Breaking News
  • Ada 70.000 ibu hamil dan menyusui di antara pengungsi Rohingya
  • ASEAN Para Games - Doni Yulianto sumbang emas nomor kursi roda 1.500m
  • Kemenperin buka rekrutmen PNS untuk 380 formasi
  • Malaka, NTT diguncang gempa
  • Menhub: uji coba Transjabodetabek hasilnya kurang maksimal

PARIWISATA Jadi Destinasi Wisata Baru, RI Ajak Australia Investasi di Labuan Bajo 05 Jul 2017 07:50

Article image
Pulau Pasar menjadi tempat favorit wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo. (Foto: Ist)
Di Labuan Bajo, investor Australia nantinya bisa menanam modal di pembangunan resor, hotel, marina, cruise terminal, hingga bandara.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Sebagai salah satu destinasi baru pariwisata Indonesia, kawasan Labuan Bajo, Flores dan pulau-pulau sekitarnya membutuhkan kesediaan infrastruktur penunjang yang layak dan nyaman bagi para wisatawan. Untuk itu semua pihak diajak berinvestasi di Labuan Bajo guna mendukung kemajuan pariwisata kawasan tersebut.

Salah satu yang diajak Pemerintah adalah Australia untuk berinvestasi di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur ini. "Labuan Bajo kan tidak terlalu jauh dari Australia, potensi untuk berinvestasinya sangat besar, ini akan jadi destinasi wisata baru selain Bali," kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, di Kantor Bappenas, Jakarta, Selasa (4/7/2017).

Di Labuan Bajo, investor Australia nantinya bisa menanam modal di pembangunan resor, hotel, marina, cruise terminal, hingga bandara. "Kita memang akan mendorong investasi Australia di sektor pariwisata, selain itu juga supaya bisa bekerja sama dengan perusahaan nasional," ujar Bambang.

Australia memiliki lembaga dana pensiun yang disebut super fund yang memiliki potensi pendanaan yang besar.
Menurut Bambang, satu super fund di Australia itu memiliki dana kelolaan sebesar AUD 2 triliun. "Dana-dana jangka panjang yang ada di Australia kita bidik untuk berinvestasi di Indonesia, kami sudah berdialog dengan mereka," ujar Bambang.

Dia menceritakan, lembaga-lembaga keuangan tersebut sudah mengucurkan investasi ke negara seperti Amerika Latin. Australia, saat ini belum terlalu mengenal Indonesia, oleh karena itu aliran modal masuk dari Australia ke dalam negeri masih terbilang kecil.

Bambang mengatakan, saat ini Indonesia membutuhkan dana yang cukup besar. Australia dinilai memiliki dana jangka panjang yang bisa digunakan untuk berinvestasi di Indonesia.

Untuk menarik minat Australia, Bappenas mempromosikan bagaimana mudahnya berinvestasi di Indonesia. Kemudian Indonesia juga sudah mereformasi perekonomiannya.
Nantinya lembaga keuangan tersebut bisa masuk investasi melalui jalur obligasi pemerintah hingga reksa dana penyertaan terbatas (RDPT).

"Mereka tidak minta return atau imbal hasil yang tinggi, kami menawarkan return maksimal 13%, tapi mereka tidak keberatan di kisaran 6%-7% mereka oke," kata Bambang.
Dia menjelaskan, angka ini jauh lebih baik dibandingkan return perbankan. Namun, meskipun Australia tidak mempermasalahkan return, Bappenas tetap menghitung risiko nilai tukar.

Dia menjelaskan, biasanya negara-negara lain yang berinvestasi membutuhkan kepastian return yang didapatkan setiap periodenya. "Berapapun returnnya, negara investor itu hanya butuh kepastian, yang saya jaga adalah jangan sampai negara-negara itu kapok berinvestasi di Indonesia," terang Bambang.

Dalam road show nya di Australia, pemerintah mengunjungi sejumlah kota seperti Perth, Canberra, Sidney, Melbourne dan Brisbane. Menurut Bambang, Sidney dan Melbourne merupakan dua wilayah yang memiliki respon paling positif karena pusat ekonomi ada di wilayah tersebut.

Untuk investasi, Australia nantinya akan menggunakan skema Public Private Partnership (PPP) dan Pembiayaan Investasi Non Anggaran (PINA). Kedua skema ini biasa digunakan untuk investor yang ingin membiayai proyek-proyek pembangunan di dalam negeri.

Dia mengatakan, saat ini infrastruktur di Indonesia masih membutuhkan pembiayaan yang besar. Untuk Australia ini, pemerintah akan fokus menawarkan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) Tambak Lorok di Semarang yang membutuhkan dana sekitar US$ 200 miliar, jalan tol yang dibangun oleh Waskita membutuhkan tambahan modal sebanyak US$ 1,5 miliar, dan bandara Kertajati.

--- Sandy Romualdus

Komentar