Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

INTERNASIONAL Jabat Tangan Bersejarah Trump dan Jong-un di Singapura 12 Jun 2018 11:25

Article image
Pemimpin Korut Kim Jong-un (kiri) dan Presiden AS Donald Trump. (Foto: Reuters via spiegel.de)
Jong-un: Prasangka-prasangka lama dan sikap yang lalu kerap menjadi penghalang. Namun, sekarang kami yakin bisa mengatasinya dan karena itu kami berada di sini hari ini.

SINGAPURA, IndonesiaSatu.co -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un telah memulai pertemuan tingkat tinggi bersejarah di Hotel Capella, Pulau Sentosa, Singapura, Selasa (12/6/2018).

Seperti dilansir Spiegel Online, Selasa (12/6/2018), keduanya tiba di tempat pertemuan, Hotel Capella di Pulau Sentosa, secara terpisah dan hanya berjarak beberapa menit.

Sekitar pukul sembilan pagi ini waktu setempat, Trump dan Jong-un berjabat tangan dengan latar belakang bendera kedua negara, sebelum diambil foto oleh para wartawan.

Dalam jumpa pers singkat sebelum pertemuan khusus dimulai, Presiden Trump mengatakan, pertemuan dengan Jong-un merupakan kehormatan baginya.

"Saya sungguh senang. Kami akan melangsungkan dialog yang baik dan saya yakin akan membawa hasil yang besar. Ini sungguh merupakan kehormatan bagi saya. Kami akan menjalin hubungan yang luar biasa, dan saya tak meragukan itu," ujar Trump seperti dikutip dari Spiegel Online.

Melalui penerjemahnya, Jong-un lalu mengungkapkan optimisme mengenai hubungan Korut dan AS ke depan.

“Tidak mudah untuk tiba ke momentum pertemuan ini. Masa lampau dan prasangka-prasangka lama dan sikap yang lalu kerap menjadi penghalang bagi upaya kami melangkah ke depan. Namun, sekarang kami  yakin bisa mengatasinya dan karenanya kami berada di sini hari ini," tukas Jong-un.

Beberapa kali keduanya mengucapkan “terima kasih” sebelum memasuki tempat khusus untuk pertemuan bersejarah itu.

Seperti diberitakan, agenda utama pembicaraan Trump dan Jong-un akan berpuncak pada topik program nuklir kontroversial Korut yang memicu konflik regional dan internasional.

AS menuntut agar Korut melakukan denuklirisasi total agar seluruh sanksi internasional dapat dicabut demi perbaikan ekonomi dan kesejahteraan rakyat Korut.

Sejumlah pengamat politik meragukan kesungguhan Jong-un untuk memenuhi tuntutan AS (dan masyarakat internasional) terkait denuklirisasi persenjataan Korut. Jong-un dinilai hanya melakukan manuver politik sekaligus promosi untuk menaikkan citra diri dan negaranya.

Meski demikian, kenyataan bahwa kedua pemimpin negara yang kerap berseteru itu melakukan jabat tangan dan dialog bersejarah merupakan kemajuan luar biasa dalam perkembangan hubungan bilateral dan terutama bagi perdamaian di Semenanjung Korea.

--- Rikard Mosa Dhae