Breaking News

POLITIK Ignas Iryanto: Pilkada Harus Redam Segregasi Sosial 18 Nov 2020 11:02

Article image
Salah satu tokoh Diaspora Flobamorata, Ignas Iryanto. (Foto: Dokpri Ignas)
"Jadikan Pilkada sebagai pesta rakyat. Hindari segala potensi yang mempertajam segregasi sosial yang akan membuat catatan Pilkada selalu cacat," tegas Ignas.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Sebentar lagi momentum politik pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) di beberapa daerah Kabupaten/Kota, maupun Provinsi akan menuju puncak pada 9 Desember 2020 mendatang.

Salah satu intelektual dan tokoh Diaspora Flobamorata, Ignas Iryanto, dalam rilis kepada media ini, Rabu (18/11/2020), memberi catatan kritis menjelang puncak hajatan politik daerah tersebut.

Ignas terinpirasi dengan peringatan Mantan Presiden Amerika Serikat periode 2009-2017, Barack Obama, dalam salah satu edisi Tajuk Rencana Kompas "Merajut Kerukunan Umat" yang dipublish pada 1 November 2017 silam, yang mengingatkan; "Kalau Anda menang Kampanye dengan memecah belah rakyat, Anda tak akan bisa memerintah mereka. Anda nantinya tak bisa mempersatukan."

Menurut Ignas, peringatan dari alumnus Sekolah Dasar Menteng itu, sudah semestinya menjadi perhatian dan alarm serius bagi para kontestan Pilkada 2020.

"Bagi para pemilih, substansi peringatan itu yakni janganlah memilih calon yang mengemas narasi kampanye dengan tendensi memecah belah, memprovokasi, serta mendiskriminasi, sehingga memunculkan dan mempertajam segregasi sosial. Dia pasti tidak layak memimpin," ungkap Ignas.

Selain itu, Ignas menyebutkan dua aspek penting yang sering juga dibicarakan oleh para sosiolog maupun Politolog. 

"Kualitas diskursus yang disampaikan oleh calon, selain menunjukkan pengetahuan yang dimiliki, terutama adalah kemampuan analisa kritisnya. Stop memilih para mediocre yang hanya berputar-putar pada truisme. Mereka tidak akan mampu melakukan langkah-langkah inovatif yang membutuhkan kreativitas," katanya.

Menurutnya, tipe mediocre hanya mampu menghabiskan APBN dan APBD, yang tidak akan pernah cukup untuk membangun daerah. 

Ignas menambahkan bahwa selain kualitas wacana/diskursus serta daya analisa kritisnya, kemampuan melakukan manajemen program/proyek, juga sangat penting.

Ia membandingkan pengalaman DKI sebagai preferensi yang tidak hanya cukup menunjukkan kualitas wacana.

"Sehebat apapun wacana yang keluar dari pikiran dan bibir calon, itu hanya sebatas wacana jika tidak dibekali dengan kemampuan manajemen program dengan siklus lengkapnya, tidak dia kuasai," sentilnya.

Program dan proyek akan berjalan dengan objektif yang tidak jelas, pengelolaan keuangan juga akan berantakan; mulai dari planning, implementasi serta monitoring dan reportingnya. 

"Maka, perhatikan kualitas dan pengalaman calon dalam bidang ini. Sorry to say, calon yang selama hidupnya menjadi pengamat, tidak akan memiliki kemampuan ini. Tidak akan mampu menjadi kepala daerah yang mumpuni," imbuhnya.

Dua aspek itu, kata dia, yang seharusnya menentukan aspek ketiga, yaitu kuantitas partisipasi publik. 

Menurutnya, hal itu tidak hanya terkait dengan besarnya partisipasi publik yang memilih calon, namun sebenarnya yang lebih penting yakni kemampuan untuk menyerap dan mengelola partisipasi publik dalam berbagai kebijakan dan pelaksanaan pembangunan.

"Ini tidak mungkin dimiliki oleh tipe orang kantoran yang jauh dari interaksi publik. Keberanian untuk bergaul dengan masyarakat akan menentukan aspek ini. Perlu hati-hati dan jeli untuk membedakan partisipasi publik dengan mobilisasi publik, yang bisa dilakukan dengan kekuatan kapital. Itu bahaya nyata bagi daerah. Karena setiap sen kapital yang dikeluarkan untuk mobilisasi, justru akan ditutup kembali dari daerah sendiri. Modusnya bisa beragam, baik korupsi maupun pat gulipat dengan para pengusaha hitam," nilainya.

Ia menegaskan bahwa kualitas demokrasi sangat ditentukan oleh kualitas pemilih sehingga mampu melahirkan pemimpin yang tepat bagi kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat.

"Jadikan Pilkada sebagai pesta rakyat. Hindari segala potensi yang mempertajam segregasi sosial yang akan membuat catatan Pilkada selalu cacat," simpulnya.

--- Guche Montero

Komentar