Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

TOKOH Hj. Upik Rofiqoh Imanulhaq: Ambil Hikmah, Hindari Fitnah 20 Jun 2017 11:13

Article image
Hj. Upik Rofiqoh Imanulhaq Bersama suami KH. Maman Imanulhaq. (Foto: ist)
Didikan pesantren dan kedekatannya dengan ulama besar seperti KH. Ali Imran, Gus Dur, KH. Abddurrahman Wahid, Habib Luthfi bin Yahya dan KH. Said Aqil Siradj mengokohkan kecintaannya pada Islam dan Indonesia.

NAMA KH. Maman Imanulhaq sedang naik daun. Sebagai seorang politisi, pamor suami dari Hj. Upik Rofiqoh Imanulhaq terus menanjak. Sebagai tokoh publik, kiprahnya tidak sedikit mengundang pro dan kontra, termasuk pernyataannya dalam acara Kick Andy baru-baru ini. Pendapatnya tentang toleransi banyak menuai pujian, tapi tidak sedikit yang mem-bully-nya habis-habisan.

Di tengah berbagai kecaman yang dialamatkan kepada suaminya, sang istri Hj. Upik Rofiqoh Imanulhaq angkat bicara. Berikut ini curahan hati dan komentar Upik Rofiqoh tentang suaminya KH. Maman Imanulhaq yang sedang ngetrend, alhamdulillah makin populer, tapi juga jadi korban bully.

Walau kami sedikit kecewa dengan komen-komen yang menyerang fisik, juga nada hujatan yang membabi buta tapi semua ada hikmahnya.

Seperti yang Kang Maman katakan, agenda yang padat dan kondisi kesehatan yang tidak begitu baik bisa bikin konsentrasi dan pembicaraan tidak terlalu prima.

“Seorang Dai harus punya persiapan yang cukup: baik materi, kesehatan dan penampilan,” itu pesannya sebagai Ketua Lembaga Dakwah PBNU di berbagai pelatihan Dakwah seluruh Indonesia. 

Saya sebagai istrinya tidak bisa menghentikan aktivitasnya yang bejibun di pesantren, DPR, LDNU, aktivis dan juga kegiatan kemanusiaan lain.

“Papah itu hyper aktif. Kalau diam malah sakit,” jawabku saat puteri bungsuku tanya kenapa Papah ga mau diam.

Beberapa sahabatnya sering mengingatkanya soal kesehatan. Biasanya ia hanya tersenyum dan bilang, “Saya sehat. Doakan tetap sehat”.

Sebagai orang yang terus mendampingi Kang Maman lebih dari dua puluh tiga tahun saya tahu itu cara Kang Maman memotivasi diri. Walau itu tidak bisa menyembunyikan kelelahannya. Itu terlihat dari gurat-gurat lelah di wajahnya.

Saya hampir semuanya tahu tentang Kang Maman : ketegasan dan kelemahannya, keseriusannya dan gaya humornya, termasuk nilai-nilai prinsip yang selalu menjadi ciri identitas perjuangannya.

Kecintaannya pada Islam ahlussunah wal jamaah tumbuh dari sejak lahir. Ayahnya orator yang pejuang saat berkali-kali dapat ancaman pembunuhan dan pembakaran rumah saat terjadi kerusuhan 65. Kyai Abdurrochim terkenal sebagai pembela Islam, pembela ulama dan pesantren serta pembela Pancasila dan NKRI.

Ibunya aktivis Muslimat NU, pernah jadi Ketua PC Muslimat NU Sumedang, adalah puteri ulama kharismatik, Mama Muallim Faqieh dari Tasikmalaya. Nenek Kang Maman wafat ditembak pemberontak saat sholat subuh.

Didikan pesantren dan kedekatannya dengan ulama besar seperti KH. Ali Imran, KH. Abddurrahman Wahid, Habib Luthfi bin Yahya dan KH. Said Aqil Siradj mengokohkan kecintaannya pada Islam dan Indonesia.

”Sebagai Muslim yang juga warga Negara Indonesia, kita punya dua tanggung jawab: tanggung jawab keagamaan dan kebangsaan,” tegasnya dalam perbagai kesempatan.

Kalau ada di pesantren yang kami dirikan tahun 1999, Al-Mizan, Kang Maman pasti turun ngecek sarana prasarana pesantren, rapat dengan para guru, dan bercengkrama dengan para santri. Ia sangat mencintai pesantren dan NU. Berbagai event ke-NU-an dan keumatan digelar di Al-Mizan.

Kang Maman mencintai sholawat Nabi, hingga punya Jamiyyah sholawat Akar Djati yang rutin tiap minggu keliling dari satu majelis ke majelis lain.

Kang Maman juga senang ziarah di kuburan para Wali, Habaib dan Sahabat Nabi. Ia dikenal Sarkub: Sarjana Kuburan.

Integritasnya sebagai aktivis anti korupsi sangat teruji termasuk tiga kali digundul untuk bela KPK. Ia berhubungan secara intensif dengan kawan-kawanya di ICW, KontraS, dan ANBTI.

Saat Kang Maman terpilih jadi anggota DPR dari PKB, Pak Muhaimin memberi kepercayaan kepadanya untuk memperjuangkan masalah keumatan: peningkatan kualitas penyelenggaraan haji, RUU Madrasah dan Pesantren, RUU Disabilitas dan lain-lain.

Makanya, saat berseliweran komen macam-macam atas berita Kick Andy akhir-akhir ini, saya, anak-anak dan keluarga besar Al-Mizan tidak terlalu khawatir.

Yang melakukan bullying pada dasar mereka salah paham atau pahamnya salah. 

(Manusia jadi musuh atas ketidaktauannya).

Kami lebih tahu siapa ”Kyai Maman”.

Sekali lagi kami hanya menyayangkan kalau ada yang menghina fisik, bukan mengajukan argumen yang rasional dan santun.

Tapi, Kang Maman yang sering bilang:

Bersyukurlah dengan anugerah Allah, berupa fisik yang walau dihina orang lain tapi itulah ciptaan Allah dan kelebihan darinya. Kekurangan kita adalah kelebihan kita”.

ala kulli hal tuduhan apapun itu adalah hikmah yang harus dijadikan pelajaran. Kita juga diingatkan Imam Syafii, ”Lawan yang iri dengki dengan prestasi”.

Kami akan terus dukung Kang Maman untuk berdakwah dengan hikmah ala Nahdhiyah (NU)

Alhamdulillah banyak dukungan dari para tokoh lintas profesi dan para santri yang berjuang dengan prinsip.

Kepada yang hobby menebar fitnah kami berharap tetap tunjukkan prestasi kesholihan kalian: ayo bikin pesantren, ayo turun ke masyarakat yang belum tersentuh dakwah, ayo rangkul anak jalanan, ayo perdayakan orang miskin, ayo perjuangkan guru honorer, nelayan, petani dan buruh, ayo lebih semangat membumikan Islam.

Tadi sahur putera kami Hablie bilang, ”Papah kalo ceramah jangan sulit-sulit dicerna orang-orang.

Allah SWT menerima amaliah Ramadlan kita.

Dan kita mendapatkan spirit Lailatul Qadr“.

Wassalam.

Jatiwangi, 18 Juni 2017/ 24 Ramadhan 1438 H

Al-Faqiroh

Rahmata Rabbiha.

--- Simon Leya

Komentar