Breaking News

REFLEKSI Hidup Baik, Jujur, Berintegritas 26 Nov 2020 10:02

Article image
Ilustrasi gambar. (Foto: Dharma for Life)
Orang yang cerdas secara emosional adalah orang yang memiliki integritas dan kejujuran yang sempurna

Oleh Valens Daki-Soo



PERNAH saya dengar ucapan seorang pengusaha besar, "Saya sangat senang dan bersyukur kalau para karyawan saya pintar dan jujur. Tapi kalau harus memilih antara pintar dan jujur, saya akan memilih yang jujur. Yang tidak pintar bisa dibikin pintar dengan kursus atau pelatihan. Namun yang tidak jujur sulit dibentuk untuk jadi jujur."

Ketika media massa kemarin menyiarkan berita tentang penangkapan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo oleh KPK, saya malah teringat pada para guru saya semasa SD. Apalagi penangkapan itu bertepatan dengan momentum Hari Guru Nasional. Apa hubungannya?

Guru adalah pendidik dan pembentuk karakter atau kepribadian anak didik (tentu saja selain orang tua dan lingkungan). Setidaknya saya alami itu pada masa kecilku. Kami diajarkan untuk tidak hanya menjadi cerdas, tapi dididik supaya menjadi pribadi yang baik dan jujur. Menyontek dilarang keras. Kalau harus tahan kelas (ulang kelas), tidak apa-apa, yang penting jujur, tidak menyontek.

Ketika dibina di seminari (lembaga pendidikan para calon imam Katolik), baik di seminari menengah (SMP-SMA) maupun seminari tinggi, kami ditempa agar hidup dengan nilai-nilai dasar kehidupan. Menjadi pribadi yang jujur, punya integritas dan karakter kuat adalah tujuan atau buah dari pendidikan di lembaga tersebut. Tentu saja semua lembaga pendidikan punya tujuan yang sama.

Rasa hormat dan terima kasih pantas dihaturkan kepada mereka, para guru. Mereka mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan dan mencerahkan hidup orang lain. Mereka menolong orang lain menjadi sukses dalam banyak makna dan hal, termasuk sukses dalam ekonomi-finansial, bahkan melampaui mereka sendiri.

Cara membalas kebaikan dan jasa mereka adalah dengan hidup baik, jujur, berintegritas.

Christopher D. Connors, penulis, pelatih eksekutif & pembicara kecerdasan emosional di beberapa televisi kenamaan AS: Fox, ABC, CNBC pernah menulis, kejujuran bukan hanya tentang mengatakan yang sebenarnya. Ini tentang menjadi nyata dengan diri sendiri dan orang lain tentang siapa Anda, apa yang Anda inginkan, dan apa yang Anda butuhkan untuk menjalani hidup Anda yang paling otentik (medium.com, 17 September 2016).

Kebalikan dari kejujuran adalah penipuan - atau kebohongan. Berbohong sama buruknya apakah Anda menipu orang lain atau diri Anda sendiri. Saat Anda berbohong, Anda menipu diri sendiri untuk memercayai apa yang Anda katakan. Anda mulai menggali parit hipotetis, bahkan jika dengan sendok bayi, yang akan terus membesar dari waktu ke waktu. Anda membingungkan diri sendiri, membingungkan orang lain, kehilangan kredibilitas dan membahayakan diri sendiri.

Jenis kebohongan terburuk yang kita praktikkan, untuk menipu, adalah ketika kita membohongi diri sendiri. Kita mulai mengotak-atik konsep moralitas, benar dan salah, serta impian dan keinginan kita. Saat-saat ketika saya berbohong untuk melakukan sesuatu yang saya tahu salah, saya bisa merasakannya. Inti batin saya berperang dan memberontak terhadap apa yang secara mental saya lakukan karena itu berbeda dengan siapa saya sebenarnya.

Orang yang cerdas secara emosional adalah orang yang memiliki integritas dan kejujuran yang sempurna; seseorang yang dapat melihat dan mengenali kualitas kejujuran orang lain. Transaksi bisnis dan transaksi sehari-hari hubungan manusia harus dilakukan dengan kode kepercayaan dan kejujuran atau semuanya akan rusak.

Sungguh suatu pengkhianatan terhadap para guru jika kita hidup dengan tipu daya alias ketidakjujuran.

Banyak pejabat kita hidup dengan "life style" yang tinggi. Gaji sebenarnya tidak besar, tapi mereka hidup glamour, hidup mewah yang tidak sesuai pendapatannya. Bagaimana mereka bisa hidup mewah? Korupsi. Itulah pengkhianatan besar yang mereka lakukan karena tak tahan terhadap silau materi dan pesona uang. Boleh jadi ada pejabat yang kaya karena warisan atau bisnis sampingan, namun yang macam itu mungkin tidak banyak.

Semoga kita bisa menjadi pribadi yang selalu jujur. Di tengah situasi yang diwarnai persaingan ketat, mungkin orang bisa melakukan apa saja, termasuk dengan menjadi tidak jujur. Di sinilah kepribadian dan suara hati kita diuji, apakah kita tetap mampu menghidupi nilai-nilai ideal yang diajarkan para guru.

Setiap kali ada OTT atau penangkapan pejabat tinggi karena kasus korupsi, saya (dan mungkin Anda juga) selalu berkaca diri: Apakah saya tetap bisa setia kepada nilai-nilai, suara hati dan idealisme-ku sendiri? Dengan selalu melibatkan Tuhan dalam hidup dan setiap gerak langkah, saya yakin kita bisa.

Komentar