Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

KESEHATAN Inovasi Alkes Minim Kolaborasi, IndoHCF Cari Solusi Pengembangan 30 Apr 2018 21:54

Article image
Rufi Susanto, President IDS Med Group saat berbincang dengan salah satu finalis IndoHCF Award 2018 di Jakarta, Kamis (26/4/2018). (Foto: ist)
"Kami terus mendorong inovasi alkes anak bangsa, dan dari pemenang inovasi alkes dari ajang IndoHCF Awards kita harapkan untuk diproduksi dalam negeri..."

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF) terus mendorong anak bangsa untuk berinovasi di alat kesehatan (alkes) hingga ICT Kesehatan, sejalan dengan sistem pengembangan untuk menjadi sebuah produk siap pakai yang masih terus dicari bentuk terbaiknya.

DR.dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS, Ketua IndoHCF mengatakan, sejumlah inovasi alkes dan ICT Kesehatan yang ditemukan dalam ajang IndoHCF Innovation Awards, yang tahun ini memasuki tahun kedua, terus ditawarkan kepada pelaku bisnis untuk dikembangkan menjadi sebuah produk alkes nasional dengan harga terjangkau dan tepat guna.

"Kami terus mendorong inovasi alkes anak bangsa, dan dari pemenang inovasi alkes dari ajang IndoHCF Awards kita harapkan untuk diproduksi dalam negeri. Daftar para finalis tahun lalu kami serahkan kepada pelaku bisnis supaya ada kolaborasi. Aplikasi Lacak Malaria (salah satu pememang inovasi ICT Kesehatan 2017), mendapat penghargaan internasional. Sekarang sistemnya kita cari untuk  fungsi pembinaan ke depan. Supaya inovasi ini bisa diproduksi masal. Karena kalau harganya murah, dalam penggunaanya pasti dicover BPJS Kesehatan," kata dr. Supriyantoro di Jakarta, Kamis (26/4/2018).

IndoHCF Innovation Awards ini merupakan program CSR dari PT IDS Medical Systems Indonesia (IDS Med), distributor alat kesehatan berskala besar seperti perlengkapan kamar operasi dan lainnya. IDS Med pun mengajak para produsen dan distributor besar alkes untuk melakukan hal yang sama dalam mendorong inovasi alkes dalam negeri.

Rufi Susanto, President IDS Med Group menegaskan, memasuki tahun kedua penyelenggaraan IndoHCF ini banyak inovasi yang semakin berbobot yang harus dikembangkan ke depan, siapapun pemenang inovasinya. “Selama IDS Med ini ada, CSR kami akan terus mendukung  kegiatan (IndoHCF Innovation Awards) ini. setiap tahun semakin improve.  IDS Med ini hadir di 8 negara, tentu akan bisa memberi kontribusi bagi produk alkes nasional nantinya kalau bisa bersaing di pasar global. Maka kita terus dukung,” tegas Rufi di kesempatan yang sama.

Soni Sunarso Sulistiawan, salah satu finalis untuk kategori inovasi alkes, yakni Portable Wireless Monitor mengatakan, pesatnya kemajuan teknologi di dunia akan semakin memacu perkembangan teknologi di bidang medis. "Tenaga medis sebagai end user sering menemukan inovasi baru untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi sehari-hari. Hal ini sering memberikan ide-ide baru industrialisasi alat medis. Namun temuan kami ini masih minim untuk kolaborasi yang arahnya untuk diproduksi dan dimanfaatkan banyak orang. Akhirnya berhenti begitu saja, jadi kita butuh kolaborasi," kata dokter muda dari RS Budi Utomo Surabaya ini.

Untuk alat Portable Wireless Monitor ala dr. Soni fungsinya untuk meniingkatan kebutuhan Patient Safety untuk memonitor pasien dari jarak jauh secara nirkabel, baik untuk monitor pasien dalam ambulan, atau monitor pasien dalam proses X-Ray, dll. "Kebutuhan monitoring tanda vital pasien dengan prosedur CT-Scan yang dapat membahayakan tenaga medis dengan paparan radiasi di dalam ruangan, kebutuhan monitoring pasien saat transportasi serta kebutuhan untuk konsultasi jarak jauh telah melahirkan ide pembuatan Portable Wireless Monitor ini," jelas dr. Soni.

Alat ini juga dapat dikembangkan untuk mendukung SPGDT (Sistem Penanggulanagn Gawat Darurat Terpadu) dan Code Blue System penanganan henti jantung di dalam RS. "Harapan saya dari lomba inovasi IndoHCF ini adalah dapat melejitkan potensi Indonesia dalam menyambut Demographic Dividend yang dapat membawa kebangkitan Indonesia untuk memimpin industri dunia," harapnya.

Didukung Biofarma

Sementara pemenang inovasi alkes di ajang IndoHCF Innovation Awards 2018, yakni Prof. Dr. Aulanni’am, Drh, DES dari Universitas Brawijaya Malang, dengan karya Biosains Rapid Test GAD65, mendapat dukungan yang lebih baik. Sebab, salah satu produk unggulan Institut Biosains Universitas Brawijaya ini merupakan hasil kerjasama dengan PT Biofarma Bandung dan telah di launching pada tahun 2014 ini.

Prof. Dr. Aulanni’am, Drh, DES yang ditemui disela acara penghargaan mengatakan, produk rapid test untuk mendeteksi Diabetes Mellitus (DM) tipe 1 dan tipe 1,5. Pada kit ini, deteksi dilakukan terhadap keberadaan autoantibodi GAD65 yang merupakan marker dini kerusakan sel beta pankreas. Kit ini mampu mendeteksi awal terjadinya autoimun diebetes sehingga dapat dilakukan pada bayi dan anak-anak yang memiliki riwayat penderita DM dalam keluarganya. Penggunaan kit ini merupakan skrining awal terhadap penyakit DM, yang bertujuan untuk memperbaiki tatalaksana pencegahan terhadap DM sehingga penting bagi keluarga yang memiliki riwayat DM, agar tidak berlanjut menjadi penderita DM.

Diagnosa dilakukan dengan menggunakan serum darah sebanyak 20 mikroliter dan hasilnya sudah didapatkan dalam waktu 30 menit. Kit ini tidak memerlukan alat khusus sehingga mudah dilaksanakan pada tingkat layanan medis sederhana.Biosains Rapid Test GAD65 telah terbukti memiliki sensitivitas dan spesifitas yang tinggi. “Produk Biosains Rapid Test GAD65 yang merupakan kit diagnostik dini untuk penyakit diabetes saat ini siap untuk di produksi massal dan dipasarkan setelah kami melakukan riset selama beberapa tahun yang lalu,” kata Prof. Dr. Aulanni’am.

Dia mengaku untuk produk Biosains Rapid Test GAD65 ini telah mendapatkan sertifikasi laboratorim dan telah diuji pakai di negara luar seperti Afrika dan Timur Tengah. Tetapi belum diproduksi secara masal. “Produk Kit diagnostik tersebut sudah melewati tes uji laboratorium dan pasien di lapang dengan hasil sensitivitas yang sangat baik (100%) dan spesifisitas 91,67 %. Kami dalam hal ini siap memproduksi namun masih memerlukan fasilitas gedung atau ruangan yang memadai sesuai dengan kebutuhan standar laboratorium produksi Good Laboratory Practice -Good Manafacturing Practice (GLP-GMP),” katanya.

Prof. Dr. Aulanni’am menambahkan, kemungkinan besar bahwa produk ini secara komersial akan dipasarkan oleh Biofarma sebagai institusi yang memiliki ijin dan wewenang untuk memasarkan produk sejenis. “Dalam waktu dekat ini akan diadakan koordinasi lanjut pembicaraan Biofarma, UB dan BinFar (Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan) terkait dengan registrasi produk diagnostik sebagai alat kesehatan,” katanya.

--- Sandy Romualdus

Komentar