Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

PENDIDIKAN Ilmuwan: Pelambatan Rotasi Bumi Berpotensi Memicu Banyak Gempa 13 Jan 2018 12:23

Article image
Pelambatan Rotasi Bumi yang Berpotensi Terjadinya Gempa Bumi (Foto: Stocktrek Images/Thinkstock)
"Gagasan dasarnya adalah saat putaran Bumi sedikit melambat, khatulistiwa menyusut. Namun, lempeng tektonik tidak menyusut dengan mudah, sehingga ujung-ujung lempeng terhimpit meski tenaga himpitannya tidak terlalu besar. Hal itu menambah tekanan pada ba

COLORADO, IndonesiaSatu.co-- Pelambatan kecil dalam rotasi Bumi dapat memicu lebih banyak gempa bumi daripada biasanya. Periode rotasi lambat selama 100 tahun terakhir bertepatan dengan gempa bumi yang lebih banyak daripada rata-rata.

Demikian menurut penelitian yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan Geological Society of America akhir tahun 2017 lalu.

"Jumlah gempa bumi yang terjadi setiap tahun selama abad terakhir diketahui dengan baik. Perubahan kecepatan rotasi Bumi pun diketahui dengan baik," ujar Roger Bilham, ahli geofisika di University of Colorado Boulder seperti dilansir Live Science.

Menurut Roger, gagasan dasarnya adalah saat putaran Bumi sedikit melambat, khatulistiwa menyusut. Namun, lempeng tektonik tidak menyusut dengan mudah, sehingga ujung-ujung lempeng terhimpit meski tenaga himpitannya tidak terlalu besar. Hal itu menambah tekanan pada batas lempeng yang sudah mengalami tekanan. Akibatnya, gempa lebih mungkin terjadi.

Pola historis

Bilham dan rekannya, Rebecca Bendick, ahli geofisika di University of Montana di Missoula, mengamati sejarah gempa bumi bermagnitude 7 atau lebih sejak tahun 1900.

“Rata-rata, ada 15 gempa bumi besar per tahun sejak 1900. Namun, selama periode tertentu, planet kita mengalami 25 hingga 35 gempa bumi yang bermagnitude lebih dari 7 dalam setahun. Saat tim periset mengamati lebih seksama, mereka menemukan periode tersebut bertepatan dengan saat bumi berputar lebih lambat yang berarti hari-hari sedikit lebih panjang. Perubahan kecepatan rotasi Bumi dapat disebabkan oleh pola cuaca seperti El Nino, arus laut dan arus pada inti cair planet ini. Saat cairan bergerak lebih cepat, Bumi yang padat pasti melambat. Karena NASA melacak panjang hari ke mikrodetik, kemunduran rotasi Bumi ini dapat diperkirakan lima tahun sebelumnya,” terang Bilham.

Ia menjelaskan bahwa berdasarkan data penelitian, Bumi tengah memasuki periode rotasi lambat yang berkepanjangan. Akibatnya, tahun depan bisa terjadi lebih banyak gempa, jika data sebelumnya merupakan indikasi.

“Tahun pertama kemungkinan ada sekitar 15 gempa bumi bermagnitude 7 atau lebih, dan empat tahun selanjutnya bisa mendekati 20 gempa bumi. Mengetahui bahwa gempa bumi akan terjadi lebih sering dalam lima hingga tujuh tahun sebelumnya, maka sangat berguna jika badan perencanaan kota mempertimbangkan pembangunan tahan gempa. Namun, efek ini kemungkinan hanya akan berdampak pada patahan yang sudah mengalami tekanan dan berisiko pecah," tandas Bilham.

--- Guche Montero

Komentar