Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

REFLEKSI Hidup Sehat Untuk Bahagia 02 Sep 2018 15:03

Article image
Di kota besar maupun di kampung-kampung sekarang ini banyak orang sudah tidak terbiasa bergerak untuk sehat dengan olahraga. (Foto: Sandstone Trail)
Jangan menunggu pesta untuk menari. Menarilah kapan saja pada waktu dan tempat yang tepat. Silakan putar musik pemberi semangat, semacam "energizer" bagi Anda untuk meloncat atau meliuk-liuk menari.

Oleh Valens Daki-Soo

 

AYAH saya berusia 83 tahun. Ketika saya mengantar beliau ke RSPAD Gatot Subroto Jakarta untuk periksa kesehatan, hasilnya bagus sekali. Dokter pun tampak takjub. Saya menduga karena bapa tua semasa muda hingga senja usia suka jalan kaki. Lalu pola makan jarang makan daging dan kebanyakan makan ikan juga mendukung. Faktor pendukung lain, Bapa Joseph (nama sang ayah) jarang stres. Beliau sangat kalem, tenang, dan banyak berdoa.

Belakangan ini saya dengar ada teman-teman sebaya yang mengidap diabetes. Para dokter tentu lebih paham menjelaskannya secara ilmiah-medis. Namun, secara awam dapat saya utarakan salah satu penyebabnya adalah pola hidup (termasuk pola makan), selain faktor genetis.

Prof Yuval Noah Harari dalam bukunya "Homo Deus: A Brief History of Tomorrow" (2015) mengingatkan, "Saat negara-negara terfokus mengentaskan orang miskin dari kemiskinan mereka, kita justru menemukan pembunuh terbesar umat manusia. Bukan lagi kurang gizi, penyakit menular atau terorisme, melainkan gula."

Menurut sang profesor, ada paradoks antara "eating too little" (makan terlalu sedikit) yang mengakibatkan kurang gizi dan "eating too much" (makan terlalu banyak) yang menyebabkan obesitas dan diabetes.

Menurut hasil survei Balitbangkes, tiga pembunuh terbesar manusia Indonesia dewasa ini adalah diabetes, stroke dan penyakit jantung.

 

Malas bergerak

Di kota besar maupun di kampung-kampung sekarang ini banyak orang sudah tidak terbiasa bergerak untuk sehat dengan olahraga. Bahkan hanya untuk ke kios/warung yang dekat dengan rumah, orang naik sepeda motor. Bertandang ke tetangga yang cuma puluhan atau seratusan meter pun pakai sepeda motor. Ojek laku di mana-mana baik untuk jarak jauh maupun (sangat) dekat. Lalu kapan bisa "gerak badan" untuk kesehatan dan kebugaran raga yang berdampak pula pada kemantapan jiwa?

Mungkin para kerabat dumay sampai bosan, karena saya sangat sering bagikan/unggah foto sedang berolahraga. Sebenarnya salah satu motif saya adalah merangsang semangat para kerabat untuk ikut berolahraga. Tentu saja, ajakan ini tidak berlaku bagi mereka yang sudah jadikan olahraga sebagai rutinitas.

Olahraga paling murah meriah adalah jalan kaki. Saya setiap hari jalan kaki 45 menit hingga satu jam. Olahraga lain adalah pelengkap. Anda bisa lakukan yang sama demi kesehatan dan kebugaran, yang secara langsung berimbas pada produktivitas Anda di kantor dan aktivitas Anda di rumah ataupun di ranah sosial lainnya.

Jangan menunggu pesta untuk menari. Menarilah kapan saja pada waktu dan tempat yang tepat. Silakan putar musik pemberi semangat, semacam "energizer" bagi Anda untuk meloncat atau meliuk-liuk menari. Berdansalah dengan pasangan Anda sambil dengar musik dan mungkin bisa berakhir dengan aktivitas bercinta. Seks itu sehat bila dilakukan penuh cinta dengan pasangan dan manfaatnya sama dengan olahraga.

Bergeraklah agar sehat dan bahagia.

 

 Penulis adalah CEO VDS Group, Pendiri/Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

Komentar