Breaking News

REFLEKSI Jadilah Kader Berkarakter Prima - Catatan untuk HUT PMKRI Cabang Maumere St. Thomas Morus 29 Jan 2020 14:54

Article image
Logo PMKRI Maumere, Flores, NTT. (Foto: ist)
Kader-kader PMKRI Maumere perlu mulai belajar merasuki dirinya dengan rasa cinta yang berkobar kepada Gereja dan bangsa.

Oleh Valens Daki-Soo

 

SEBENARNYA saya sudah pernah menulis tentang PMKRI Cabang Maumere di beranda medsos FB ini. Sebagai orang yang menginisiasi pembentukan PMKRI Maumere, saya merasa tak bisa diam untuk menulis lagi tentangnya kali ini.

Namun, pertama saya mesti gunakan kesempatan ini untuk mengklarifikasi -- lebih tepat "meluruskan" -- apa yang dituturkan Bung Andre Parera (ini bukan Pak Andreas Hugo Pareira) tentang sejarah bermulanya PMKRI Maumere.

Tahun 2019 silam saat digelar seminar/diskusi terbuka oleh PMKRI Maumere di aula Universitas Nusa Nipa, saya diminta menjadi pembicara bersama Bupati Robby Idong dan Bung Andre Parera. Sebagai pembicara pertama, Bung Andre ternyata bicara tentang sejarah pembentukan PMKRI Maumere sesuai versi dirinya sendiri. Menurut Bung Andre, PMKRI Maumere dibentuk atas inisiatif Presidium Pusat (PP) PMKRI yang ingin menjadikan PMKRI Maumere sebagai "basis moral". Inisiatif itu disampaikan kepada Bang Aleks Armanjaya yang lalu melibatkan saya dan Bung Paskal bin Saju.

Secara pribadi saat itu saya agak 'terkejut' mendengarkan tuturan Bung Andre. Saya nyaris meluruskan saat itu juga di depan audiens, namun atas pertimbangan tertentu saya diamkan saja dan saya fokus pada topik saya perihal masalah kebangsaan dan isu radikalisme.

Izinkan saya menjelaskan ulang sejarah yang sesungguhnya tentang awal berdirinya PMKRI Maumere. Tahun 1992 saya sebagai mantan frater SVD dari Seminari Tinggi Ledalero menghuni Wisma St. Thomas Morus, Wairpelit, di kaki bukit Ledalero. Wisma Thomas Morus adalah rumah kontrakan sejumlah eks frater sekaligus mahasiswa STFK Ledalero yang "awam" (non frater). Merasakan dan mengalami situasi kami saat itu yang seolah tanpa orientasi dan kegiatan jelas di kala senggang, saya mulai berpikir apa yang sebaiknya dilakukan bersama.

Memang, saya sempat menginisiasi latihan kungfu bersama dengan mengajak empat pelatih kungfu dari Maumere. Itu untuk memperkuat aspek fisik-mental. Lalu diadakan juga "Kursus Politik" bersama P. Drs. Laurens da Costa, SVD, MA. Namun itu tak cukup rasanya.

Suatu ketika Menpora Akbar Tanjung dan rombongan berkunjung ke STFK Ledalero. Masih teringat, saya penanya pertama saat acara tanya-jawab usai ceramah Menpora di Aula Thomas Aquinas. Salah satu peserta rombongan Menpora adalah Bang Gaudens Wodar, mantan Ketua PP PMKRI yang lalu menjadi salah satu Ketua KNPI. Usai kegiatan dengan Menpora, saya menemui Bang Gaudens dan kami ngobrol sekilas dengan janji akan berjumpa lagi.

Perjumpaan kami terjadi pada beberapa waktu kemudian saat Bang Gaudens ke Maumere lagi. Atas inisiatif saya sendiri, kami menggelar diskusi dengan sejumlah mahasiswa STFK Ledalero dalam jumlah terbatas di Aula Thomas Aquinas. Bang Gaudens menjadi pembicara yang "sharing" tentang dinamika nasional, sementara saya menjadi moderator diskusi. Usai pertemuan tersebut, saya mengungkapkan keinginan untuk membentuk PMKRI Maumere sebagai wadah kaderisasi para eks frater dan mahasiswa awam STFK Ledalero. Bang Gaudens merespons dan meminta saya menulis surat kepada Ketua PP PMKRI Ir. Cyrillus Kerong. Surat itu lalu saya kirim kepada Bang Cyrillus via Bang Gaudens.

Ternyata proses pembentukan cabang PMKRI tidak mudah juga. Butuh surat rekomendasi Uskup Agung Ende dan dukungan para tokoh awam Katolik lokal. Maka saya mendekati senior kami di Wisma Thomas Morus Kae/Bang Aleksius Armanjaya dan sahabat saya Bung Pascal bin Saju (sekarang wartawan senior Kompas). Kami berbagi tugas. Kae Aleks dan Bung Pascal bergerilya minta dukungan tokoh awam di Maumere, saya "memburu" surat rekomendasi Uskup Agung Ende Mgr. Donatus Djagom, SVD. Oleh karena saat itu belum ada telepon, saya sendiri yang jalan ke Ndona. Namun, uskup sedang tidak ada karena lagi di Jakarta. Saya balik ke Wairpelit sambil menunggu Mgr. Donatus pulang dari Jakarta. Beberapa waktu kemudian saya ke Ndona lagi, ternyata Bapa Uskup sudah ke Ndora (Nagekeo) untuk kunjungan pastoral dan memberikan sakramen Krisma. Saya pun langsung menuju Ndora, naik truk dari Ende. Keesokan harinya, usai misa Krisma, saya minta izin ke Pastor Paroki Ndora P. Willy Riedel, SVD untuk bertemu dengan Bapa Uskup. Bertemulah saya dengan Mgr. Donatus dan beliau "menceramahi" saya sekitar satu jam tentang lemahnya militansi kaum muda Katolik. Justru itu saya temukan alasan kuat untuk bicara tentang urgensi hadirnya PMKRI Maumere. Puji Tuhan, Mgr. Donatus bersedia memberikan rekomendasi. 

Seminggu kemudian, saya mendapat surat dari Ndona, tepatnya dari Sekretaris Uskup disertai Surat Rekomendasi Uskup Agung Ende tentang pembentukan PMKRI Maumere. Surat tersebut masih tersimpan baik di arsip pribadi saya. Mungkin saya perlu serahkan kepada PMKRI Maumere sebagai bagian dari dokumen sejarahnya.

Jadi, alasan saya (juga Bang Aleks dan Bung Paskal) adalah kami ingin para eks frater terwadahi secara organisatoris, dapat mengaktualisasikan diri dan memekarkan potensi pribadi  kami sehingga "ada"nya kami berguna untuk masyarakat, bangsa dan Gereja. 

Tentang pembentukan PMKRI Maumere ini saya informasikan dan konsultasikan juga dengan Rektor Seminari Tinggi Ledalero P. Dr. Hubert Muda, SVD, P. Dr. Philipus Tule, SVD (dosen Islamologi STFK, yang juga pimpinan STFK kalau tidak salah ingat), dan P. Dr. Georg Kirchberger, SVD (dosen Teologi STFK yang juga pembina para mahasiswa awam/eks frater).

Pater Philipus Tule diminta menjadi moderator pertama PMKRI (Calon Cabang) Maumere.

Juli 1992 saya dan Bung Pascal diundang untuk mengikuti program "Pendidikan Kader Pers Pancasila" di Jakarta. Penyelenggara acara ini PP PMKRI dan Pengurus Besar Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), OKP yang berafiliasi ke Nahdlatul Ulama (NU). Kami tentu bangga karena kami dari "calon cabang", diberi kepercayaan untuk mengikuti kegiatan yang pesertanya dari cabang-cabang PMKRI dan PMII. Beberapa menteri dan kalangan media (termasuk Bang Rikard Bagun, Redpel Kompas saat itu) menjadi narasumber. Alhasil, pada penutupan acara diumumkan "peserta terbaik", dan puji Tuhan, saya yang dari "calon cabang" Maumere dinyatakan sebagai peserta terbaik. Sebagai "hadiah", saya magang di Kompas beberapa waktu. Namun, karena saya belum selesaikan S1 saat itu, saya tidak bisa lanjut menjadi wartawan Kompas. Bung Pascal yang beruntung bisa menjadi wartawan media terkemuka nasional itu.

Selanjutnya saya menetap di Jakarta sejak itu untuk berjuang demi "kehidupan yang lebih baik", dan urusan PMKRI Maumere dilanjutkan oleh teman-teman lain.

***

Setelah menulis tentang aspek historis di atas secara panjang-lebar, saya merasa perlu berbagi sedikit, seringkas-padat mungkin, tentang harapan terhadap PMKRI Maumere. Mungkin bisa juga menjadi masukan untuk PMKRI umumnya, namun dalam bingkai khusus saya persembahkan ini untuk adik-adik muda saya, para kader PMKRI Maumere.

Pertama, bangsa ini mengalami krisis kader berkualitas prima. Parpol banyak di republik ini, birokrasinya besar dan tambun, namun hanya sedikit yang tampak menonjol secara kualitatif. Korupsi masih merajalela dan diperkirakan banyak elite politik ada di pusaran korupsi.

Apa yang bisa dibuat PMKRI Maumere sebagai respons proaktif terhadap fenomena ini? Tempalah dirimu sebagai kader-kader bangsa yang andal, jujur, cerdas dan dapat dipercaya. Bentuklah pribadimu agar memiliki karakter yang kuat, sehingga kokoh menghadapi godaan.

Kedua, kader-kader PMKRI Maumere perlu mulai belajar merasuki dirinya dengan rasa cinta yang berkobar kepada Gereja dan bangsa. Rasa cinta itu perlu dipupuk dari hari ke hari agar kepribadianmu menjadi "pijaran api" di tengah kegelapan malam. Rasa cinta itulah yang pelan tapi pasti akan membentukmu menjadi abdi Gereja yang juga negarawan. Negarawan tidak mesti pejabat tinggi. Siapapun kader bangsa yang mengutamakan kepentingan banyak orang, tidak mau terjebak dalam grup-grup sempit primordialis, yang mengasah hati nuraninya tanpa henti, itulah negarawan sejati!

Ketiga, jadilah pembelajar yang terus-menerus mencari dan haus akan ilmu pengetahuan. Belajarlah pula secara langsung dari interaksi dengan sesama dan masyarakat, karena pengetahuan dan kebijaksanaan tidak hanya disediakan buku-buku. Belajarlah untuk beradaptasi dengan perubahan yang "kian besar dan cepat", agar tidak hanyut terseret gelombang perubahan itu.

Keempat, sibukkan diri dengan hal-hal positif yang berguna untuk pertumbuhan (ke)pribadi(an) adik-adik. Ciptakan lingkungan yang memancarkan aura positif bagi kehidupan bersama. Apalagi kampus makin banyak di Maumere, hindari semacam klik-klik yang tidak perlu. Ketika ada di rahim Thomas Morus, jangan lihat asal kampus. Lihatlah pribadi per pribadi dengan rasa hormat dan kasih yang tulus. Kalian ada untuk saling berbagi, meneguhkan, mencerdaskan dan menghidupkan.

Kelima, "last but not least", jadilah manusia pendoa. Percuma kita teriak "PETRA!" (Pro Ecclesia et Patria) kalau kita abaikan pertumbuhan spiritual. Doa bukanlah sekadar kata-kata. Doa adalah kekuatan, inspirasi, keyakinan, semangat dan harapan. Doa adalah kehidupan.

Saya bahagia dan bangga denganmu, wahai PMKRI Maumere.

Teruslah maju, berderap dalam waktu.

Nyalakan api yang pantang padam dalam jiwamu.

Tuhan bersamamu.

Pro Ecclesia et Patria!

 

Penulis adalah peminat filsafat-teologi, CEO VDS Group, Pendiri/Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

Komentar