Breaking News

RESENSI Islam Jalan Tengah, Islam Untuk Kemaslahatan 26 Apr 2020 10:16

Article image
Cover depan buku karya Prof Azyumardi Azra, CBE. (Foto: ist)
Agama, pada prinsipnya, mempunyai modal yang kuat untuk mendukung peradaban dan kehidupan bersama di tengah semesta.

Oleh Agustinus Tetiro

 

Relevansi Islam Wasathiyah (Dari Melindungi Kampus hingga Mengaktualisasikan Kesalehan)

Penulis: Azyumardi Azra, CBE

Editor: Idris Thoha

Penerbit: Kompas

Tahun : 2020

Jumlah : xii + 348 halaman

 

 

Islam adalah rahmat bagi semua (rahmatan li al-‘alamin). Rahmat itu tercurah bagi seluruh alam semesta, bukan hanya untuk kaum Muslim, tetapi juga bagi umat beragama lain dan bahkan untuk segala makhluk. Dan, masa depan untuk Islam sebagai rahmat bagi semesta hanya bisa memperoleh alasannya dalam Islam wasathiyah atau Islam jalan tengah (justly-balanced Islam). Islam wasathiyah adalah jalan tengah yang moderat, inklusif dan toleran. Itulah inti dari buku karya cendekiawan muslim Azyumardi Azra ini.

Profesor Azyumardi memastikan, masa depan Islam dan kaum muslimin bukanlah pada Islam yang keras, rigid dan garang. Islam yang sering ditampilkan kelompok ekstrem, radikal(istis), dan penuh teror tidak bakal mampu maju, apalagi berkontribusi bagi peradaban (hlm ix-x). Urgensi perwujudan Islam wasathiyah tepat berada pada tujuannya untuk berkontribusi aktif dalam pertumbuhan dan perkembangan peradaban manusia dari waktu ke waktu dan di segala tempat. “Islam wasathiyah adalah istilah Qur’ani, yang bersandar pada ungkapan ummatan wasthan (al-Qur’an/ 2: 143), yaitu umat yang berada (di) tengah; yang tidak ekstrem ke kiri atau ke kanan atau ke atas atau ke bawah. Menurut sebuah hadis Nabi Muhammad S.A.W., posisi wasathiyah itu adalah sebaik-baiknya (khayr umur awshatuha)” (hlm.x)

Dengan mengangkat judul besar “Relevansi Islam Wasathiyah (Dari Melindungi Kampus hingga Mengaktualisasikan Kesalehan)”, terlihat jelas penekanan penulis bahwa aktualisasi Islam wasathiyah di Indonesia bukah hanya pada tingkat doktrin, tetapi juga pada realitas empiris, historis, sosiologis dan kultural. Buku yang berisi kumpulan artikel dan opini ini perlu diapresiasi sebagai yang hadir tepat waktu (Januari 2020) untuk menjawab maraknya persoalan kebangsaan yang berkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan agama dan keberagamaan, terutama tantangan dari islam transnasional. Persoalan-persoalan tersebut dipetakan secara sistematik oleh penulis dan editor dalam berbagai sub judul di dalam buku ini. Ada sub judul Pendidikan dan Korupsi memuat 14 artikel opini, Pertarungan Ideologi (9 artikel), Waspadai Radikalisme dan Terorisme (9 artikel), Atas Nama Agama (12 artikel), Peradaban, Konspirasi dan Rekayasa (10 artikel), Apatisme Politik (11 artikel), dan Untuk Dunia Damai (12 artikel).

Dari 77 artikel opini yang sudah dibagi dalam 7 sub judul dalam buku ini terlihat betapa besarnya perhatian dan upaya Profesor Azyumardi untuk terus memperkenalkan dan melakukan penguatan melalui revitalisasi dan reaktualisasi Islam wasathiyah dalam berbagai bidang mulai dari dunia pendidikan tinggi hingga praktik politik praktis, dari penghayatan agama dalam ruang privat hingga maknanya yang relevan bagi kehidupan publik, dari kesalehan dalam ritual keagamaan hingga aktualisasi kesalehan dalam berpolitik. Dalam bahasa penulis, “dari sekadar fikih ‘halal-haram’ kepada juga fikih sosial-politik” (hlm.154).

Fikih sosial-politik itu dijalankan penulis dengan memberikan penekanan pada mulai dari perang terhadap korupsi sebagai kejahatan luar biasa yang harus dimulai dari lembaga pendidikan. Korupsi adalah juga musuh semua agama dan karena itu harus diperangi. Kaum muda di kampus harus diedukasi secara benar sehingga pada gilirannya mereka bisa bersikap kritis serentak konstruktif dalam perang terhadap korupsi, terutama dalam penguatan lembaga anti korupsi, pengembangan kebebasan media anti korupsi, hingga supremasi hukum dan reformasi lembaga peradilan yang sudah menjadi rahasia umum masih cacat dalam penanganan korupsi. Oleh karena itu, kampus sebagai lumbung intelektual dan centre of excellence harus dilindungi secara baik dan benar.

Setelah mengangkat kegelisahan terhadap kasus korupsi yang masih marak di negeri ini, penulis buku ini juga menukik lebih dalam ke persoalan pertarungan ideologi. Rejuvenasi Pancasila dan kepemimpinan Nasional serta revisitasi Pancasila (hlm.62-70) adalah keharusan, karena ideologi adalah dasar dan orientasi sikap dan tindakan seseorang atau sekelompok orang. Pancasila dan UUD 1945 harus dipulihkan karena sangat sesuai dengan semangat dan spiritualitas Islam. Titik temu antara keduanya harus terus direfleksikan dan diperlihatkan agar umat yang adalah juga warga tetap bersatu hati menunjukkan wajah paling baik tentang Indonesia. Oleh karena itu, sikap kritis terhadap berbagai peraturan daerah bahkan gerakan ISIS dan Khilafah hingga komunisme dan populisme religio-politik di Indonesia harus terus digalakan sebagai pertarungan ideologis yang sehat.

Pertarungan ideologi ini tiba pada sikap waspada terhadap radikalisme dan terorisme. Realitas yang memperlihatkan bahwa rekrutmen sel radikal masih terjadi di kampus dan sektarianisme masih bertumbuh di tengah masyarakat harus menjadi perhatian bersama. Perlawanan terhadap radikalisme dan terorisme harus diatur dan dilakukan dengan solusi yang komprehensif dan mondial, karena kemunculan gerakan radikalisme dan terorisme sangat kompleks dan multidimensional dari motif ekonomi hingga rasionalisasinya yang diambil dari ajaran agama.

Agama, pada prinsipnya, mempunyai modal yang kuat untuk mendukung peradaban dan kehidupan bersama di tengah semesta. Kendati demikian, dalam berbagai kasus tertentu, agama disalahartikan, bahkan dipakai secara manipulatif untuk tindakan kekerasan dan untuk kepentingan politik praktis. Para pemimpin agama kiranya perlu membangun dialog yang inklusif dan pluralis. Dialog antar-agama menjadi imperatif penting untuk memperlihatkan titik temu dan titik pisah antaragama, agar masing-masing pihak bisa saling menerima keberadaan dan eksistensi yang lain. Dalam buku ini, Profesor Azyumardi secara khusus menulis dua artikel sebagai pertemuannya dengan sejarah kekristenan, khususnya Kekatolikan. Satu artikel berjudul “Melalui Gereja untuk Tanah Air” (hlm.156-160) dan artikel lain “Sejarah Komunitas Katolik Kontemporer” (hlm.177-180). Menurut Azyumardi, mempelajari karya tentang agama lain memungkinkan masyarakat lintas agama Indonesia dapat memahami agama lain secara komprehensif dan akurat. Ini penting untuk memperkuat modal membangun peradaban.

Pembangunan peradaban membutuhkan berbagai strategi hingga konspirasi dan rekayasa positif dan konstruktif. Penulis buku ini menggarisbawahi beberapa hal mulai dari ketahanan sosial, kesadaran akan kejahatan kebencian dan dampak-dampaknya, keprihatinan terhadap mayoritas yang diam hingga komunikasi yang buruk. Oleh karena itu, penulis mengundang segenap pihak untuk memelihara asa membangun peradaban dengan budaya dan semua kekuatan yang ada di tengah masyarakat. Masyarakat harus terlibat aktif dalam kehidupan berpolitik. Ini penting untuk melawan apatisme politik, kebohongan politik dan pembohongan publik. 

Buku ini semakin mendapat relevansinya ketika penulis kembali kepada inti ajaran Islam sebagai pembawa damai bagi dunia. Dengan cara yang simpatik, professor Azyumardi menulis tentang pesan damai Nabi Muhammad S.A.W., makna puasa Ramadan untuk mengalahkan nafsu angkara, Idul Fitri sebagai momentum kohesi sosial, hingga Idul Adha sebagai peneguhan semangat berkorban. 

Buku yang luar biasa ini perlu juga mendapatkan satu catatan penting. Pada artikel berjudul “Melalui Gereja untuk Tanah Air” (hlm.156-160), penulis menerjemahkan “pro ecclesia et patria” menjadi “melalui gereja untuk Tanah Air”. Jelas ini terjemahan yang salah. Terjemahan yang benar adalah “Untuk gereja dan tanah air”. Catatan ini penting karena keduanya mempunyai makna yang berbeda. Pada “melalui gereja untuk tanah air” mengandaikan gereja lebih diprioritaskan yang kemudian semua kontribusinya untuk tanah air harus melalui gereja. Padahal, yang dihayati oleh Gereja Indonesia adalah Katolik 100% dan Indonesia 100% yang sangat tepat dirumuskan dalam “Pro Ecclesia et Patria” (Untuk Gereja dan Tanah Air). Kesalahan kecil lain yang perlu diperhatikan editor untuk cetakan berikutnya adalah perbedaan antara alumnus (tunggal) dan alumni (jamak) (lihat halaman 105-106). Begitu pula dengan kesalahan pengetikan kata ‘relevensi’ yang seharusnya ‘relevansi’ pada setiap halaman genap di bagian kanan bawah buku ini.

Kendati demikian, apresiasi besar untuk buku ini, karena telah memperlihatkan upaya konsisten secara internal dalam keIslaman (di) Indonesia untuk menunjukkan relevansi eskternal yang kuat mengenai Islam sebagai rahmat bagi semua. Melalui buku ini, kita terus belajar bahwa Islam wasathiyah di Indonesia tampil dengan karakter tawashut (tengah), tawazun (seimbang), i’tidal (adil), tasamuh (toleran), islah (reformis), ta’awun (gotong-royong), syura/musyawarah (konsultasi), muwathanah (cinta Tanah Air), musawa (setara), dan qudwah (teladan). Pada gilirannya nanti, Islam jalan tengah yang dihidupi di Indonesia akan menjadi kekuatan, contoh dan inspirasi bagi islam dunia dan dunia pada umumnya dalam membangun peradaban dan kemanusiaan yang sejati. Demi kemaslahatan bersama.

 

Alumnus STFK Ledalero; Administrator “Forum Komunikasi Wartawan NTT Dunia”

Komentar