Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

REFLEKSI Hidup Dengan Keyakinan dan Harapan 15 Aug 2018 11:15

Article image
Hidup penuh keyakinan dan harapan. (Foto: kubikleadership.com)
Untuk menjadi pribadi bahagia dan sukses dalam hidup yang memang tak selalu mudah ini, kita perlu memperkuat keyakinan dan harapan sebagai energi kehidupan.

Oleh Valens Daki-Soo

 

PAGI tadi sekitar pukul 05.45 WIB saya mulai jalan kaki berkeliling kompleks perumahan, menelusuri gang-gang, menikmati kicauan riang burung-burung pipit, dan meresapi aura hijau pepohonan. Pukul 07.15 saya berhenti berolahraga ditutup senam ringan.

Saat berjalan kaki tadi, lebih dari sekali saya berpapasan dengan seorang bapak tua, mungkin sekitar 70-an tahun usianya. Langkahnya masih cukup gagah, dan wajahnya teguh menghadap ke depan. Saya sempat menyapa bapak tua itu, "Bapak hebat ya... Masih bersemangat olahraga saat banyak orang setua bapak masih tidur. Apa yang bikin Bapak semangat?"

Pelan tapi tegas bapak tua yang ternyata pensiunan TNI ini menyahut, "Saya ingin tetap sehat. Saya masih ingin lebih lama menikmati hari senja dengan cucu-cucu saya."

Bapak tua ini hidup dengan keyakinan dan harapan. Keyakinan bahwa meski usianya sudah senja dia tetap mampu menikmati kehidupannya. Harapannya adalah bahwa dia tetap bisa melewatkan waktu terbaiknya bersama para anak cucu. Keyakinan dan harapan adalah energi psikospiritual manusia yang termanifestasi dalam sikap, perkataan dan tindakan nyata.

Keyakinan dan harapan sebenarnya merupakan dorongan kodrati manusia. Dalam keterbatasan kodratinya pula manusia ingin melampaui itu dengan kekuatan keyakinan dan harapan. Keyakinan dan harapan menstimulasi kekuatan bawah sadar kita untuk terus berjuang, mengatasi rintangan, menghalau godaan, menjawabi tantangan, mengeksekusi keputusan.

Dalam perspektif religius, manusia yakin dan berharap kepada Tuhan, "The Supreme Being" (Sang Ada Tertinggi) yang disapa dalam bahasa manusia dengan aneka sebutan: Deus, Theos, God, Allah, Tuhan, dan sebagainya. Keyakinan dan harapan menyemburkan kekuatan spiritual yang memampukan manusia memberi makna bagi kehidupan sekaligus menghidupinya.

Dengan keyakinan dan harapan, manusia lebih mungkin untuk bahagia. Seorang psikolog, Dr. Marthin Seligman dari Universitas Pennsylvania AS pernah melakukan eksperimen untuk mengetahui penyebab tekanan kejiwaan. Antara lain dia mengatakan, tekanan jiwa sering melanda dan menjadi penyebab ketidakbahagiaan bagi orang yang menganggap hidupnya tidak berarti lagi. Orang semacam ini memiliki "keyakinan negatif" bahwa dia tak mampu mengatasi tantangan hidup sekecil apapun. Orang dengan tekanan jiwa seperti ini perlu diterapi agar dapat menemukan kembali arti hidup dan sanggup mengendalikan sikapnya dalam kesukaran atau persoalan hidup.

Untuk menjadi pribadi bahagia dan sukses dalam hidup yang memang tak selalu mudah ini, kita perlu memperkuat keyakinan dan harapan sebagai energi kehidupan. Jika Anda sudah melangkah sejauh ini, berarti Anda sudah mampu melewati masa-masa sulit bahkan mungkin paling berat. Itu hanya mungkin terjadi jika dan karena Anda menggenggam kuat keyakinan dan harapan.

Dalam teori psikologi tentang perkembangan, harapan merupakan salah satu elemen penting. Ada yang mendekskripsikan harapan sebagai emosi yang diarahkan oleh kognisi dan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan (J. Lopez, 2009). Gottschalk menyebut harapan sebagai tenaga positif yang mendorong seseorang untuk bekerja melalui keadaan sulit. Begitu juga Synder menulis, harapan adalah kemampuan untuk merencanakan jalan keluar dalam upaya mencapai tujuan walaupun dihadang banyak rintangan (Carr, 2004).

Pendek kata, harapan adalah kondisi mental positif pada seseorang yang yakin pada kemampuannya untuk mencapai tujuan atau cita-cita di masa depan.

Nah, Anda masih ingat lagu jadul yang romantis dan didendangkan duet legendaris, Muchsin Alatas dan Titiek Sandhora, "Percaya, harapan dan cinta // Untuk semua // Percaya, harapan dan cinta // menjadi satu..."

Percaya, harapan dan cinta -- itulah energi dahsyat yang bikin seorang pria tangguh tetap sabar menanti kehadiran sang kekasih idaman hati, betapapun berat medan hidupnya.

Percaya, harapan dan cinta -- ini semburan deras kekuatan batin yang hendaknya selalu membuncah di jiwa kita agar tetap kuat, sehat, sukses dan terutama bahagia.***

 

Penulis adalah penikmat psikologi, Pendiri dan CEO PT Veritas Dharma Satya (VDS Group), Pendiri/Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

Komentar