Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

RESENSI Inspirasi dari Bule Pembelajar Sejati 25 Aug 2016 23:04

Article image
Ilustrasi buku. (Foto: Ist)
Ben sangat mencintai Indonesia: bahasa dan budaya. “Kadangkala, saya masih bermimpi dalam bahasa Indonesia” (p.63). Dia tiba di Jakarta akhir tahun 1961 hingga April 1964.
  • Judul      : Hidup di Luar Tempurung
  • Penulis   : Benedict Anderson
  • Penerbit : Marjin Kiri, Serpong
  • Tahun    : 2016
  • Tebal     : (x + 206 halaman)

Oleh Agustinus Tetiro

“Hidup di Luar Tempurung” (Marjin Kiri, 2016) adalah judul buku karya Benedict Anderson yang pertama kali diterbitkan di Jepang atas permintaan rekan dan mantan muridnya di bawah judul “Yashigarawan no soto e” (NTT Shapun, 2009). Kemudian buku tersebut diterjemahkan dalam Bahasa Inggris menjadi “A Life Beyond Boundaries” (Verso Books, 2016).

Judul bahasa Indonesia untuk buku ini dipengaruhi secara kuat dari peribahsa Indonesia, “katak dalam tempurung”. Buku ini mengisahkan perjalanan hidup Ben yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu benua ke benua lain. Buku ini juga berbicara, lebih tepatnya Ben sendiri yang menceritakan kepada kita, tentang kerja akademiknya dalam bidang kajian wilayah, kerja lapangannya sebagai seorang peneliti dan pemikir, kerangka perbandingan dan interdisipliner, hingga kisah dan harapannya pada masa pensiun dan pembebasan.

“Hidup di Luar Tempurung” mau menceritakan kepada kita, menginspirasi sekaligus memberanikan kita, untuk jangan nyaman dalam tempurung keterkungkungan, jangan jago kandang, jangan ongkang-ongkang dalam menara gading, jangan jaga status quo, jangan seperti katak dalam tempurung. Hidup berarti pergi dan menemukan serta bertemu dengan yang lain, yang baru, yang tidak dikenal. Pada gilirannya, pembaruan horison itu membuat kita semakin baik secara kualitatif.

Hidup Ben, baik secara sengaja ataupun tidak sengaja, baik yang disadari maupun yang tidak disadari, adalah peziarahaan intelektual dalam arti yang sebenar-benarnya. Ben keturunan Irlandia yang lahir di Kunming, Tiongkok pada 26 Agustus 1936. Menjelang ulang tahun kelima, keluarganya pindah ke Irlandia, namun harus tertahan cukup lama di California dan Colorado. Pada 1945, ke Irlandia. 1946, bapaknya meninggal. Ibunya seorang perempuan Inggris tetap ingin bertahan di Irlandia.

Ben menyadari pentingnya masa kecilnya yang jauh dari televisi dan mengisi hari-hari dengan bacaan-bacaan sastra adiluhung dari seluruh dunia seperti Anna Karenina, Pangeran dari Monte Cristo, Lord Jim, Uriah Heep, Tess, dll (p.2). Memang, sudah sejak usia dini Ben selalu berada dalam komunitas pembelajar yang hebat. Ben mengalami suasana sekolah pertama di Country School, sekolah berasrama, di dekat Los Gatos yang kini dikenal sebagai Silicon Valley, markas HP, Google, dll. Ben menikmati ‘kewajiban’ dalam keluarganya yang Irlandia yang mengharuskan anak-anak belajar bahasa Irlandia dan bahasa Latin. Kisah-kisah Alkitabiah Kristen dan mitologi Yunani selalu menjadi cerita-cerita yang ingin didengar untuk dinikmati dan diperbandingkan.

Ben menempuh pendidikan pertama di Universitas Cambridge setelah lulus dari Eton. Ben lanjutkan minat keranjingan membacanya di Cambridge. Termasuk, membaca karya-karya hebat dari negeri Jepang dan Rusia. Pengalaman yang menghentak pertama kali tentang rasisme dan imperialisme juga terjadi di Cambridge ketika dengan mata kepala sendiri Ben melihat para mahasiswa Inggris mengeroyok mahasiswa-mahasiswi Asia (India) yang sedang demonstrasi.  Juga, pengalaman pertama tentang kediktatoran puritan di pantai Spanyol (p.22).

Universitas Cornell di Ithaca, New York, menjadi tujuan berikutnya. Ben, setelah mempertimbangkan dalam waktu singkat, menerima tawaran menjadi asisten dosen di departemen pemerintahan (politik). Kemampuannya berbicara dalam banyak bahasa dan aksen Inggrisnya pasti akan menjadi modal bagi dirinya dan hal yang menyenangkan untuk mahasiswa Amerika.

Ben bulat ingin menjadi profesor universitas dan menjadi murid George Kahin yang giat mengkaji wilayah Asia Tenggara, terutama Indonesia. Kahin menulis karya klasiknya ‘Nationalism and Revolution in Indonesia” yang merupakan analisis dengan pendekatan mengambil data dan wawancara dengan kaum elitis di pemerintahan dan kaum terpelajar. Ben datang ke Indonesia dan kemudian menghasilkan “Java in Time of Revolution” yang berdasarkan hidup bersama Ben dengan masyarakat bawah, terutama anak muda, serta geliat sastra dan budaya Indonesia. Kelihatan seperti menjadi lawan karya sang guru, namun Cahin dengan redah hati mengakui kelebihan penelitian Ben, sama seperti kemudian Cahin dan Ben mengakui dengan lapang dada penelitian David Jenkins tentang tema sejenis (p.84).

Ben sangat mencintai Indonesia: bahasa dan budaya. “Kadangkala, saya masih bermimpi dalam bahasa Indonesia” (p.63). Dia tiba di Jakarta akhir tahun 1961 hingga April 1964. Ben terkejut dengan semua tentang Indonesia saat itu: pepohonan, lampu minyak, bau kencing, aroma masakan pinggir jalan, dan seterusnya. Dalam buku ini, Ben menceritakan dengan penuh simpatik pengalamannya selama di Indonesia: keluarga angkat, teman, dan kebiasan-kebiasaan barunya di negeri yang baru ini.

Ben terkesan pada sebentuk tanda egalitarianisme di Jakarta zaman itu: orang-orang dari berbagai lapisan dan golongan ramai-ramai tanding main catur. “Pengusaha main lawan juru ketik, pejabat tinggi lawan tukang becak, etc” (p.73). Dan, pada momentum seperti itulah Ben melakukan wawancara informal.

Akan tetapi, ada satu hal yang membuat Ben tidak sreg. Orang-orang Jawa selalu menyapanya sebagai tuan. Suatu peninggalan kolonialisme Belanda. Untuk mengubah hal itu, Ben menyuruh orang-orang menyapanya “Bule”, yang merujuk pada bulai atau warna kulit albino. “Bule” menjadi kata bahasa Indonesia sejak deklarasi Ben tersebut (lihat p. 76). Ben juga mengakui, orang Indonesia “rasa bercandanya kuat, dan gurauan lintas-bahasa selalu bisa mencairkan kebekuan sosial apapun” (p.79).   

Nikmatnya hidup di Indonesia kemudian harus berakhir ketika Ben berhadapan dengan Orde Baru rezim Soeharto. Ben membuka penelitiannya tentang keterlibatan Soeharto dalam peristiwa 1 Oktober 1965. Pada saat yang sama, Ben mengkritik habis kebijakan politik luar negeri AS terkait Indonesia. Ben melawan dengan laporan-laporan penelitiannya di Jakarta. Soeharto naik pitam dan melarang Ben tidak boleh masuk Indonesia sejak 1973 hingga Orde Baru bubar.

Ben tetap mencintai Indonesia melalui studi-studinya, bahkan berterima kasih khusus Soeharto atas larangannya tersebut. “Andai saya tidak diusir (Soeharto), sepertinya tidak mungkin saya akan pernah menulis “Imagined Communities”” (p.54).

****  

Sekali lagi harus ditegaskan, Ben adalah pembelajar sejati. Ben seorang petarung kreatif. Jika ingin meneliti atau mempelajari sesuatu, Ben akan mulai dengan pertanyaan-pertanyaan dirinya sendiri belum tahu jawabannya (p.151). Misalnya: darimana nasionalisme bermula?

Pentingnya merumuskan pertanyaan-pertanyaan ‘yang hampir tidak mungkin’ itu sangat berguna untuk mengasah imajinasi manusia yang mahadahsyat itu. Ben mengajak kita untuk bermimpi dan bertarung dalam dan dengan kehidupan kita sendiri.

Dalam “Hidup di Luar Tempurung”, Ben menarasikan dengan baik kerangka perbandingan dan interdisipliner dalam studi-studinya (lihat pp. 107-159). “Saya bukan cuma berpikir tentang kawasan ini (Asean)...., tapi juga membaca lintas disiplin, terutama antropologi, sejarah, dan ekonomi” (p.111). Ben menekankan bahwa komparasi bukanlah metode atau teknik akademik, tetapi sebuah strategi diskursif. Ben bahkan dalam kerja-kerja akademiknya yang kreatif menambahkan di sana-sini kutipan puisi dan prosa pada makalah-makalah ilmiahnya.

****

Ketika masa pensiun datang, Ben merasa bebas untuk melakukan semacam antropologi amatiran (p.175) di beberapa negara Asia, terutama India. Tentang Indonesia sini-kini, Ben menaruh kagum pada novel-novel dan cerpen-cerpen Eka Kurniawan (pp-178-179). Ben, seperti biasa, menaruh hormat pada anak-anak muda Asia yang kreatif.

Kalau belum meninggal, Ben berusia 80 tahun hari ini. Namun, apa artinya menghitung jumlah usia, kalau tentang hidupnya, kita bisa menarik inspirasi yang besar. “Hidup di Luar Tempurung” lebih dari sekedar buku autobiografi. Buku ini adalah inspirasi tiada henti untuk terus bermimpi dan berjuang, untuk belajar dan bertarung. Sekali keluar dari tempurung, hidup harus dimenangkan dan dirayakan.

Terima kasih, Bule.

Penulis adalah Associate Producer di IDX Channel dan Kontributor IndonesiaSatu.co

Komentar