Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

WAWANCARA Jangan Mau Dijadikan Tempat ‘Pembuangan Sampah’ China 24 May 2016 17:37

Article image
FAISAL BASRI, Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia (UI)
Yang paling atraktif bagi investasi asing Tiongkok di Asean adalah Singapura (peringkat ke-2), Malaysia (ke-20), Thailand (ke-38), Filipina (ke-39), dan Vietnam (ke-40). Indonesia urutan ke-44.

DALAM pemberitaan media massa terkesan investasi Tiongkok di Indonesia sangat massif. Ditambah dengan kontroversi proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung yang merupakan proyek bersama (konsorsium) BUMN Tiongkok dan beberapa BUMN Indonesia. Belakangan ini Tiongkok juga menonjol di proyek pembangkit listrik. Namun ternyata peringkat Indonesia dalam China Going Global Investment Index (CGGII) tahun 2015 hanya di urutan ke-44 dari 67 negara. Peringkat Indonesia tahun 2015 tidak berbeda dengan tahun 2014. Pengamat Ekonomi dari Universitas Indonesia, Faisal Basri mengingatkan kehebohan pemberitaan di media massa yang seolah menunjukkan investasi China di Indonesia sangat masif tidaklah terbukti. Faisal menyayangkan kondisi tersebut, sebab menurutnya China merupakan negara penanam modal terbesar ketiga di dunia yang telah melakukan ekspansi sejak 2005 lalu. Selengkapnya dapat disimak dalam wawancara berikut.

Pemberitaan mengenai ekpansi bisnis investor Tiongkok ke Indonesia sangat ramai belakangan ini. Sejalan dengan masuknya Tiongkok dalam konsorsium proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Bagaimana menurut Anda? 

Tiongkok merupakan investor terbesar ketiga di dunia. Sejak Tiongkok melakukan ekspansi ke seantero dunia tahun 2005, investasi langsung ke luar negeri (outbond direct investment) tumbuh rata-rata 35 persen setahun, mencapai 123 miliar dollar AS tahun 2014. Sebagian besar investasi asing langsung Tiongkok mengalir ke negara maju. Banyak lagi yang menjadi tujuan investasi Tiongkok, antara lain Norwegia, Denmark, Swedia, Belanda, Belgia, Austria, dan Spanyol. Semua negara itu dengan peringkat jauh di atas Indonesia (China Going Global Investment Index/CGGII 2015)

Di antara negara ASEAN pun, peringkat Indonesia tercecer. Yang paling atraktif bagi investasi asing Tiongkok di Asean adalah Singapura (peringkat ke-2), Malaysia (ke-20), Thailand (ke-38), Filipina (ke-39), dan Vietnam (ke-40). Memang berdasarkan rencana investasi, Tiongkok cukup menonjol di Indonesia. Namun, realisasinya sejauh ini relatif kecil. Boleh jadi ke depan Tiongkok bakal lebih agresif menanamkan modalnya di Indonesia.

CGGGII menempatkan Indonesia di urutan ke-44 dari 67 negara penerima investasi langsung. Peringkat tersebut tidak beranjak dibandingkan 2014 lalu, yang bahkan lebih rendah dibandingkan Malaysia di peringkat ke-20 meski negara satu rumpun tersebut melorot 5 peringkat posisinya dibandingkan 2014. Berdasarkan indeks tersebut, lima negara teratas yang menyerap paling banyak uang dari China adalah Amerika, Singapura, Australia, Kanada, dan Swiss. Sementara dua negara yang dijauhi pengusaha China untuk berinvestasi adalah Angola dan Libya yang menempati urutan buncit.  

Jadi kehebohan pemberitaan di media massa yang seolah menunjukkan investasi China di Indonesia sangat masif tidaklah terbukti.  Jadi China selama ini lebih banyak fokus menanamkan modal di negara maju.  

Bagaimana dengan proyek kereta cepat yang digarap BUMN China bersama BUMN Indonesia yang sudah dimulau pekerjaanya?

Saya melihat begini. Indonesia jangan mau dijadikan tempat "pembuangan sampah" China terkait proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Saat ini, China kelebihan kapasitas sehingga kesulitan membuang hasil industrinya. Karena itu, mereka harus membuang kelebihan kapasitas tersebut ke seluruh dunia, salah satunya dengan ikut proyek prestisius kereta cepat.  Jangan mau kita buat buang sampahnya Tiongkok dong.

Memang sebanyak 60% pembiayaan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung hasil pinjaman lunak China Development Bank (CDB). Sisanya dibiayai Indonesia melalui konsorsium kereta cepat. Tetapi atas dasar itu, pemerintah jangan terlena dengan pinjaman yang diberikan Negeri Tirai Bambu tersebut. Pasalnya, saat ini kondisi perekonomian China tengah dalam kondisi yang kurang baik. Tiongkok itu kan ekonominya sedang terjerembab.

Selain itu, China juga sedang dihantui demonstrasi dan pemogokan para buruh dan kalangan menengah. Mereka meminta kenaikan upah yang lebih tinggi. Itu karena growing middle class-nya enggak bisa ditekan terus oleh Partai Komunis. Karena itu, mereka minta upah lebih tinggi.

Bagaimana dengan catatan anda terkait proyek tersebut darisi sisi dalam negeri?

Saya melihat ada yang janggal. Presiden Jokowi semoga terjerumus dengan bisikan para menterinya terkait proyek kereta cepat rute Jakarta-Bandung. Banyak hal yang tidak bisa diterima akal sehat dan tidak rasional dalam proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Apalagi, rute yang dipilih adalah Jakarta-Bandung yang notabenenya tidak cocok untuk dibuat transportasi sekelas kereta cepat. Da?sar kereta cepat itu adalah penumpang. Jadi ada hal-hal rasional yang susah diterima dengan akal sehat. Peresmiannya di Walini yang kawasan perekonomian. Orang dari Jakarta atau Bandung, kerjanya di situ kan aneh. Kecuali kalau itu kawasan wisata.

Saya makin tertarik untuk menelaah ini proses awalnya bagaimana. Saya masih percaya sama pak Jokowi, tapi saya rasa ia menerima input bermacam-macam. Saya juga curiga apa kaitannya dengan pinjaman yang diberikan ke Mandiri, BNI, dan BRI yang masing-masing USD 1 miliar. Ini hubungannya apa? Jadi menurut saya harus dibuka dan terang benderang supaya Pak Jokowi tidak dijerumuskan oleh para pembantunya yakni para menterinya. Harus jelas karena tidak ada rasionalitasnya KA cepat Jakarta-Bandung.

Anda pernah menduga ada kepentingan dari Menteri BUMN dalam proyek ini. Bisa dijelaskan?

Ya. Saya membacanya sarat kepentingan pribadi dari Menteri BUMN Rini Soemarno. Urus deal-nya kok bukan Pak Jonan (Menteri Perhubungan)? Ada keanehan-keanehan yang harus disingkap supaya jelas.

Saya juga menyoroti pembentukan konsorsium empat BUMN dalam PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang menjadi mitra China Trailway dalam pengerjaan jalur kereta 142 kilometer. Memang tidak akan menggunakan APBN, namun saya mencium bahwa konsorsium tersebut akan tetap mengeluarkan kocek perusahaan yang diperoleh dari mekanisme Penyertaan Modal Negara (PMN). Saya tidak suka akal-akalan seperti begitu. Jadi, perlu dipertanyakan reputasi Rini Soemarno.

Jadi Presiden Jokowi harus mengevaluasi kembali rencana pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung yang ditargetkan bisa selesai pada 2019 mendatang. Saya itu pendukung Pak Jokowi dan Presiden kita tidak bodoh. Tapi berikan informasi karena prosesnya tidak jelas. Sumber informasinya itu ada yang salah informasi sehingga presiden putuskan itu dengan informasi yang kurang lengkap.

Dengan kondisi perlambatan Ekonomi China saat ini, apa langkah yang tepat yang harus diambil Indonesia?

Realisasi pertumbuhan ekonomi China sepanjang 2015 sebesar 6,9 persen dan diperkirakan bakal berlanjut melempem tahun ini. Ini bisa dimanfaatkan oleh Indonesia untuk mendulang keuntungan. Di saat ekonomi China tengah bertransisi, Indonesia bisa memperoleh manfaat seperti memanfaatkan momentum relokasi industri yang bakal terjadi di sana. Baik milik asing maupun milik perusahaan dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) China.

Meski sedikit terlambat, namun pemerintah bisa segera menawarkan sejumlah insentif untuk bisa menyedot investasi relokasi industri dari China. Sejauh ini, baru Vietnam yang telah banyak menampung pabrik-pabrik yang kabur dari China. Kalau kita bisa menarik 5 persen saja, jutaan tenaga kerja bisa terserap.

Namun, upaya memanfaatkan momentum perlambatan ekonomi China menciptakan tantangan baru bagi Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Pertama, di era pertumbuhan dua digit, komoditas Indonesia banyak diserap oleh China. Bertahun-tahun sampai 2014, ekspor nonmigas terbesar mengalir ke sana. Sejalan dengan penurunan kinerja perekonomian China, ekspor Indonesia ke China turun. Sehingga pada 2015, Amerika menggantikan China sebagai negara tujuan utama ekspor nonmigas terbesar.

Kedua, kelebihan produksi yang tidak terserap di pasar domestik membuat China semakin agresif membidik pasar-pasar yang relatif besar seperti Indonesia.  Tak pelak China tetap saja menjadi negara asal impor terbesar kita, sekitar seperempat dari impor total. Impor dari China tetap kencang juga karena topangan pemerintahnya lewat pinjaman proyek dan penanaman modal.

Jadi pemerintah China mengizinkan industrinya untuk ‘banting harga’ di satu transaksi, namun menyeruput keuntungan dari transaksi yang lain. Oleh karena itu, Indonesia jangan gampang tergiur dengan penawaran murah.

Era pertumbuhan ekonomi dua digit di China telah berakhir sejak memasuki dasawarsa 2010-an. Sejak 2011 pertumbuhan ekonomi China terus menurun tanpa jeda. Apa yang membuat mereka tumbuh akgersif?

Setidaknya ada dua faktor utama yang membuat ekonomi China tak lagi tumbuh agresif. Pertama, pertambahan tenaga kerja produktif melambat akibat kebijakan satu keluarga satu anak yang kemudian direvisi Pemerintah China dengan memperbolehkan satu keluarga memiliki dua anak. Kedua, era upah buruh murah telah berakhir. Ditambah lagi dengan merebaknya aspirasi kelas menengah, terutama dari kalangan buruh. Demonstrasi dan pemogokan makin kerap terjadi di China.

China tengah berjibaku menuju keseimbangan ekonomi baru. Di mana pemerintahnya bertekad mengurangi ketergantungan pada ekspor dengan memacu permintaan domestik. Peranan sektor industri manufaktur secara sadar dikurangi dengan lebih memacu sektor jasa.

Sebagai konsekuensi dari masuknya yuan ke dalam keranjang Special Drawing Rights (SDR), mau tak mau pemerintah China secara bertahap menyesuaikan nilai tukar mata uangnya berdasarkan dinamika pasar. Mau tak mau perekonomian China lebih bergejolak sebagaimana terlihat dari gonjang-ganjing di pasar saham dan tekanan arus modal keluar (capital outflow).

Bagaimana dengan MEA? Apa pandangan Anda?

Saya optimistis kesepakatan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) bisa memberi keuntungan, meskipun dari sisi kesiapan Indonesia tertinggal dari negara lain. Salah satu cara untuk memanfaatkan MEA adalah dengan terus mempermudah investasi asing masuk ke Indonesia.

Negara-negara di luar Asean memandang kawasan Asean sebagai satu pasar sehingga lebih memikat. Produk domestik berdasarkan paritas daya beli (GDP based on purchasing power parity) ASEAN pada 2014 bernilai lebih dari US$6 triliun. Angka itu terbesar keempat setelah China, Amerika, dan India.

Jadi pasar Asean yang relatif besar ini menambah daya tarik investor dari luar dan juga investor dari dalam Asean. Sekalipun MEA terwujud, investasi asing langsung di Asean melonjak tajam dari US$21 miliar pada 2000 menjadi US$112 miliar tahun lalu.

Pada periode yang sama, investasi langsung dari dalam Asean sendiri juga melonjak dari US$0,8 miliar menjadi US$24,4 miliar. Walaupun porsi penanaman modal asing langsung intra-ASEAN relatif rendah, namun peningkatannya lumayan tinggi dari hanya 2,8 persen pada 2000 menjadi 17,5 persen pada 2014.

Tantangan bagi Indonesia?

Tantangan terbesar bagi Indonesia adalah bagaimana menarik sebanyak mungkin penanaman modal asing langsung itu. Bukan hanya menjadikan Indonesia sebagai target pasar semata, melainkan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk pasar regional maupun global.

Indonesia agak tercecer jika dibandingkan Vietnam dan Malaysia yang lebih banyak dipilih sebagai basis produksi oleh produsen kelas dunia. Bahkan, Vietnam belakangan menjadi primadona baru yang akan segera diikuti oleh Myanmar.

Indonesia tidak boleh terpaku pada konsep komoditi unggulan. Kelebihan dari ketiga negara tadi adalah kemampuannya beradaptasi dengan sistem global supply chain. Tiga negara itu mempersiapkan infrastruktur pendukung agar dilirik oleh produsen parts and components.

Banyak kalangan yang mengkhawatirkan serbuan produk impor sebagai salah satu dampak negatif dari pemberlakuan MEA, apa penilaian Anda?

Itu bukan ancaman utama. Pasalnya kerjasama kawasan perdagangan bebas Asean sudah lama berjalan. Jika hendak memperoleh maslahat lebih besar, mau tak mau Indonesia harus memperkokoh industrialisasi agar porsi produk manufaktur dalam ekspor naik signifikan. Hanya dengan meningkatkan ekspor manufaktur Indonesia dapat menikmati additional gains from trade dari peningkatan perdagangan intra-industri.

Tiada jalan mundur bagi Indonesia. Hanya dengan strategi menyerang, negara pimpinan Joko Widodo ini bisa maju dan menjadikan rakyatnya lebih sejahtera.  Jangan karena alasan tidak siap membuat kita semakin menutup diri. Dengan lebih menutup diri dan defensif risikonya adalah keterpurukan relatif lebih dalam. Kita akan semakin tercecer dalam kancah global.

--- Sandy Romualdus

Komentar