Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

AGAMA ICMI: Islam Larang Politisasi Agama 05 Mar 2018 06:01

Article image
nggota Dewan Kehormatan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Fuad Amsyari. (Foto: Ist)
Yang terlarang dalam agama Islam adalah politisasi agama. Apalagi jika memanfaatkan simbol agama untuk tujuan dan aktivitas politik yang tidak terkait dengan kaidah agama.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Politisasi agama merupakan hal yang dilarang dalam Islam. Karena itu, politisasi agama tidak dibenarkan dalam penerapannya di Indonesia.

Hal ini disampaikan Anggota Dewan Kehormatan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Fuad Amsyari dalam Seminar Nasional 'Mencari Kesepakatan tentang Makna Politisasi Agama' yang digelar di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Minggu (4/3/2018)

"Agama dan politik tidak dapat dipisahkan sebab politik adalah bagian integratif dari ajaran agama Islam. Meski demikian, dalam Islam tidak dibenarkan adanya politisasi agama," jelas Fuad malam.

Fuad mengatakan, dalam berpolitik, Islam menjadi pijakan utama, di mana aspek politik dalam Islam berasal dari Al-Qur'an dan Sunnah. Dia menekankan bahwa Islam tidak bisa lepas dari sebuah tatanan kehidupan bernegara.

"Melalui proses politik pula rasul menjadi kepala negara Madinah. Hal ini sudah menjelaskan kalau memang Islam memberikan ajaran politik," jelasnya.

Namun, dia menegaskan yang terlarang dalam agama Islam adalah politisasi agama. Apalagi jika memanfaatkan simbol agama untuk tujuan dan aktivitas politik yang tidak terkait dengan kaidah agama.

"Mengelabui orang beragama untuk kepentingan politik, itulah politisasi agama," ungkapnya.

Seminar Nasional "Mencari Kesepakatan tetang Makna Politisasi Agama" yang digelar di Pesantren Tebuireng, Jombang turut dihadiri pengasuh Pesantren Teubireng KH. Salahudin Wahid (Gus Sholah). Selain Fuad Amsyari, turut menjadi pembicara Guru Besar Sosiologi UIN Sunan Ampel Surabaya, Masdar Hilmy.

--- Redem Kono

Komentar