Breaking News
  • Ada 70.000 ibu hamil dan menyusui di antara pengungsi Rohingya
  • ASEAN Para Games - Doni Yulianto sumbang emas nomor kursi roda 1.500m
  • Kemenperin buka rekrutmen PNS untuk 380 formasi
  • Malaka, NTT diguncang gempa
  • Menhub: uji coba Transjabodetabek hasilnya kurang maksimal

OPINI Hidup adalah Mencinta (Menurut Gabriel Marcel) 14 Feb 2017 10:35

Article image
Cinta (mencintai-dicintai) akan membuat kita memiliki pesona dalam kehidupan. (Foto: Ist)
Hidup adalah mencinta, karena jika kita kehilangan cinta, kasih sayang dan kebaikan dalam hidup ini, maka kita kehilangan semua yang dapat memberi pesona pada kehidupan.

Oleh Nova Lumempouw

 

Realitas dan pengalaman hidup manusia kini menunjukkan begitu banyak konflik yang terjadi dalam hubungan antarmanusia. Benarlah yang dikatakan seorang filsuf Jean Paul-Sartre, manusia adalah “neraka bagi orang lain”. Konflik merupakan inti setiap hubungan antar manusia. Begitu banyak konflik dalam hubungan antarmanusia yang kini bisa kita lihat, mulai dari konflik antar negara sehingga terhadi peperangan, konflik antar agama dan suku dan budaya, konflik dalam pekerjaan, konflik antara suami dan isteri sehingga terjadi begitu banyak perceraian, konflik orang tua dan anak, konflik antar kelompok, konflik antar sahabat, dan konflik antara sepasang kekasih yang saling mencintai. dan begitu banyak konflik lain yang terjadi.

Jika begitu banyak konflik yang terjadi, apakah ada rasa saling menghargai? Menghormati? Adakah cinta? Apakah cinta masih bernilai? Berangkat dari pemikiran seorang Gabriel Marcel, kita mencoba memahami konflik dari sudut pandangan hidup yang bermakna, sebagai titik pijak mendalami pertanyaan selanjutnya tentang cinta. Tulisan ini juga kiranya mungkin menjadi tambahan refleksi di momen Hari Kasih Sayang (Valentine Day), yang tepat dirayakan pada hari ini.

Hidup bermakna dalam konflik

Saya pertama-tama mulai dari gagasan Marcel tentang hidup bermakna. Hidup yang “bermakna” bagi Marcel, terwujud apabila situasi-situasi fundamental saya melibatkan seluruh eksistensi saya sehingga memuaskan budi serta pikiran dan mencapai kemungkinan optimalnya. Manusia seringkali cenderung individualistis dengan mengutamakan ke “aku”-annya. Akibatnya, muncul ketidakpekaan terhadap keberadaan orang lain di sekitarnya. Jean-Paul Sartre merumuskan manusia sebagai seorang “bagi dirinya”, yaitu makhluk yang hidup dengan sadar dan bebas untuk diri sendiri. Itulah sebabya ia sedemikian berpangkal pada dirinya, sehingga orang lain dilihat sebagai ancaman bagi kebebasannya.

Dengan mengingat bahwa tiap orang adalah seorang “bagi-dirinya”, maka manusia harus mencoba untuk mempertahankan otonomi itu dan menolak tiap-tiap pendekatan orang lain yang bermaksud mengurangi kemandiriannya dan kebebasannya. Maka dari itu hubungan antarpribadi adalah medan yang penuh ketegangan dan konflik terus-menerus antara oknum-oknum yang masing-masing bertekad dan memang mesti begitu untuk mempertahankan diri. Ego atau “aku” mempunyai peran utama untuk menghidupkan situasi kebersamaan serta persekutuan yang baik dan bermakna. Artinya diri kita sendiri memiliki peran penting dalam membangun hidup yang lebih bermakna.

Marcel meyakini bahwa “aku” hanya mungkin mencapai kesempurnaan, kalau ia mengarahkan diri kepada orang lain atau “engkau”. Pada dasarnya manusia itu terbuka terhadap orang lain, sehingga tanpa menghayati itu hidupnya mustahil memadai bagi panggilannya yang paling inti. Ada dua bentuk refleksi dalam hidup, refleksi yang pertama adalah yang bersifat objektif di mana semua yang terjadi dalam hidup di pandang dengan terpilah-pilah dalam ruang dan waktu, di pandang sebagai problem/konflik.

Sedangkan refleksi yang kedua, memandang bahwa kehadiran orang lain dalam hidup adalah misteri. Kehadiran yang dimaksud tidak hanya hadir begitu saja, tetapi kehadiran yang sunguh-sungguh mempengaruhi hidup Yang lain, sebaliknya Yang lain juga hadir mempengaruhi hidupku. “Kehadiran” ini direalisasikan secara istimewa dalam cinta. Keterbukaan adalah suatu sikap dari subjek untuk dapat dengan rela mengenal dan dikenal oleh orang lain. Jika individu telah bersedia untuk bersikap terbuka terhadap diri sendiri dan orang lain maka berbagai tendensi untuk mengobjektivikasi dan memanipulasi diri sendiri dan orang lain mutlak tidak akan dilakukan.

Fundamen dari cara berada manusia adalah dorongan untuk selalu mengarah kepada keterbukaan kepada yang lain sehingga manusia tak dapat hidup sendiri dan terisolasi. Manusia harus berada dalam hubungan kekeluargaan atau yang oleh Marcel disebut sebagai hubungan intersubjektif (kehadiran, perjumpaan, dan kebersediaan) kita untuk mencintai orang lain.

Hidup adalah mencinta

Dalam pandangan Marcel, cinta berasal dari hakikat terdalam dalam diri manusia. Cinta masuk ke dalam diri manusia seperti sebuah panggilan: cinta memanggil manusia untuk mencintai orang lain. Cinta merupakan sebuah pengalaman konkret dan personal yang hanya dapat dirasakan dan dipahami oleh orang yang terlibat di dalamnya, orang yang dicintai dan orang yang mencintai.

Marcel memberikan distingsi antara mencintai sebagai sebuah fakta objektif dan cinta sebagai sebuah aktivitas eksistensial. Cinta sebagai sebuah kegiatan eksistensial berarti, cinta adalah suatu “proses gerakan batin yang tidak kelihatan” (Haryadi, 1994, p.76). Mencintai mengandung makna kesinambungan bahwa mencintai adalah suatu proses yang terus berlangsung dan tak pernah berhenti. Saya mencintai kamu berarti saya mencintai kamu sepanjang waktu, dan disepanjang waktu itu pula lah saya tidak akan pernah berhenti mencintaimu.

Marcel mengatakan bahwa mencintai berarti mengatakan “kamu tidak akan mati” artinya, meskipun orang yang kita cintai telah meninggal, ia akan tetap ada, di cintai dalam hati kita. Sementara itu, sebagai sebuah fakta objektif mencintai berarti mencintai telah terjadi, kelihatan, dan bisa diamati. Karena itu, cinta bisa ditempatkan dalam kategori ruang dan waktu dan bisa dideskripsikan.

Memandang cinta sebagai sebagai fakta berarti kita melihat cinta sebagai problem karena jika kita hanya mencintai karena apa yang kelihatan, dia ganteng, dia kaya, dia cantik, dia sexy, dan lain-lain. Maka jika kegantengan, kekayaan, kecantikan itu hilang maka cintapun ikut lenyap. Sedangkan apabila cinta dipahami sebagai suatu aktivitas eksistensial, cinta akan menjadi misteri. Kita mencintai dengan hati, mencintai dari kekurangan, selalu hadir, terbuka, bersedia untuk selalu setia.

Mencintai seperti gambaran Marcel mungkin terlalu ideal, karena seperti yang dikatakan oleh Sartre bahwa hidup adalah pertentangan semata-mata, namun konflik itu jelas bukan merupakan hubungan yang autentik. Kita harus melihat apa yang bermakna, karena pada dasarnya manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain, manusia selalu terarah kepada orang lain. Bahwa dalam hidup, ketika kita bersedia, terbuka, dan menghargai keberlainan dengan sesama maka kita tidak hidup dengan sia-sia. Kita memberi makna. Kita menghargai, mencintai, menghormati, dan berlaku setia untuk orang-orang yang kita cintai yang hadir dalam kehidupan kita.

Dalam kehidupan bermasyarakatpun, dari satu sisi konflik-konflik juga bisa memperlihatkan dinamika kehidupan masyarakat yang tampil secara nyata dalam pengalaman kita sehari-hari dimana nilai-nilai saling diperjuangkan dan bertabrakan satu sama lain. Namun, perlu disadari bahwa konflik-konflik itu seharusnya bermuara pada upaya pembangunan manusia agar bisa hidup bersama, perlu saling menghormati sebagai “manusia” dan bukan sebagaimana dikhawatirkan Marcel menjadi arena unjuk rasa, semacam “teknik degradasi” dimana orang memperlakukan orang lain, bukan sebagai “sesama”nya yang mampu berbicara dan berpendapat, tetapi sebagai “barang rongsokan” yang bisa diperlakukan semena-mena untuk bisa dimanipulasi.

Marcel menegaskan bahwa hidup bersama seharusnya menjadi kesempatan dialogal, saling berbagi antarpribadi. Kehadiran orang lain tidak berada dalam posisi mengeliminasi tetapi sebagai partner dialog. Dalam hubungan antargamapun masih di lihat sebagai “problem-problem” yang harus dipecahkan, seolah-olah sama dengan ketika orang harus berhadapan dengan lawan politiknya dalam kancah persaingan atau perebutan kuasa dan pengaruh.

Bagi Marcel, hubungan antarmanusia dalam level religius kiranya harus merasuki dunia hubungan antarpribadi, yaitu di mana yang ada hanyalah keinginan terdalam setiap orang untuk saling menaruh hormat dan cinta serta menerima yang lain sebagai “engkau”. Kebersediaan untuk menerima keberlainan, keunikan orang lain. Hidup adalah mencinta, karena jika kita kehilangan cinta, kasih sayang dan kebaikan dalam hidup ini, maka kita kehilangan semua yang dapat memberi pesona pada kehidupan.

*Nova Lumempouw adalah Mahasiswa Magister Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

Komentar