Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

LINGKUNGAN HIDUP Ini Tanggapan Paus Fransiskus Tentang Kelestarian Alam 28 Dec 2016 21:51

Article image
Pemimpin umum Gereja Katolik Paus Fransiskus. (Foto: Ist)
Paus Fransiskus menganjurkan semangat untuk mencintai alam, menjadikan alam sebagai bagian dari hidup manusia.

SEJAK terpilih sebagai Paus pada hari kedua konklaf Kepausan, Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus identik dengan teladan kemiskinan, kerendahhatian, kesederhanaan, dan cintanya pada bumi dan lingkungan hidup. Ensiklik Laudato Si (2016) menguraikan dengan indah tanggapan analisis Paus Fransiskus terhadap bumi, kehancuran lingkungan, dan tanggung jawab ekologis. Pada bagian ini, akan disarikan beberapa bagian penting.

Pertama, potensi kehancuran dunia global. Dalam ensiklik Laudato Si, Paus Fransiskus pertama-tama berbicara tentang potensi kehancuran dunia global. Polusi, perubahan iklim, budaya buang sampah sembarangan muncul sebagai ulah manusia. Sumber daya pun makin menipis. Paus Fransiskus berbicara tentang eksploitasi sebagai aktivitas manusia yang tak terkendali. Eksploitasi planet sudah melebihi batas maksimal, padahal kita belum memecahkan masalah kemiskinan. Hal ini disebabkan oleh kemajuan ilmiah, pertumbuhan ekonomi, perkembangan kemampuan teknis, penyebaran arus informasi. Fransiskus menganjurkan pandangan ekologi integral: bumi adalah rumah bersama yang harus dibangun atas dasar kasih sayang.

Kedua, privatisasi sumber daya. Dalam Laudato Si, Paus Fransiskus melihat adanya usaha menjadikan milik pribadi sumber-sumber daya demi kepentingan ekonomi dan politik. Ia mencontohkan kelangkaan air minum. Sumber-sumber daya tunduk pada hukum pasar. Individu ataupun bangsa maju berusaha menyelesaikan. Kekayaan hayati, misalnya, telah digunakan untuk kepentingan-kepentingan sesaat yang merugikan manusia. Kekayaan laut sering digunakan demi kepentingan negara maju.

Ketiga, ketimpangan global. Paus Fransiskus dalam Laudato Si mencatat bahwa dunia mengalami kemerosotan: dampak teknologi baru terhadap lapangan kerja, pengucilan sosial, ketimpangan dalam distribusi dan konsumsi energi dan jasa lainnya, fragmentasi sosial, peningkatan ke ke- rasan, kemunculan bentuk-bentuk baru agresi sosial, perdagangan narkoba dan penggunaannya di kalangan muda, dan kehilangan identitas. Hal ini disebabkan oleh agenda-agenda global yang dimunculkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Hal ini menimbulkan ketimpangan global, di mana kemiskinan dan ketidakadilan dapat melebar.

Keempat, relasi internasional di zaman ini. Kata Paus Fransiskus: Dengan cara yang berbeda, negara-negara berkembang, tempat ditemukannya cadangan biosfer utama, terus menyediakan bahan untuk pembangunan negara-negara kaya dengan mengorbankan masa sekarang dan masa depan mereka sendiri. Bumi orang miskin di Selatan adalah kaya dan kurang tercemar, namun akses ke kepemilikan barang dan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan dasar dihalangi oleh sebuah sistem relasi perdagangan dan kepemilikan yang secara struktural jah. Di situ prioritas diberikan kepada spekulan dan pengejar keuntungan finansial yang cenderung mengabaikan konteks apa pun, apalagi efek pada martabat manusia dan lingkungan alam. Dengan demikian menjadi jelas bagaimana kerusakan lingkungan dan degradasi manusia serta etika berkaitan erat.

Kelima, jalan ekologi integral. Fransiskus menganjurkan semangat untuk mencintai alam, menjadikan alam sebagai bagian dari hidup manusia. Untuk itu perlu diberikan pendidikan ekologis supaya masyarakat dunia tergabung dalam “kewarganegaraan ekologis”: warga negara yang mencintai bangsa dan negara dengan berusaha melestrikan dan menjaga ketahanan alam. Membangun bumi dan menjaga alam tetap lestari adalah tanggung jawab semua komponen alam. 

Dunia sangat bergatung pada solidaritas, dalam tanggung jawab, dan dalam perawatan penuh kasih. Pendidikan ekologis dapat terjadi dalam berbagai konteks: sekolah, keluarga, media komunikasi, katekese, dan lain-lain. Tetapi lebih dari itu, manusia perlu mengalami “pertobatan ekologis” yakni berbalik dari usaha menghancurkan alam baik dalam tataran individu maupun sampai pada tingkat hubungan internasional. Pertobatan ekologis menolak cara-cara eksploitatif dalam memperlakukan alam. 

--- Redem Kono

Komentar