Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

KOLOM Jalan Panjang Menuju Diri 14 Mar 2018 11:58

Article image
Jalan untuk mengerti diri tidak singkat. (Foto: ist)
Diri ini selalu "tidak cukup". Kita tidak pernah puas. Pikiran kita sering terbatas. Perasaan kita selalu belum selesai. Emosi kita tidak pernah tuntas.

Oleh Felix Baghi

 

JALAN untuk mengerti diri tidak singkat. Jalan ini juga tidak pernah "tidak terbatas." Tidak pernah juga hanya melalui satu jalan. Ia ditempuh melalui banyak jalan "yang lain."

Kita sering yakin tentang diri sendiri. Kita bahkan selalu percaya pada diri. Ada semacam "Self-esteem", namun kepercayaan diri selerti ini terjadi ketika kita bergulat dengan banyak hal di luar diri kita, berjumpah dengan banyak orang.

Kita pun menyadari bahwa untuk sampai pada tingkat "keyakinan " dan "kepercayaan pada diri", kita harus menempuh proses yang panjang dan bahkan lama.

Misalnya saja, untuk fasih berbahasa tertentu, kita harus tekun dan juga mempunyai banyak waktu untuknya. Belajar mendengar, menulis,dan pandai bercakap-cakap. Untuk sukses studi pada level tertentu, kita harus bekerja keras, belajar banyak bahasa asing, memiliki jadwal yang ketat, terbuka dalam dialog, rendah hati untuk dikritik, kreatif beragumen dan penuh sabar menjalani penelitian.

Kenyataannya, kita bukan saja bergulat dengan diri sendiri. Kita sering bergelut dengan 1001 soal di luar diri kita: dengan sesama, situasi, kultur, bahasa, institusi dan kain sebagainya.

Kita, lalu menyadari, bahwa diri ini selalu "tidak cukup". Kita tidak pernah puas. Pikiran kita sering terbatas. Perasaan kita selalu belum selesai. Emosi kita tidak pernah tuntas.

Karena itu, kita selalu ingin membuat eksplorasi. Kita mengembara, dan suka ekspansi ke mana saja. Kita membuat eksodus, menjelajah ke segala ujung bumi.

Dan untuk semuanya, kita pun dituntut untuk kreatif dalam mencipta, aktif membangun dan progresif menemukan hal-hal baru.

Kita lalu membentuk jaringan relasi dengan orang lain, dan tidak jarang kita bahkan belajar mendengar, berguru dan menyerahkan kepercayaan diri kita pada orang lain. Tentu, ini semua berkenaan dengan "jalan panjang menuju diri."

Paul Ricoeur berkata "soi même come autre." Untuk mengerti diri, kita butuh yang lain. Dengan perkataan lain "the selfhood of oneself implies otherness." Aktualitas pengakuan akan diri sendiri hanya mungkin melalui yang lain.

Tampaknya, untuk sampai pada tahap tertentu untuk memahami diri lebih baik, kita membutuhkan semacam "the synthesis of heterogeneous."

Diri ini tidak pernah cukup. Aku tidak pernah selesai. Selalu masih ada yang perlu dituntaskan: the unfinished project.

 

Penulis adalah dosen STFK Ledalero, lulus program doktoral di Universitas St Thomas, Manila.

Komentar