Breaking News

OPINI In Memoriam Trio Sekawan: Daniel Dhakidae, Yosef Niesen Parera, Abdon Longinus Da Cunha 07 Apr 2021 11:33

Article image
Dr Daniel Dhakidae. (Foto: iNFOINDONESIA.ID)
Dr Daniel adalah pewarta kabar gembira melalui media masa, gerakan intelektual, pendidikan politik dan demokrasi, sementara Longinus dan Yosef adalah imam dan gembala yang menuntun umat dari mimbar sabda, altar kurban dan teladan hidup.

Oleh Romo Stefanus Wolo Itu

 

SAAT bangun pagi Selasa, 6 April 2021 jam 05.30 waktu Swiss saya membaca satu berita duka di Grup Alsemat. "RIP Daniel Dhakidae". Saya bergumam sendiri: "Wah cendikiawan hebat, alumni Seminari Menengah Todabelu Mataloko dan Seminari Tinggi St Petrus Ritapiret/STFK Ledalero itu kembali ke pangkuan Illahi".

Pertama kali saya mendengar nama dan cerita kehebatan Dr Daniel Dhakidae dari kak sulung saya Emanuel Buku Due. Beliau pernah menjadi guru di Wekaseko, kampung halaman Daniel Dhakidae pada dasawarsa 1960-an. Kak Emanuel menceriterakan tentang kecerdasan intelektual Daniel.

Lebih lanjut saya menelusuri jejak intelektual Daniel ketika saya tinggal di Ritapiret dan kuliah di STFK Ledalero tahun 1990 - 1997. Salah satu minat saya adalah membongkar bundelan majalah Prisma terbitan LP3ES Jakarta pertengahan dasawarsa 1975-1985. Sebagai anggota redaksi dan kemudian Ketua Dewan Redaksi Prisma, Daniel sering menulis tajuk dan opini. Gaya bahasa dan pilihan katanya luar biasa. Wawasannya luas. Horison pemikirannya tajam dan kritis. Saya punya kebahagiaan tersendiri bila membaca tulisan Daniel.

Saya juga mengikuti perkembangan intelektual Daniel melalui Harian Umum Kompas. Beliau sering menulis opini di Kompas dan selalu tampil dalam forum dialog intelektual yang diselenggarakan Kelompok Kompas Gramedia.

Tahun 1991 Daniel menyelesaikan studi Doktorat di Universitas Cornell, Amerika Serikat. Disertasinya berjudul: "The State, the Rise of Capital and the Fall of Political Journalism, Political Economy of Indonesian News Industry". Disertasi ini mendapat penghargaan dari Program Studi Asia Tenggara di Universitas Cornell karena memberikan sumbangan luar biasa bagi ilmu pengetahuan. Sebagai mahasiswa semester awal di STFK Ledalero ketika itu saya sungguh mengagumi beliau.

Kisah kehebatan Daniel selanjutnya saya dengar ketika bertugas di Ratesuba Maukaro tahun 1999 - 2006. Saya banyak mendengar tentang Daniel dari pastor rekan saya di Ratesuba 2001-2006, Rm Sius Sega almarhum. Romo Sius adalah senior Daniel di Seminari Mataloko dan Seminari Tinggi Ritapiret.

Romo Sius mengisahkan sikap kritis Daniel di ruang kuliah terhadap dosenyang berujung pada "penanggalan jubah" di markas keuskupan Ndona. Daniel menurut Romo Sius punya niat yang kuat menjadi imam projo Keuskupan Agung Ende. Tapi situasi saat itu akhirnya membuat Daniel harus beralih ke jalan hidup lain. "Daniel kecewa berat", kata Rm Sius.

Orang berikut yg menceriterakan kehebatan Daniel pada saya adalah almarhum Romo Yosef Niesen Parera. Romo Yosef adalah salah satu senior terdekat saya. Beliau adalah teman sharing dan curhat pastoral yang asyik. Romo Yosef adalah teman kelas Daniel sejak di Seminari Mataloko. Sebagai teman kelas sejak seminari menengah hingga seminari tinggi, Daniel dan Yosef saling mengenal satu sama lain.

Mereka saling mengenal latar belakang keluarga. Mereka saling mengenal kepribadian, bakat dan talenta masing-masing. Daniel selain pintar, juga penyanyi solis yang bagus. Pengenalan Rm Yosef dengan  keluarga Daniel menjadi lebih intensif ketika Romo Yosef menjadi Pastor paroki Ratesuba antara 1988-1998. Romo Yosef selalu ke Wekaseko.

Setelah membaca perjalanan intelektual Daniel lewat tulisan-tulisan dan testimoni dari Rm Sius dan Rm Yosef, saya akhirnya bertemu langsung Daniel di rumahnya di Wekaseko. Saya sudah lupa tanggal persisnya. Tapi saya ingat saat itu bulan Juli tahun 2005. Rm Sius Sega, Rm Yosef Niesen, saya dan beberapa imam diundang untuk menghadiri perayaan 100 hari kematian mama Theresia Poi Gani, mama kandung Dr Daniel.

Perayaan ekaristi itu dipimpin oleh Mgr Abdon Longinus Da Cunha, Uskup Agung Ende saat itu. Uskup Longinus adalah uskup pentahbis saya dan delapan  teman lain, 3 September 1997 di Langa, Bajawa. Beliau terkenal tegas dengan para imam. Sebagai imam muda, saya pernah mengalami "perlakuan tegas" dari beliau. Sakit rasanya, tapi saya menyadari itu sebagai ungkapan cinta seorang gembala dan saudara seimamat.

Uskup Longinus juga terkenal merayakan misa sangat agung. Suaranya bagus, kotbahnya tanpa teks, selalu menarik dan menggelegar. Pokoknya luar biasa bila Longinus tampil di mimbar kotbah dan altar kurban.

Setelah perayaan ekaristi Daniel berpidato mewakili keluarga. Ketika itu Daniel menceriterakan kehebatan Longinus Da Cunha sejak seminari menengah, seminari tinggi, sebagai imam dan selanjutnya sebagai Uskup. Daniel adalah pengagum Longinus dalam hampir semua aspek kepribadiannya. Saking kagumnya akan figur Longinus, ketika adik bungsunya lahir, Daniel meminta agar mama Theresia memberikan nama "Longinus" kepada si bungsu. Adiknya dibabtis dengan nama "Longinus Biadhae".

Malam itu menurut Daniel adalah salah satu malam terindah dalam hidupnya. Daniel mengungkapkannya dalam bahasa Latin yang indah. Sayangnya saya sudah lupa teks lengkapnya. Tapi artinya kalau tidak salah "malam yang paling indah dan membahagiakan". Malam di mana terjadi perjumpaan dua sahabat penuh sukacita.

Daniel juga bersukacita karena malam itu hadir juga Rm  Yosef Niesen Parera. Daniel, Abdon Longinus Yosef Niesen Parera adalah "Trio Sekawan" sejak di Mataloko hingga Ritapiret. Daniel secara mengejutkan "membuka kartu" sahabatnya Yosef Niesen Parera. Kata Daniel: "Malam ini hadir juga teman kelas dan sahabat saya Yosef Niesen Parera. Yosef ini orang hebat. Dia menguasai wilayah pantura Maumere hingga Riung Barat. Yosef ini terkenal imam yang ‘serem’ dan tegas dengan umat. Tapi dia sangat dekat dan dicintai umatnya. Hatinya lembut dan cepat berbelas kasih. Sudah sejak lama saya memberi gelar pada sahabat saya Yosef  "Singa Sikka Raja Utara."

“Yosef ini mengetahui jaringan bisnis kayu ke Makasar dan Surabaya. Bahkan Yosef pernah mensuplai puluhan kubik kayu nara ke Jakarta.”

Daniel tahu kalau Yosef sangat segan dengan Uskup Longinus. Daniel ingin mencairkan suasana.

Pada akhir sambutannya Daniel meminta Uskup Longinus untuk "Launching" buku terbarunya saat itu. Buku itu berjudul Cendikiawan Dan Kekuasaan Dalam Negara Orde Baru, terbitan Kompas Gramedia tahun 2003. Buku setebal 790 halaman ini isinya luar biasa. Daniel saat itu sebagai kepala Litbang Kompas. Dia adalah figur yg menjadikan "Kompas dan Gramedia sebagai industri pengetahuan".

Bagi saya pribadi inilah buku  terbaik tentang cendikiawan yang pernah kubaca. Daniel menguasai sejarah, sastra dan beberapa bahasa asing seperti Latin, Inggris, Belanda, Jerman dan Prancis. Hal ini bisa dilihat dari kutipan dan pilihan kata asing dari halaman awal hingga akhir. Bagi saya buku ini adalah "masterpiece"-nya Daniel.

Tidak mengherankan kalau Prof Daniel S. Lev dari Universitas Washington berkomentar "Buku ini tidak gampang dibaca: penuh sejarah, kritik, analisis tajam yang menuntut perhatian penuh untuk memahami.”

Daniel Dhakidae, Yosef Niesen Parera, dan Longinus Da Cunha adalah Trio Sekawan. Mereka bertiga berbeda dalam panggilan hidup. Tapi mereka tetap teman kelas dan sahabat rasa saudara. Persahabatan itu juga termeterai dalam tanggal dan bulan kematian yang sama. Longinus meninggal Jumat, 6 April 2006, menjelang minggu Palem, 15 tahun lalu. Daniel meninggal Selasa 6 April 2021, dua hari setelah hari raya Paskah. Yosef meninggal Minggu Pentakosta 15 Mai 2016. Mereka bertiga merayakan Minggu Palma, Paskah dan Pentakosta bersama.

Daniel adalah pewarta kabar gembira melalui media masa, gerakan intelektual, pendidikan politik dan demokrasi. Longinus dan Yosef adalah imam dan gembala yang menuntun umat dari mimbar sabda, altar kurban dan teladan hidup.

Terima kasih untuk para senior kami. Kami mengenang kamu selalu. Trio Sekawan: Daniel, Yosef, dan Longinus.

 

Penulis adalah Imam Projo Keuskupan Agung Ende, pernah bertugas di Ratesuba Maukaro 1999 - 2006. Saat ini menjadi misionaris Fidei Donum di Keuskupan Basel, Swiss

Komentar