Breaking News

REFLEKSI Hidup Perlu Dirancang dan Direncanakan 25 Jun 2020 15:33

Article image
Ilustrasi kehidupan yang perlu dirancang dan direncanakan. (Foto: What’s Your Grief)
Kalau tujuan besar hidup saya adalah bahagia dan sukses, maka saya perlu menata hidup ini dari hari ke hari sebagai "proses sedang mengalami sekaligus sedang menuju" kebahagiaan dan kesuksesan.

Oleh Valens Daki-Soo

 

"KALAU saya sih yang penting jalani saja hidup ini. Biarlah mengalir seperti air."
Anda sering dengar 'ungkapan bijak' ini?

Saya tidak sepakat. Kata-kata di atas mungkin sebuah salah kaprah yang terlanjur dianut banyak orang di masyarakat. Bagi saya, yang mengalir saja mengikuti arus air adalah sampah dan ikan mati. Sebaliknya, hidup kita perlu direncanakan, dirancang, didisain.

Adalah seorang aktor dan seni bela diri legendaris lewat film-film Kungfu ke seluruh penjuru dunia yang mengajarkan kebijaksanaan tentang “be water” (menjadi air). Siapa lagi kalau bukan Bruce Lee? Bruce Lee pernah mengatakan:

“Don’t make a plan of fighting
that is a very good way to lose your teeth
if you try to remember you will lose
Empty your mind
be formless
shapeless
like water
put water into a cup
becomes the cup
put water into a teapot
becomes the teapot
water can flow or creep or drip or crash
be water my friend”

Lukas Schwekendiek (seorang life coach, pembicara, dan kolumnis TIME, Inc.com & Huffington Post), menulis, perbedaan pandangan tentang apa yang dimaksudkan Bruce Lee, tergantung pada pertanyaan apa yang membawanya ke pernyataan ini. Tetapi jika kita asumsikan dia berbicara tentang kehidupan, maka apa yang dia maksudkan adalah ini:

Air tidak berbentuk, oleh karena itu ia dapat beradaptasi dengan setiap bentuk.

Namun, Anda seringkali terlalu kaku.

Ketika sebuah situasi muncul yang Anda pikir tidak bisa Anda tangani, rasa takut akan menyalib Anda dan Anda berubah menjadi tidak berdaya.

Anda tidak beradaptasi dengan keadaan Anda, tidak berurusan dengan situasi, dan malah mengeluh tentang hal itu, dan bahkan menyalahkannya.

Ketika menghadapi situasi storm in a teacup (badai dalam cangkir teh), Anda meneriakinya dan menyalahkan lingkungan untuk membentuk Anda menjadi bentuk yang tidak cocok. Badai dalam cangkir teh adalah ungkapan yang menggambarkan tentang orang yang merasa kesal tentang sesuatu yang sama sekali tidak penting.

Anda membiarkan kontrol masa lalu Anda dan tetap kaku pada bentuk Anda, yang berarti Anda hanya cocok dengan situasi tertentu dan menindas orang lain.

Ketika air menabrak objek, ia menyebar dan membentuk lagi, tetapi ketika sebuah kotak, misalnya, menabrak objek itu, ia hancur berkeping-keping.

Saat ini, Anda seperti kotak itu, mencoba untuk memaksa diri Anda menyesuaikan diri dengan situasi yang berbeda, hancur berkeping-keping, menghancurkan semangat Anda sendiri.

Apa yang dimaksud Bruce Lee dengan kutipannya "Jadilah seperti air temanku" adalah bahwa Anda tidak harus memegang citra Anda sendiri dengan ketat.

Anda bukan masa lalu Anda, Anda bukan objek yang dibentuk orang sesuka mereka; Anda hanyalah air yang sementara waktu diambil pada bentuk itu.

Anda bisa sukses tidak peduli awal Anda. Jadilah apa pun yang Anda suka dan sesuaikan diri dengan situasi apa pun.

Berhentilah mencoba untuk membuat cangkir teh menyesuaikan diri dengan Anda. Sebaliknya, sesuaikan diri Anda dengan cangkir teh.

Masalah muncul sepanjang waktu dalam hidup, dan Anda dapat mencoba menjaga bentuk tubuh Anda yang kaku, menabrak masalah sampai salah satu dari Anda pecah, atau Anda bisa seperti air dan menyelinap melalui celah.

 

Hidup dengan tujuan

Kita perlu hidup dengan tujuan jelas disertai usaha maksimal agar bisa mencapai tujuan itu. Tentu saja perjuangan itu mesti dibarengi doa.
Perjuangan itu berhasil atau tidak, sebagai orang beriman kita yakin itu bergantung pada usaha+doa kita ditambah restu Daya Ilahi.

Misalnya, salah satu tujuan hidup saya dari aspek ekonomi adalah memiliki kebebasan finansial (financial freedom). Maka saya perlu bahkan mesti mengelola arus pemasukan dan pengeluaran (cashflow) saya sebaik-baiknya. Saya mesti hidup sederhana meski pemasukan (income) saya terus meningkat. Saya tentu perlu berbagi kebaikan dan rejeki dengan sesama, namun tak berarti saya mengabaikan kesejahteraan pribadi/keluarga saya. Bila perlu saya berkonsultasi dengan konsultan keuangan agar aspek finansial saya 'aman terkendali'.

Kalau tujuan besar hidup saya adalah bahagia dan sukses, maka saya perlu menata hidup ini dari hari ke hari sebagai "proses sedang mengalami sekaligus sedang menuju" kebahagiaan dan kesuksesan. Saya perlu mengendalikan diri secara emosional dan mengolah batin secara spiritual agar terjadi keseimbangan dan keselarasan.

Orang yang hidup seimbang dan selaras lebih mudah mengalami kebahagiaan.

 

Penulis adalah peminat filsafat-teologi, CEO VDS Group, Pendiri/Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

Komentar