Breaking News
  • BNN tangkap pilot warga negara India
  • Jaksa Sebut Miryam terima dan bagikan dana KTP-E ke DPR
  • Polri: Kamis-Jumat puncak arus mudik
  • Presiden Jokowi bakal berlebaran di Jakarta
  • Puncak mudik Stasiun Gambir diperkirakan 24 Juni

REFLEKSI Jadilah Pribadi Asertif, Bukan Agresif 13 Apr 2017 08:47

Article image
Jika Anda punya daya kontrol diri yang tinggi, Anda pasti memilih bersikap asertif, tegas tetapi tidak kasar. (Foto: confidentman.net)
Tegas atau asertif adalah sikap positif yang perlu kita bangun. Bersikap tegas menunjukkan rasa hormat kepada diri sendiri sekaligus respek kepada orang lain.

Oleh Valens Daki-Soo

 

PETUAH ini tak asing lagi di telinga kita, "Bersikaplah tegas, tetapi jangan kasar!"

Kata asertif (tegas) berasal dari kata bahasa Inggris to assert yang menurut Oxford English Dictionary berarti menyatakan pendapat, menuntut hak, atau menegakkan kekuasaan.

Ketegasan (assertiveness) secara harafiah berarti mempertahankan hak secara fair. Secara populer, ketegasan adalah kemampuan untuk mengomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain.

Kajian tentang ketegasan (assertiveness) dalam dunia psikologi pertama kali dilakukan Andrew Salter, psikolog sekaligus psikoterapis asal Amerika Serikat pada 1949. Pada 1940-an, Salter mulai menangani para klien yang mengalami depresi. Dari pergulatannya tersebut, Salter menulis buku berjudul Conditioned Reflex Therapy: The Classic Book on Assertiveness  that Began Behavior Therapy yang baru dipublikasikan pada tahun 2002 oleh Gretna, LA: Wellness Institute.

Berdasarkan pengalaman klinisnya, Salter mengategorikan enam ciri orang berkepribadian tegas (asertif):

1. Mengungkapkan perasaannya secara terbuka (emotionality of speech).

2. Mengekspresikan apa yang dirasakan secara tepat dan spontan (expressiveness of speech).

3. Kemampuan untuk menolak dan membalas opini orang secara langsung dan dengan ekpresi yang jelas.

4. Selalu menggunakan kata ganti orang “saya” untuk memberi contoh atau menegaskan sesuatu (“Saya kira… atau Saya berpendapat…).

5. Menerima pujian tidak sebagai tanda ketidaksopanan tetapi sebagai ekspresi self-respect dan penegasan atas kekuatan dan kemampuan dirinya.

6. Bertindak menurut kata hati.

Pribadi yang asertif tidak berperilaku agresif di mana mereka akan mempertahankan sikap dan pendapat, tanpa memedulikan orang lain dan selalu ingin menjadi pemenang.

Pribadi yang asertif juga tidak bersikap pasif, yang selalu menghindari konflik atau konfrontasi dengan lawan bicara, demi menjaga suasana damai dan tenang. Pribadi pasif cenderung mengalah demi kelanggengan hubungan yang telah terjalin, dengan mengorbankan kepentingan pribadi yang mungkin saja lebih penting daripada hubungan komunikasi tersebut.

Tegas atau asertif adalah sikap positif yang perlu kita bangun. Bersikap tegas menunjukkan rasa hormat kepada diri sendiri sekaligus respek kepada orang lain. Kepentingan dan martabat diri sendiri diproteksi, tanpa mencederai kehormatan dan hak sesama. Sebaliknya, sikap agresif mencerminkan rapuhnya "self-respect" seseorang yang diproyeksikan kepada orang lain atau sesuatu di luar dirinya.

Misalnya, tatkala Anda mengantri di ATM, seseorang menyerobot antrian melewati Anda. Anda bisa saja menjadi agresif dengan berteriak, "Hei, manusia tidak tahu diri! Apa kamu buta ya? Kamu kampungan, main seruduk aja!" Ini contoh agresivitas dalam kata-kata.

Jika Anda punya daya kontrol diri yang tinggi, Anda pasti memilih bersikap asertif, tegas tetapi tidak kasar. "Pak/Bu, tolong hargai antrian ini. Anda tidak bisa begitu saja menyerobot. Sebaiknya Anda kembali mengantri dari belakang." Bagaimana jika dia menolak? Tak perlu meradang alias agresif. Itu tandanya orang tersebut memang 'bermasalah'. Persoalannya bukan pada Anda melainkan pada karakter orang itu. Abaikan saja orang semacam itu, atau Anda bisa beritahu satpam untuk menertibkan dia.

Pribadi yang matang bersikap tegas, elegan, anggun dan berwibawa. Dia mungkin humoris, penuh canda tawa, dia tidak "sok wibawa", namun wajah, tutur kata dan perilakunya tetap menyemburatkan kharisma dan kehormatan.

 

Penulis adalah penikmat psikologi, Chairman PT Veritas Dharma Satya (VDS), Pendiri dan Pemimpin Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar