INTERNASIONAL Hentikan Senjata Kimia, Inggris dan Prancis Siap Serang Suriah 13 Apr 2018 10:42

Article image
Tim ahli senjata kimia PBB dalam sebuah penyelidikan bukti-bukti pasca serangan senjata kimia Suriah. (Foto: Reuters)
Rencana Prancis diumumkan setelah Presiden Macron mengantongi bukti bahwa rezim al-Assad menggunakan chlorine sebagai senjata kimia dalam serangan ke kota Douma.

LONDON, IndonesiaSatu.co -- Pemerintahan Inggris mendapat dukungan pejabat seniornya untuk melancarkan tindakan balasan terhadap otoritas Suriah yang telah menggunakan senjata kimia pada awal April lalu di kawasan Douma, Suriah.

Dikutip dari welt.de, Jumat (13/4/2018), Perdana Menteri Inggris Theresa May diinformasikan telah berbicara dengan Pesiden AS Donald Trump mengenai Suriah dan menyimpulkan bahwa Presiden Suriah Basha al-Assad telah melakukan serangan dengan menggunakan senjata kimia. Keduanya menegaskan, langkah al-Assad sangat berbahaya dan mesti dibalas dengan aksi serius.

Selain Inggris, Prancis juga siap melakukan aksi militer untuk menghentikan serangan senjata kimia Suriah. Presiden Emmanuel Macron menyatakan, aksi militer akan menargetkan semua jaringan dan fasilitas kimia rezim al-Assad di Suriah.

Rencana Prancis diumumkan setelah Presiden Macron mengantongi bukti bahwa rezim al-Assad menggunakan chlorine sebagai senjata kimia  dalam serangan ke kota Douma.

Sementara itu, Presiden al-Assad membantah tudingan terkait serangan senjata kimia. Ia mengeluarkan peringatan kepada negara-negara Eropa dan AS untuk tidak melakukan langkah-langkah militer yang justru memperparah keadaan di Suriah dan keamanan global.

 “Setiap aksi militer hanya akan mengacaukan upaya perdamaian di dunia serta memperparah kondisi di Suriah,” tegas al-Assad dalam pertemuan dengan perwakilan Iran di Damaskus, seperti dikutip dari welt.de

--- Rikard Mosa Dhae