Breaking News
  • Indonesia-Australia jajaki tarif 0 persen untuk tiga komoditas
  • Kemendag amankan minuman beralkohol tanpa izin impor
  • Laos tertarik alutsista dan pupuk Indonesia
  • OJK: Masyarakat banyak belum paham fungsi produk jasa keuangan

INVESTASI IPO GMF AeroAsia Disambut Hangat, Saham SIAEC Anjlok 06 Oct 2017 23:29

Article image
Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto:Ist)
Beberapa analis yakin akan ada perpindahan dana kepada GMF AeroAsia.

SINGAPURA IndonesiaSatu.co -- Harga saham SIA Engineering Company (SIAEC) anjlok 9 persen ke level terendah dalam enam tahun terakhir pada hari Rabu, memicu terjadinya kueri perdagangan pada Singapore Exchange (SGX).

Penurunan tersebut dipicu adanya pembicaraan JP Morgan menawarkan sekitar 38,9 juta lembar saham SIAEC dengan diskon besar di pasar. Nilai tersebut mewakili 3,5 persen kepemilikan, harga ditawarkan pada kisaran 3,11 dolar Singapura sampai 3,30 per dolar Singapura lembar, harga tersebut terdiskon 4,1-10,1 persen ke harga saham yang seharusnya berkisar pada 3,46 dolar Singapura per lembar pada hari Selasa (3/10).

Seperti yang dilansir Business Times, beberapa analis yakin bisa ada perpindahan dana kepada Garuda Maintenance Facility AeroAsia, unit MRO PT Garuda Indonesia Tbk. GMF AeroAsia dilaporkan telah mengumpulkan dana sebesar 1,27 triliun rupiah atau sebesar 128,4 juta dolar Singapura dari penawaran umum perdana, dengan harga 400 rupiah per saham.

"Kami terus menyoroti bahwa GMF akan menjadi ancaman bagi SIAEC, mengingat biaya operasi GMF yang relatif rendah," kata K Ajith, analis UOB Kay Hian.

Melansir dari Asia Times, pabrikan pesawat asal US, Boeing memprediksi tujuh pasar terbesar – Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei, dan Vietnam, yang merupakan anggota ASEAN – akan membutuhkan 4.210 pesawat, dari total permintaan global sebesar 41.030 selama periode tersebut. Maskapai milik negara, Garuda Indonesia mempunyai pesanan untuk 90 jet.

Pada hari Rabu (4/10), saham SIAEC – penyedia jasa Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) untuk pesawat, menyentuh 3,15 dolar Singapura, merupakan nilai terendah sejak Januari 2010, sebelum akhrinya ditutup pada 3,21 dolar Singapura, turun 25 sen Singapore, atau sebesar 7,23 persen.

Sumber mengatakan kepada The Business Times bahwa JP Morgan yang telah membeli blok saham tersebut dari klien institusional dan perusahaan sekuritas yang sekarang ingin melepaskan sahamnya.

Yang memperpuruk saham lebih jauh adalah rumor bahwa Singapore Airlines (SIA), yang memegang 77,7 persen saham di SIAEC, mungkin untuk melepaskan sebagian sahamnya di perusahaan tersebut. Namun analis skeptis.

"Kami tidak berpikir bahwa ini mungkin karena SIAEC memiliki marjin dan return on equity yang lebih tinggi dibandingkan dengan SIA,'' kata K Ajith, yang memberi rekomendasi jual di SIAEC dan harga target 3,60 dolar Singapura per lembar saham.

Bagi beberapa analis, SIAEC masih banyak dilihat sebagai saham yang menghasilkan dividen, dengan kebijakan pembayarannya 85-90 persen dari pendapatan inti.

Dengan harga 3,23 dolar Singapura per saham, SIAEC diperdagangkan pada 21 kali lebih besar dari perkiraan pendapatannya untuk tahun fiskal yang berakhir pada bulan Maret 2018. Analis mengatakan bahwa mereka dapat dengan aman mempertahankan hasil dividen 4 persen per tahun.

--- Sandy Romualdus

Komentar