Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

TAJUK Indonesia dan Politik Harapan 23 Jul 2018 08:22

Article image
Kita a berharap dan berjuang bahwa Indonesia akan terus berkembang menuju Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. (Foto: Ist)
Indonesia memiliki visi dalam politik harapan: Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur berdasarkan Pancasila.

RUANG diskursus politik kita sering dipenuhi tafsiran atau prediksi menakutkan tentang masa depan Indonesia. Beberapa politisi sering menyuarakan pesimisme seperti “Indonesia akan bubar pada 2030”, atau “Negara kita sudah hancur dikuasai asing”, dan lain-lain. Mereka menawarkan cara baca Indonesia dari sisi yang sangat kelam.

Pesimisme yang dilancarkan itu merupakan manifestasi dari “politik ketakutan” (politics of fear). Yang diproduksi adalah ketakutan masyarakat akan masa depan Indonesia, dan dari situasi itu sejumlah politisi dapat menangguk keuntungannya. Elit politik menggunakan politik ketakutan untuk bermain di air keruh, memanfaatkan ketakutan masyarakat.

Justru ketika ketakutan diproduksi besar-besaran, maka masyarakat yang panik (takut) akan menyerahkan diri pada sosok kaisar ataupun pemimpin yang memiliki kekuasaan mutlak. Cara-cara ini pernah dilakukan Donald Trump di Amerika di mana ia memproduksi ketakutan masyarakat dengan sentimen-sentimen anti asing, anti agama lain, dan lain-lain. Rakyat yang semakin takut dikanalisasi dalam ruang impersonal agar mudah dipengaruhi.

Tetapi perlu ditegaskan di sini, bahwa politik ketakutan bukanlah ciri khas politik Indonesia. Kalau kita menelusuri lintasan perjuangan bangsa, kita akan menemukan bahwa Indonesia dibangun di atas batu karang harapan yang kokoh, merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Rintangan berbangsa memang menimbulkan kemarahan, ketakutan, tetapi rakyat Indonesia selalu mempunyai harapan akan masa depan yang lebih baik.

Kita pernah menyaksikan leluhur bangsa kita berjuang penuh keterbatasan: memakai bambu runcing, kesulitan makanan, pendidikan seadanya, persenjataan terbatas, dan lain-lain. Namun keterbatasan tersebut tidak menimbulkan ketakutan. Justru dalam keterbatasan (tantangan), para pejuang lebih bersemangat mendatangkan kemerdekaan Indonesia. Mereka tetap berharap meskipun berada dalam tantangan yang luar biasa.

Maka ciri khas politik Indonesia adalah “politik harapan” (politics of hope). Politik harapan memuat di dalamnya visi akan masa depan bangsa yang lebih baik. Ia tidak menihilkan hambatan, tetapi menyelesaikan hambatan itu dengan visi optimis ke masa depan. Indonesia memiliki visi dalam politik harapan: Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur berdasarkan Pancasila.

Indonesia harus menjamin politik harapan, bukan politik ketakutan. Menurut Yudi Latif: “Politik harapan saling mempercai, politik ketakutan saling mengkhianati. Politik harapan saling mencintai, politik ketakutan saling membenci. Politik harapan saling memahami, politik ketakutan saling menyangkal. Politik harapan itu menumbuhkan, sedang politik ketakutan itu mematikan.”

Politik di Negara kita harus menawarkan kontestasi gagasan yang membuat kita tetap berharap dan berjuang demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar