Breaking News
  • Ada 70.000 ibu hamil dan menyusui di antara pengungsi Rohingya
  • ASEAN Para Games - Doni Yulianto sumbang emas nomor kursi roda 1.500m
  • Kemenperin buka rekrutmen PNS untuk 380 formasi
  • Malaka, NTT diguncang gempa
  • Menhub: uji coba Transjabodetabek hasilnya kurang maksimal

TAJUK Hoax dan Komunikasi 23 Aug 2017 09:59

Article image
Kita harus mengkritik berita hoax. (Foto: Ist)
Karena mendiamkan sesuatu yang salah tidak lain adalah membenarkan kesalahan tersebut.

SALAH satu pertanyaan: mengapa manusia kini semakin tidak kritis terhadap situasinya? Sebut saja contoh orang yang gemar menyebarkan hoax sebagai kebenaran ataupun para penganut radikalisme yang menerima begitu saja kekerasan sebagai satu-satunya jalan. Pertanyaan ini menghantar pada analisis pemikir Jerman terkenal, Herbert Marcuse.

Pada 1964, Herbert Marcuse menulis sebuah buku berjudul One Dimensional Man (1964). Buku ini lahir dari pengamatan Marcuse atas kondisi sosial, ekonomi, politik dan masyarakat industri maju di Eropa dan Amerika saat itu.

Inti dari pemikiran Marcuse adalah perkembangan dunia modern justru menyimpan bibit-bibit sistem kontrol sosial yang represif dan totaliter. Yang berlaku dalam dunia modern adalah rasio teknologis, di mana manusia tidak ubahnya seperti mesin. Manusia ditakar dari segi teknik, yang akhirnya menghilangkan unsur divinasi (keilahian manusia sebagai makhluk bermartabat).

Dalam dominasi teknologi, Marcuse menampilkan gagasannya yang terkenal: manusia di era ini adalah manusia berdimensi satu; manusia yang mengarahkan dirinya pada satu tujuan yakni peningkatan sistem kapitalistik dan budaya konsumeristik.  Diperlakukan sebagai mesin menyebabkan manusia kehilangan kontrol akal budi. Manusia tidak lagi menjadi subyek: manusia berciri konformistik, afirmatif, dan taken for granted terhadap sistem kekuasaan yang korup ataupun represif.

Dominasi manusia dimensi satu menghilangkan dimensi kebebasan, kehilangan individualitasnya, kehilangan sikap kritisnya atas sistem kekuasaan. Manusia tidak dapat tidak menyetujui dan memapankan struktur yang ada. Mereka tidak menginginkan perubahan: ketundukkan agency di hadapan struktur. Sistem ekonomi kapitalis telah memanipulasi kebebasan dan rasionalitas manusia, sehingga manusia “merasa dirinya seolah-olah” bebas dan rasional. Masyarakat menganggap dirinya bebas dan rasional, padahal mereka dari sononya sudah ditindas oleh struktur.

Manipulasi manusia tersebut, misalnya, muncul dalam iklan. Manipulasi iklan sering dibuat untuk merangsang minat orang banyak. Iklan menjauhkan orang dari kebutuhan realnya, karena manusia sudah mengalami manipulasi tanda; manipulasi kebutuhan manusia. Manusia mengalami mekanisme “a sweeping desublimation”, di mana masyarakat mengalami pembalikkan prestasi intelektual dan budaya menuju dorongan-dorongan intinktif-libidinal.

Dunia mengalami situasi kontra-Freud: manusia tidak dapat lagi membedakan “prinsip kesenangan” dan “prinsip realitas”, yang mengantar manusia dituntut oleh kebutuhan tanpa batas. Karena aras perkembangan satu dimensi itu, rationalitas yang dipuja pada zaman pencerahan tidak mampu lagi menghadirkan manusia subjek, karena subjek telah mengalami penindasan.

Untuk mengatasi hal ini, Juergen Habermas mengatakan manusia harus membuka kanal-kanal komunikasi. Dengan berinteraksi bersama orang lain, orang dapat mengenali dunianya secara kritis. Namun, interaksi tersebut harus berada dalam koridor akal budi dan disituasikan dalam ruang publik yang bebas represi dan manipulasi. Komunikasi akan menyingkapkan sisi-sisi kelemahan dari sesuatu.

Fenomena hoax ataupun penerimaan radikalisme tanpa sikap kritis mengajak kita untuk membentuk jaringan komunikasi yang dapat membangunkan kita dari sikap diam. Kita dapat menyingkirkan dominasi rasio teknis, untuk membiasakan diri sebagai insan rasional.

Karena mendiamkan sesuatu yang salah tidak lain adalah membenarkan kesalahan tersebut.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar