Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

INTERNASIONAL Jamal Khashoggi dan Perseteruannya dengan Kerajaan Arab Saudi 11 Oct 2018 11:37

Article image
Jamal Khashoggi, wartawan Washington Post asal Arab Saudi yang hilang secara misterius di Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. (Foto: The Standard)
Surat kabar Sabah melaporkan, para pejabat yang tidak disebutkan namanya mengatakan polisi sedang memeriksa kemungkinan Khashoggi diculik dan tidak dibunuh, dengan bantuan petugas intelijen negara lain.

BERITA hilangnya wartawan Washington Post asal Arab Saudi, Jamal Khashoggi menghiasi media internasional beberapa hari terakhir ini. Khashoggi diberitakan hilang secara misterius ketika berada di Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, pada pekan lalu.

Sejumlah kalangan meyakini, jurnalis senior yang bekerja untuk harian “The Washington Post” itu telah dibunuh oleh tim khusus yang dikirim dari Saudi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengungkap kasus ini, termasuk pihak Amerika Serikat (AS).

Pejabat AS di Gedung Putih menyatakan, perwakilan Presiden Donald Trump telah bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman untuk membahas kasus hilangnya Khashoggi.

Seperti dilansir Huffingtonpost.de, Kamis (11/10/2018), Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton dan pejabat senior sekaligus menantu Presiden Trump Jared Kushner berbicara dengan Pangeran Salman pada Selasa (9/10/2018).

Sehari berselang, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo bertemu dengan pemimpin Arab Saudi itu sebagai langkah lanjutan untuk memperoleh penjelasan mengenai nasib Khashoggi.

Dalam rangkaian pembicaraan tersebut, pemerintah AS mendesak pemerintah Arab Saudi agar terbuka dalam semua informasi terkait Khashoggi selama prose penyelidikan oleh otoritas Turki.

 

Dimutilasi

Para pejabat keamanan Turki menyebut jurnalis senior yang getol mengritisi Kerajaan Saudi tersebut, dibunuh di Konsulat Saudi di Istanbul atas perintah dari tingkat tertinggi kerajaan.

Pejabat itu menyebut pembunuhan dilakukan dalam operasi yang cepat dan rumit, dalam waktu dua jam setelah kedatangannya di konsulat oleh tim agen Saudi.

"Mereka memotong-motong tubuhnya dengan gergaji tulang yang mereka bawa untuk tujuan tersebut," kata seorang pejabat senior, kepada The New York Times, Kamis (11/10/2018) sebagaimana dikutip inews.id (11/10/2018).

"Ini seperti 'Pulp Fiction'," kata pejabat itu, merujuk pada film drama kriminal karya Quentin Tarantino pada 1994.

Pejabat itu juga menyebut, 15 agen Saudi tiba dalam dua penerbangan pada Selasa lalu, hari dimana Khashoggi menghilang.

Pada Selasa (2/10/2018), Khashoggi datang ke Konsulat Saudi di Istanbul bersama dengan tunangannya, Hatice Cengiz (36). Mereka berniat mengurus dokumen pernikahan di Konsulat Saudi, namun Khashoggi tak pernah muncul kembali sejak masuk ke konsulat.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan Turki menuntut Saudi memberikan bukti yang membuktikan klaim mereka. Namun, Erdogan sendiri belum secara terbuka menuduh Saudi membunuh Khashoggi dan belum mengungkapkan bukti khusus untuk mendukung tuduhan itu.

Surat kabar Sabah melaporkan, para pejabat yang tidak disebutkan namanya mengatakan polisi sedang memeriksa kemungkinan Khashoggi diculik dan tidak dibunuh, dengan bantuan petugas intelijen negara lain.

Para pejabat Saudi, termasuk Putra Mahkota Mohammad bin Salman, membantah tuduhan tersebut. Dia bersikeras Khashoggi meninggalkan konsulat dengan bebas tidak lama setelah tiba.

Kini polisi Turki sudah diizinkan untuk mencari Khashoggi di konsulat Istanbul.

 BBC Indonesia (11/10/2018) menulis, Jamal Khashoggi meniti karier sebagai reporter ketika sudah berteman dengan Osama bin Laden, sampai kemudian menjadi pembangkang terkemuka Arab Saudi. Akibatnya, Khashoggi harus meninggalkan negaranya.

Keputusannya untuk mengasingkan diri membuatnya harus membagi waktunya antara Amerika Serikat, Inggris dan Turki. Dia meninggalkan Arab Saudi pada September 2017, setelah berbeda pendapat dengan penguasa kerajaan.

Dari luar negeri, dia menyebarkan pandangan kritis terhadap Kerajaan Saudi lewat kolomnya di koran Amerika Serikat, Washington Post, dan akun Twitternya dengan lebih 1,6 juta pengikut.

Pria berumur 59 tahun ini memulai kariernya sebagai wartawan di Arab Saudi setelah lulus dari sebuah universitas Amerika di tahun 1985. Selama bekerja di koran al-Madina di tahun 1990-an, dia banyak menulis tentang milisi berhaluan Islam yang pergi ke Afghanistan untuk melawan invasi Soviet.

Dia beberapa kali mewawancarai satu pria Arab Saudi, Osama bin Laden, yang dia katakan telah dikenalnya sejak masih muda. Saat itu bin Laden belum menjadi tokoh yang dikenal di Barat sebagai pemimpin al-Qaida. Khashoggi mengunjungi bin Laden di gua-gua pegunungan Tora Bora, selain mewawancarainya di Sudan pada tahun 1995.

Beberapa tahun kemudian, Khashoggi sendiri diwawancarai media Jerman, Der Spiegel pada tahun 2011 terkait dengan hubungannya dengan Osama bin Laden.

Khashoggi mengakui telah menyebarkan pandangan bin Laden di masa lalu dengan menggunakan cara tidak demokratis seperti menyusupi sistem politik atau menggunakan kekerasan untuk membebaskan dunia Arab dari rezim korup.

 

Membela reformasi

Sejak saat itu, wartawan ini menjadi salah satu pemikir progresif yang paling banyak menyatakan pandangan tentang negaranya. Khashoggi sering dikutip media Barat sebagai seorang ahli radikalisme Islam.

Dia juga dipandang sebagai salah satu orang yang berada di dalam lingkaran dalam sistem Saudi karena banyak mengenal orang penting. Ia juga bergaul dengan keluarga kerajaan.

Khashoggi bekerja di sejumlah media Arab dan saluran TV, memulai karier sebagai wartawan asing sampai menjadi pemimpin redaksi. Tetapi dia harus dua kali meninggalkan pekerjaannya di koran al-Watan, di tahun 2003 dan 2010, karena tulisannya yang kritis terhadap kelompok Islam yang mendominasi Arab Saudi, pendukung Salafisme yang dikenal akan pemahaman agama yang ketat.

Di antara tahun-tahun itu, Khashoggi meninggalkan Saudi untuk menjadi penasihat media Pangeran Saudi, Turki al-Faisal, mantan pemimpin intelijen yang menjadi duta besar Saudi untuk Inggris dan kemudian untuk AS.

Tahun 2010, miliarder Saudi, Alwaleed bin Talal menugaskan Jamal Khashoggi untuk memimpin stasiun TV barunya yang bermarkas di Bahrain.

 

Pergolakan Arab

Al-Arab dipandang sebagai saingan Al-Jazeera yang didanai Qatar. Tetapi tidak lama setelah diluncurkan, stasiun TV baru di bawah pimpinan Khashoggi ini ditutup karena menyiarkan wawancara dengan tokoh oposisi Bahrain.

Sementara itu Khashoggi juga memberikan sejumlah wawancara dengan media asing, mengecam monarki absolut Arab Saudi dengan mengatakan sistem demokratis diperlukan bagi kestabilan negara di masa depan.

Ketika pergolakan Arab pecah, Khashoggi berpihak pada kelompok oposisi yang mendesak perubahan di Mesir dan Tunisia. Pandangannya sangat bertolak belakang dengan kebijakan resmi Kerajaan Saudi, yang memandang pemberontakan Arab sebagai ancaman.

 

Beda pendapat terkait Trump

Pada Desember 2016, ketika Putra Mahkota Saudi membina hubungan dengan presiden AS yang baru terpilih, Donald Trump, Khashoggi dilaporkan mempertanyakannya. Sejumlah laporan media Arab mengisyaratkan tulisannya tentang masalah ini telah disensor.

Khashoggi juga kritis terhadap keputusan pemerintah Saudi yang memutuskan hubungan dengan Qatar. Dia mendesak kerajaan itu berteman dengan Turki terkait dengan sejumlah masalah kawasan. Negara itu dipandang dekat dengan Qatar.

Wartawan veteran ini lalu pergi ke AS pada bulan September 2017. Khashogi menuduh pemimpin de facto Arab Saudi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, telah menindas para pemrotes.

"Saya meninggalkan rumah saya, keluarga saya dan pekerjaan saya dan saya menyuarakan pandangan saya dengan tegas," katanya," jika tidak melakukannya sama saja dengan mengkhianati orang-orang yang dipenjara. Saya bisa bersuara, sementara banyak orang lain tidak bisa."

"Saya bisa mengatakan Mohammed bin Salman bertingkah laku seperti Putin. Dia menerapkan hukum dengan sangat berpihak," tulisnya lewat kolomnya di Washington Post.

Khashoggi melanjutkan kritikannya terhadap pemimpin Saudi sampai dia memasuki gedung konsulat di Istanbul.

Itulah terakhir kalinya dia terdeteksi.

--- Simon Leya

Komentar