Breaking News

MUSIK Ivan Nestorman Sabet “AMI Awards 2020” Kategori Lagu Berbahasa Daerah 27 Nov 2020 15:47

Article image
Ivan Nestorman, musisi asal Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto: Flickr)
Seperti diketahui, musik neotradisi adalah musik yang berpijak pada motif-motif tradisi yang diekspresikan secara kontemporer, seperti melalui perpaduan etnis-jazz.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Ivan Nestorman, musisi asal Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memenangkan kategori lagu berbahasa daerah terbaik dalam ajang AMI Awards 2020, lewat karyanya berjudul “Mata Leso Ge”. Selain lagu berbahasa daerah, Ivan juga diunggulkan dalam kategori Reggae lewat lagunya berjudul “Komodo Sunset”.

Ivan mengakui bahwa lagu berbahasa daerah adalah kategori yang lebih diharapkan karena sesuai  dengan kesehariannya membawakan  lagu-lagu berbahasa daerah, dalam hal ini bahasa Manggarai, Flores.

Meskipun demikian, Ivan bersyukur juga bisa dinominasikan dalam kategori Reggae bersama Steven dan Shaggy Dog.

Sainganan Ivan dalam kategori lagu berbahasa daerah antara lain Didi Kempoet dengan lagu bahasa Jawa dan Judika dengan bahasa Batak.

“Saya bersyukur karena ini merupakan kategori yang penting dan bersaing dengan nominator yang hebat seperti Judika dengan Bahasa Batak dan Didi Kempoet yang tengah naik daun dengan lagu-lagu Jawa yang ngetop,” jelas Ivan kepada IndonesiaSatu.co, Jumat (23/11/2020).

“Bagi saya, ini membuktikan bahwa semua bahasa, termasuk Flores mendapat tempat di Republik ini,” ujar Ivan.

Dua tahun lalu, lagu Mogi karya Ivan juga dinominasikan untuk lagu folk song terbaik. Ivan berharap tahun depan bisa ikut lagi menampilkan karya-karya terbarunya.

Ivan bersama NERA pernah juga mendapat anugerah sebagai The most innovative recording pada 2007, masih dengan lagu Bahasa Manggarai, Flores.

“Bagi saya, menyanyi dengan bahasa daerah itu seksi, eksotis. Mudah-mudahan ini bisa menyemangati anak muda untuk berani tampil dengan bahasa ibu mereka,” imbuhnya.

Konsisten

Lebih dari 25 tahun bermusiknya, Ivan konsisten berkarir di jalur musik neotradisi. Dalam rangka usia perak dalam berkarya, Ivan menggelar konser tunggal dan peluncuran album baru yang diberi judul “LEGACY.” 

Dalam konser tunggal yang bertajuk “A World Music Performance” tiga tahun lalu, Ivan memainkan 15 komposisi lagu populer Ivan Nestorman sepanjang kariernya selama 25 tahun, termasuk enam lagu baru dan dua lagu daur ulang pada album LEGACY.

Pada album LEGACY, tujuh lagu ditulis dalam bahasa Manggarai dan sebuah lagu dalam bahasa Inggris. Seluruh musik album ini dimainkan Ivan Nestorman, kecuali beberapa solo gitar seperti pada lagu Awo Flores, Mogi dan Ce Ce Ce dimainkan Tohpati, Ray Sandoval (pemusik asal London) dan gitaris asal Flores, Illo Djeer. Lagu-lagu pada album LEGACY tersebut dikerjakan selama tiga tahun, dan merupakan salah satu album yang diharapkan memperkuat ikon ethnis dalam karya-karya Ivan.

Konser yang digelar di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail Kuningan, di Jakarta pada Kamis (28/09/2017) tersebut didukung oleh musisi sekaligus para sahabatnya seperti Gilang Ramadhan, Budjana, Nita Arsteen, Rio Moreno, Donny Suhendra, Jalu Pratidina, dan grup musik “Nestornation,” asuhan Ivan Nestorman.

Ivan mengatakan, musik etnis Indonesia sangat kaya dan memiliki citarasa musikalitas yang tinggi.  Dengan menyampaikannya secara komtemporer, musikalitas dari khasanah etnis tersebut dapat menembus batas, menjangkau seluruh dunia, dan dimengerti sebagai bagian integral dari harmonisasi kehidupan.

“Sepanjang karier saya, mayoritas musik yang saya usung adalah musik etnis dari tanah kelahiran saya Manggarai dan musik etnis dari daerah-daerah di NTT. Saya tidak segan-segan menggunakan bahasa daerah dalam syair-syair lagu, dan total mengadopsi ritmis etnik. Tidak ada ketakutan sama sekali karya saya itu bakal ditolak karena musikalitas yang unik dan universal dari karya-karya tersebut menjadikan musik neotradisi tersebut mudah diterima dan dinikmati,” kata dia.

Seperti diketahui, musik neotradisi adalah musik yang berpijak pada motif-motif tradisi yang diekspresikan secara kontemporer, seperti melalui perpaduan etnis-jazz. Karya-karya yang kental dengan musik neotradisi Ivan yang populer dan dicover dalam berbagai versi, antara lain Mogi Dheo Keze Walo, Mata Leso Ge, E Wada. Sementara itu, karya-karya Ivan lainnya yang telah dikenal publik antara lain melalui Nera Project, Komodo Project, dan Album Flores The Cape of Flower.

Konsistensinya mengusung musik ethnis Flores, NTT menjadikan Ivan Nestorman dikenal sebagai salah satu ikon musik ethnis Flores dan mendapat julukan “The Man of Eastern Voice.”

Gilang Ramadhan, dalam sebuah wawancara dengan salah satu stasiun televisi nasional, mengatakan, dirinya bersama Ivan Nestorman telah 15 tahun menggeluti musik etnik, diawali dengan Nera Project yang memainkan elemen-elemen musik etnis seluruh Indonesia. Nera Project mendapuk Ivan Nestorman sebagai vokalis dan membebaskan Ivan mengeksplorasi musikalitas Flores yang kaya dan unik. “Jujur, saya bertemu dengan seorang penyanyi yang memiliki suara yang ajaib,” katanya.

--- Simon Leya

Komentar