Breaking News
  • 12 parpol lama lolos verifikasi faktual
  • 150 ton bahan narkoba asal China gagal masuk ke Indonesia
  • Eropa murka, siap jawab tantangan perang dagang Donald Trump
  • KM Pinang Jaya tenggelam di Laut Jawa akibat cuaca buruk
  • Presiden Jokowi masih pertimbangan Plt Gubernur dari Polri

INTERNASIONAL Hingga 2018, OPEC dan Rusia Sepakat Perpanjang Pemangkasan Produksi Minyak 03 Dec 2017 10:54

Article image
Kesepakat Negara OPEC dan Rusia di Vienna, Austria (Foto: Reuters)
"OPEC dan sejumlah negara produsen lainnya menyepakati kesepakatan baru yang berlangsung selama Januari hingga Desember 2018. Kesepakatan ini akan ditinjau ulang pada pertemuan selanjutnya yang berlangsung pada Juni 2018 mendatang. Peninjauan ulang terse

VIENNA, IndonesiaSatu.co-- Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Rusia sepakat untuk memperpanjang pemangkasan produksi minyak hingga akhir 2018. Kesepakatan ini diperoleh dalam pertemuan di Vienna, Austria Minggu (3/12/17).

Dilansir CNBC keputusan perpanjangan kesepakatan ini sudah diprediksi sebelumnya. Pasalnya, sebelum pertemuan tersebut, sejumlah negara produsen sudah mengindikasikan perpanjangan pemangkasanakan akan disepakati jika kondisi pasar sudah "overheating".

Pemangkasan produksi minyak sebanyak 1,8 juta barrel per hari (bph) sebelumnya juga telah dilakukan pada musim dingin lalu oleh 14 negara anggota OPEC, Rusia, dan sembilan negara produsen lainnya. Kesepakatan awal seharusnya berakhir pada Maret 2018.

“Ketimbang memperpanjang pemangkasan produksi selama sembilan bulan, OPEC dan sejumlah negara produsen lainnya menyepakati kesepakatan baru yang berlangsung selama Januari hingga Desember 2018. Kesepakatan ini akan ditinjau ulang pada pertemuan selanjutnya yang berlangsung pada Juni 2018 mendatang. Peninjauan ulang tersebut dilakukan untuk melihat apakah pemangkasan produksi berdampak pada harga minyak dan pasokan minyak global,” ungkap Presiden OPEC yang juga Menteri Energi Arab Saudi, Khalid Al-Falih.

Adapun Nigeria dan Libya, dua anggota OPEC yang dikecualikan dalam kesepakatan ini, setuju untuk tidak meningkatkan produksi pada tahun depan.

"Kepada pasar, kami sampaikan tidak ada kejutan yang diharapkan dari Libya dan Nigeria," tegas Presiden Khalid.

Namun kesepakatan tersebut tidak memasukkan produksi minyak serpih AS. Oleh karena itu, ada kekhawatiran bahwa peningkatan harga minyak yang sebagian besar disebabkan pemangkasan produksi minyak, akan memicu produsen minyak serpih AS akan mennggenjot produksinya.

--- Guche Montero

Komentar