Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

KIAT Ingin Kaya, Terapkan 5 Prinsip Hemat dari Tiongkok 05 Sep 2018 14:00

Article image
Masyarakta Tiongkok dikenal rajin menabung. (Foto: kepa.e-kepa.gr)
Masyarakta Tiongkok terbiasa menyisihkan gaji mereka sekitar 50 persen sampai 70 persen buat ditabung. Sisanya barulah digunakan buat memenuhi kebutuhan hidup.

SUKU bangsa Tiongkok terkenal akan jiwa dagangnya. Turunan suku bangsa Tiongkok yang dulu lebih dikenal dengan sebutan etnis China selalu unggul dalam urusan bisnis di manapun mereka berada.

Selain dikenal suka bekerja keras, turunan suku bangsa Tiongkok punya prinsip bisnis yang diwariskan turun-temurun yakni pintar mengatur keuangan dan berhemat.

Berikut ini kiat menjadi kaya dari suku bangsa Tiongkok, terutama dalam mengatur keuangan yang belum dikenal oleh sebagian besar orang agar sebagaimana dikutip dari moneysmart.id:

1. Berhemat

Cara masyarakat Tiongkok menggunakan uang mereka tercermin dari pengeluaran negaranya. Sebagai informasi, berdasarkan data Bank Dunia, dari tahun 2009 sampai 2013, Tiongkok ‘cuma’ membelanjakan 34 persen dari total GDP (Gross Domestic Product / produk domestik bruto) negaranya. Sementara, Indonesia menggunakan 59 persen dari total GDP kita.

2. Rajin Menabung

Masyarakta dikenal rajin menabung. Rasio menabung masyarakat Tiongkok mencapai hampir 50 persen atau sekitar 48,87 persen. Sementara masyarakat Indonesia masih berada di angka 30,87 persen.

Bahkan, ada prinsip orang Tiongkok yang cukup ekstrem soal menabung. Mereka terbiasa menyisihkan gaji mereka sekitar 50 persen sampai 70 persen buat ditabung. Sisanya barulah digunakan buat memenuhi kebutuhan hidup.

Untuk itu, mereka harus mengencangkan ikat pinggang. Mereka harus menahan diri dan mengurangi belanja konsumtif.

3. Belanja kontan

Suku bunga di negeri Tiongkok terkenal “longgar”. Bukan berarti suka bunga di sana lebih rendah daripada Indonesia, namun pemerintah sana lebih luwes menaikkan atau menurunkan suku bunga acuan.

Hal tersebutlah yang bikin kebanyakan masyarakat sana merasa tidak aman buat berutang. Mereka khawatir, suku bunga tiba-tiba naik dan bikin utang bertambah. Oleh karena itu, sebisa mungkin, orang Tiongkok memilih belanja dengan cara kontan.

4. Menawar harga

Hampir sama dengan beberapa daerah di Indonesia, kebiasaan menawar jadi hal biasa di negeri Tiongkok. Kita pun sebaiknya punya kemampuan ini saat belanja.

Karena kebanyakan penjual juga menawarkan harga yang jauh lebih tinggi dari harga sebenarnya. Bukan cuma di Tiongkok, beberapa daerah pecinan seperti di Glodok terkenal dengan aktivitas tawar-menawarnya.

5. Angpao berupa uang

Pemberian angpao yang diisi dengan uang udah jadi tradisi buat orang Tiongkok sebagai pengganti bingkisan. Tradisi itu bahkan sudah ada sejak zaman dinasti di negeri tersebut.

Tidak cuma saat Imlek, angpao diberikan pada acara-acara bahagia lain, seperti pernikahan dan acara lain. Tentu hal ini menguntungkan buat kedua belah pihak.

Si pemberi tidak perlu repot mencarikan kado. Sementara itu, si penerima bisa menggunakan uang tersebut sesuai kebutuhan. Sebab, bisa saja kado yang diberikan tidak begitu berguna buat si penerima.

 

--- Simon Leya

Komentar