Breaking News
  • Ada 70.000 ibu hamil dan menyusui di antara pengungsi Rohingya
  • ASEAN Para Games - Doni Yulianto sumbang emas nomor kursi roda 1.500m
  • Kemenperin buka rekrutmen PNS untuk 380 formasi
  • Malaka, NTT diguncang gempa
  • Menhub: uji coba Transjabodetabek hasilnya kurang maksimal

KESEHATAN Inilah Para Pemenang IndoHCF Innovation Awards I-2017 24 May 2017 18:29

Article image
Inovator di bidang kesehatan yang menjadi pemenang di ajang IndoHCF I-2017. (Foto: ist)
Perkembangan IT yang pesat dengan banyaknya inovasi di bidang kesehatan di kalangan muda, perlu didorong dan diapresiasi pencapainnya.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Malam apresiasi bagi inovator di industri kesehatan yang dikemas dalam program IndoHCF Innovation Awards I-2017 telah menampilkan para pemenang dengan predikat sebagai yang terbaik di setiap kategori yang dilombakan. Ajang perdana sekaligus wadah yang menampung seluruh inovasi dan ide program kesehatan, termasuk juga alat kesehatan itu telah digelar di Ballroom Hotel Raflles, Jakarta, Selasa, 23 Mei 2017 malam.

Bukan hanya sebagai ajang apresiasi, forum IndoHCF pun berhasil menghubungkan peserta yang terlibat dalam acara ini dengan industri kesehatan terkait dengan beragam karya yang brilian. Berikut para pemenang dari lima kategori penghargaan di ajang IndoHCF Innovation Awards I-2017.

INOVASI SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu) Pra-RS:

  • JUARA I : PSC Kabupaten Tulungagung
  • JUARA II :  Si Pena Emas Melalui Brigade Siaga Bencana (BSB) Kaupaten Bantaeng
  • JUARA III : Si Cepat Ambulan Hebat Kota Semarang

Masing-masing mendapatkan Trophy dan Hadiah berupa Alat Kesehatan.

INOVASI PROGRAM KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)

  • JUARA I : Bergandengan Tangan Menyelamatkan Ibu dan Bayi Baru Lahir Di Kabupaten Tangerang
  • JUARA II : Rindu KIA dari Kabupaten Kulon Progo
  • JUARA III :  Gerakan Peduli Keluarga (Garpu) dari Kabupaten Kediri

Masing-masing mendapatkan Trophy dan Hadiah berupa Alat Kesehatan             

INOVASI ALAT KESEHATAN

  • JUARA I : Inovasi Videolaryngoscope Kualitas Mercy Seharga Panci: BLACK BOX VL-SCOPE karya dr. Soni Sunarso Sulistiawan, SpAn, FIPM - Dept. Anestesiologi Dan Reanimasi FK Unair. Mendapatkan Trophy Juara I dan uang tunai Rp 50.000.000,-      
  • JUARA II : POSTWEC ( Power Standing Electric Wheel Chairs) karya Thasya Tamara Putri, Siswa SMA Muhammadyah Sidoarjo. Mendapatkan Trophy Juara II dan uang tunai Rp 30.000.000,-
  • JUARA III : NIVA: Sistem Deteksi Dini Penyakit Kardiovaskular Untuk Pencegahan Penyakit Jantung Dan Stroke karya dr. HASBALLAH ZAKARIA, S.T., M.Sc. Mendapatkan Trophy Juara III dan uang tunai Rp 20.000.000,-

INOVASI E-HEALTH

  • JUARA I : LACAK MALARIA, Aplikasi Pelaporan Cepat Penderita Malaria Melalui Hp, karya Firmansyah dari Halmahera Selatan. Mendapatkan Trophy Juara I dan uang tunai Rp 50.000.000,-      
  • JUARA II : Merealisasikan Pemrosesan Data Kesehatan Keluarga (KESGA) Program Ketuk Pintu Layani Dengan Hati (KPLDH) dari 0% menjadi 100% karya dr. Ajeng Sekartiwi. Mendapatkan Trophy Juara II dan uang tunai Rp 30.000.000,-
  • JUARA III : Emergency Medical Information System karya dr. med. Agung Budi Sutiono, SpBS(K), PhD, Sci. Mendapatkan Trophy Juara III dan uang tunai Rp 20.000.000,-

INOVASI SENI KREASI PROMOSI KESEHATAN

  • JUARA I : Promosi 10 Pedoman Gizi Seimbang Untuk Anak Sekolah karya PKGK FKM UI. Mendapatkan Trophy Juara I dan uang tunai Rp 20.000.000,-      
  • JUARA II : 1000 Jamban Untuk Roro Jomplang karya Manis Manjha dari Fakultas Kesehatan UI. Mendapatkan Trophy Juara II dan uang tunai Rp 15.000.000,-
  • JUARA III : Edan-Edanan Nginceng Wong Meteng karya MProject dari Semarang. Mendapatkan Trophy Juara III dan uang tunai Rp 10.000.000,-

Ketua Umum IndoHCF, DR. dr. Supriyantoro, SpP, MARS menjelaskan, dasar pemilihan lima kategori tersebut didasarkan pada berbagai isu kesesehatan saat ini. Sebut saja terkait SPGDT bahwa persentase angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas masih menjadi yang tertinggi di Indonesia. Isu kedua adalah bahwa angka kematian ibu dan bayi juga masih tinggi.

Di sisi lain, jelas Supriyantoro, produk alat kesesehatan dalam negeri baru mampu memenuhi 10 persen dari kebutuhan yang ada. Selanjutnya, terkait e–health, perkembangan IT yang pesat dengan banyaknya inovasi di bidang kesehatan di kalangan muda, perlu didorong dan diapresiasi pencapainnya.

Untuk diketahui, ajang IndoHCF Award ini merupakan program CSR dari idsMED, perusahaan yang distributor alat kesehatan berskala besar seperti perlengkapan kamar operasi, dll. Untuk itu, Ketua Umum IndoHCF, DR. dr. Supriyantoro, SpP, MARS, mengajak para pelaku industri kesehatan untuk memanfatkan CSR secara tajam.

"Manfaatkan cela kegiatan yang belum terbiayai pemberintah baik di pusat mapun di daerah. Contohnya ajang indoHCF ini, banyak peminat dari berbagai daerah yang berkesempatan menunjukkan kreatifitas mereka. Banyak peminat. Yang daftar 194 karya dari 25 propinsi. Kami yakin masih bayak yang belm terungkap. Mutiara yang terpendam itu harus kita gosok terus," tukas Supriyantoro di sela-sela acara Malam Penghargaan IndoHCF Award I-2017 di Hotel Raffles, Jakarta, Selasa (23/5/2017) malam.

Dia menambahkan, sudah bayak alat kesehatan yang diciptakan oleh produsen lokal. "Alat banyak, tetapi nilainya murah. Value kita sangat murah. Padahal alat kesehatan kita banyak dan bagus. Ini yangperlu kita angkat ke permukaan hingga pasar global," kayanya.

Sebagai contoh, inovasi alat kesehatan Videolaryngoscope yakni  Black Box VL-Scope yang diklaim murah hanya terdiri dari bilah laryngoscope biasa serta berbagai bentuk modifikasinya dan sebuah kamera endoskopi.

"Harganya sesuai permintaan. Bisa mulai dai 200 ribuan hingga 1 jutaan. Kelebihannya alat ini merekam audiovisual yang terjadi selama proses laringoskopi dan hasilnya dapat disimpan berupa softcopy di dalam komputer/smartphone. Kalau yang produk impor harganya bisa puluhan juta dan hanya merekam visual saja," kata dr. Soni Sunarso Sulistiawan, SpAn, FIPM, penemu Black Box VL-Scope.

Dia menguraikan, Pembuatan Videolaryngoscope ini dipadukan dengan sebuah perangkat lunak dan layar komputer jinjing. Proses laringoskopi dapat terlihat dari layar yang dapat dihubungkan ke layar komputer maupun smartphone.

Temuan alat kesehatan yang juga menarik adalah peserta dari SMA Muhammadyah Sidoarjo juga yang menciptakan Kursi Roda listrik bagi pasien disabilitas dan lansia yang membantu untuk berdiri otomatis dengan kontrol joystick. "Kursi ini kita jual 10 juta saja. Kalau yang dari luar tentu lebih mahal," kata Tasya, perwakilan inovator kursi roda listrik tersebut.

Ada pula inovasi Renograf Terpau untuk mendeteksi fugsi ginjal dan kelenjar thiroid. Alat ini ditaksir seharga Rp 900 juta, jauh lebih murah dari produk kompetitor luar negeri  yang mencapai Rp 15 miliar.

Kemudian sendi lutut hasil inovasi anak negeri yang bisa dipesan sesuai ukuran dan harganya berkisar antara Rp6 juta - Rp 7 juta. Tentu jauh berbeda dengan produk impor yang pastinya berbeda denga ukuran sendi orang indonesia, yang harganya bisa mencapai Rp 22 juta.

--- Sandy Romualdus

Komentar