Breaking News

REGIONAL Inovatif, Yos Bajo Nikmati Usaha sebagai Pengrajin Bajam 25 Aug 2020 11:40

Article image
Yos Bajo sedang merakit model parang pajangan dari seorang pemesan, di kediamannya. (Foto: Che)
"Jika ada niat, maka apapun resikonya dapat diatasi. Harus lahir generasi inovatif, berdaya saing dan mandiri untuk kemajuan Sikka," kata Yos.

MAUMERE, IndonesiaSatu.co-- "Sejak usia Sekolah Dasar di kampung, dengan masih sangat polos, saya sering melihat aktivitas orang tua di kampung yang selalu menghasilkan alat-alat seperti pisau, parang, kapak, tofa dan lain-lain dari besi bekas. Terinspirasi dari aktivitas orang tua di kampung itu, saya mulai tergerak untuk ikut membuat alat-alat itu hingga masa SMA bahkan hingga di jenjang kuliah."

Demikian hal itu diungkapkan Yosef Bajo, salah satu pengrajin barang-barang tajam (bajam), saat ditemui media ini di kediamannya di lorong Angkasa, belakang SDK Ferari, Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Senin (24/8/2020).

Yos mengaku, rutinitas masa kecilnya itu kembali muncul saat pandemi virus corona (Covid-19) melanda seantero negeri hingga ke pelosok kampung, dengan ultimatum instruksi oleh pemerintah yang menerapkan kebijakan lock down, sehingga semua aktivitas di rumah saja.

"Hampir semua aktivitas selama pandemi Covid-19 menjadi lumpuh. Apalagi saat itu, Kabupaten Sikka menjadi salah satu daerah zona merah, dengan jumlah pasien positif tertinggi di NTT. Awalnya, merakit sajam sebagai rutinitas mengisi waktu luang selama pandemi, sehingga saya membeli mesin secara swadaya dan mulai menekuni usaha itu," terang Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) sekaligus koordinator untuk wilayah Kecamatan Alok Timur ini.

Meski demikian, Yos menjelaskan bahwa ada beberapa tahap (proses) yang harus dilalui, yakni mencari dan mengumpulkan bahan baku (baja fer mobil), menyewa tenaga pentitih baja hingga merancang bentuk dan model alat yang akan dihasilkan.

"Semua bahan dari baja fer mobil; baik jenis parang, pisau, kapak hingga dodos, sehingga secara kualitas terjamin dan model yang variatif. Selain untuk kebutuhan rumah tangga dan pekerjaan, jenis sajam yang dihasilkan juga sebagai barang pajangan maupun koleksi pribadi," katanya.

Menikmati usaha sampingan sebagai pengrajin sajam, mantan Ketua PMKRI Cabang Maumere ini mengaku merasakan dampak ekonomis yakni menambah penghasilan dan mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Selain itu, Ia mengaku ada dampak pemberdayaan (pekerjaan) bagi beberapa komunitas pengolah bahan baku fer mobil, yang juga mendapat penghasilan dari usaha tersebut.

Sementara harga setiap pesanan sajam bervariasi, berkisar dari Rp 100.000 hingga Rp 1.000.000.

"Selama ini, ada banyak pesanan sebagai barang koleksi, termasuk Anggota DPD RI asal NTT, Angelo Wake Kako (AWK), Anggota DPRD Sikka, dan para pemesan lainnya dari berbagai latar belakang profesi untuk kebutuhan rumah tangga dan pekerjaan. Soal kualitas, sangat terjamin," katanya meyakinkan.

Dukungan kepada Komunitas Pengrajin

Dalam sharing pengalamannya sebagai pendamping PKH di desa-desa, Yos menerangkan bahwa di Kabupaten Sikka sendiri ada dua komunitas pengrajin sajam yaitu Kedowair dan Halat.

Dari syering bersama beberapa orang tua pengrajin tulen itu, kata dia, banyak hal yang ia peroleh termasuk keprihatinan dan rasa kepedulian terhadap komitmen mereka meski dengan bahan dan peralatan seadanya.

"Dari alat yang digunakan, masih terbatas dan manual, artinya belum dibantu dengan peralatan modern. Misalnya, mesin tempah besi, landasan tempah besi, bor besar, gurinda duduk dan alat penunjang lainnya. Saya melanjutkan keluhan dan aspirasi mereka (Kedowair dan Halat), agar juga mendapat dukungan baik dari pemerintah daerah maupun lembaga legislatif (DPRD) berupa bantuan alat-alat modern guna mendukung usaha ekonomi kreatif mereka," harap Yos.

Yos mengaku, dari komitmen, niat dan daya juang para orang tua pengrajin itu, selain untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, terutama hal itu dinilainya sebagai sebuah budaya yang harus diwariskan kepada generasi dewasa ini.

"Terinspirasi oleh semangat mereka, tentu ada niat untuk merintis komunitas usaha tersebut, sekaligus mengajak generasi muda untuk tidak malu memulai usaha yang berdampak ekonomis dan menjadi budaya kreatif yang memiliki kekhasan," niatnya.

"Meski pekerjaan ini memiliki resiko yang cukup tinggi, namun jika ada niat, maka apapun resikonya dapat diatasi. Harus lahir generasi inovatif, berdaya saing dan mandiri untuk generasi produktif di Kabupaten Sikka. Usaha-usaha ekonomi kreatif dan pemberdayaan perlu didukung dan diberdayakan," simpulnya.

Alamat Pemesanan:

Lorong Angkasa (belakang SDK Ferari), Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka.

Contact Person:

Yos: 0813-3042-4526 

Lanny: 0812-3718-7442

 

--- Guche Montero

Komentar