Breaking News

OPINI Jejak-Jejak Cinta (Catatan Dua Tahun Kematian Marsel Petu) 26 May 2021 21:41

Article image
Almarhum Marsel Petu, mantan Bupati Ende. (Foto: endenews.com)
Seorang pemimpin memikul tanggung jawab yang berat, memikul amanat dan penderitaan rakyat.

Oleh RD Stefanus Wolo Itu

 

TAHUN 1999 saya merayakan Natal di Boafeo. Tanggal 23 Desember saya berjalan kaki dari Ratesuba menuju Boafeo. Sepanjang jalan saya menjumpai banyak orang.

Mereka melihat saya tertatih-tatih mendaki bukit, turun ke lembah, melewati sungai. Mereka katakan pada saya: "Kami Ata Zonggo te tua. Ndua nuka mbana ai”. Artinya, 'kami orang (ter-) belakang. Pergi pulang jalan kaki'. Saya iba mendengar ungkapan ini dan saat itu mulai menyadari bahwa saya adalah bagian dari "Komunitas Ata Zonggo".

Saya tiba di Boafeo dengan rasa haru. Bangga bisa berjalan kaki cukup jauh. Terharu disapa orang Boafeo dengan sukacita. "Tua kita mai ka, Romo kita se'a ka” (pastor kita sudah datang, Romo kita sudah tiba).

Dari Boafeo saya memandang ke segala arah. Alam indah memesona. Rasa-rasanya sedang berada di kawasan pegunungan Hermon di perbatasan Suriah dan Libanon. Air mengalir dari bukit-bukit kapur Hermon, membentuk sungai Yordan dan melewati tanah Kanaan.

Di cela-cela cadas "kawasan Hermon Boafeo, Wologai, Mbani" mengalir anak sungai Wolomari, Mbakakoja, Mbakakewu, Mbakabita, Lowo Mbani". Anak-anak sungai ini bergabung dengan sungai Mbakaondo membentuk Lowo Rea, melewati Mbotulaka-Woimite, mengairi "Kanaan Mautenda" menuju muara di pantai Ropa. Air dari "pegunungan Hermon Boafeo dan sekitarnya" turut menghidupi tanah terjanji Mautenda.

Di Boafeo inilah saya pertama kali mengenal Marsel Petu. Beliau bersama Bapak Pit dan Mama Tina merayakan Natal di Boafeo. Saya menjumpai beliau sebagai "Ata Boafeo" yang ugahari, human, mengenakan sarung hitam dan kaus oblong.

Malam itu bersama tokoh umat lain, kami menikmati perjamuan di rumah ketua lingkungan Boafeo, abang Petrus Roso. Abang Roso mengeluarkan "Boti Kune atau Ramuan Botol Kuning" untuk kami. "Kita jaga waka tua ata Bajawa, eja kera jo Marsel, mogha kita ata merhe nua Boafeo (kita menjaga martabat dan harga diri Romo orang Bajawa, ipar saya Marsel dan para tokoh Boafeo),” guyon Petrus Roso sambil tersenyum.

Kami ngobrol banyak tema. Mulai dari pemain PERSE Yosef Bebo asal Ngada yang mencetak gol tunggal ke gawang PSN Ngada saat final El Tari Memorial Cup di Ende tahun 1999. Kata Marsel, "Yosef Bebo dihujani makian oleh bangsanya sendiri".

Kami juga berbagi informasi tentang agenda pastoral dan politik pembangunan ke depan. Saya tanya Marsel: "Apa idealisme politikmu ke depan?" Dia jawab sambil tertawa: "Sekarang saya anggota DPRD. Saya punya idealisme menjadi bupati Ende ". Saya memang agak kaget. Tapi saya mengapresiasi idealisme beliau. Idealisme politikus berusia 36 tahun ketika itu. Saya tanya lagi: "Mengapa Marsel mau menjadi bupati Ende? Kan saat ini kultur bupati dari kalangan birokrasi dan militer masih kuat?”

Marsel menjawab, "Ke depan orang yang mau menjadi bupati mesti memiliki partai politik. Saya punya partai politik dan saya nahkoda partai politik Lele Ria, Beringin Besar, Golkar. Saya mau membuktikan bahwa kami Ata Zonggo mampu memimpin. Bintang mesti bisa bersinar dari kawasan Ata Zonggo". Seorang dari "Kezhi Keta" Boafeo mesti bisa membawa masyarakat Ende Lio menuju Kanaan.

Tahun 2009 Marsel dan Stef Tani Temu melalui Paket PETANI coba menghidupi idealismenya. Saat itu mereka belum berhasil merebut hati "para petani".

Saya tanya, "Apakah Marsel kecewa?" "Ini hal biasa untuk kami pekerja politik," jawabannya santai. Dia optimis bahwa suatu saat idealismenya menjadi Bupati Ende terpenuhi.

Saya ingat filosofi Marsel dalam dialek Boafeo: "Genu Jarha Pedhu, Wena Zhako Nggena". Artinya dia adalah kuda lumba. Kuda lumba harus terus berlatih dan dirawat. Jarha pedhu pasti dicintai tuan dan para pendukungnya. Dia adalah juga anjing pemburu. Zhako Nggena, menggonggong, mengejar, menggigit dan meraih buruannya. Anjing pemburu dicintai tuan dan para pemburunya.

"Jao iwa so ata Jarha Wua atau Zhako Porhu", katanya lebih lanjut. Artinya saya bukan kuda pemikul beban. Tugasnya hanya pikul dan kadang kurang mendapat perhatian. Saya juga bukan anjing piaraan rumah. Hanya bisa gonggong, tanpa pernah menggigit. Anjing pemburu menggonggong dan menggigit saat kera jatuh dari pohon. Anjing piaraan rumah tetap saja gonggong dari jauh.

Filosofi "Genu Jarha Pedhu dan Wena Zhako Nggena" mengungkapkan idealisme perjuangan politik berkualitas. Untuk menjadi bupati, Marsel butuh idealisme dan kualitas-kualitas lain. Supaya orang tahu idealisme dan kualitas kita, ya harus ikut berpacu dan berburu. Bila kualitas kita baik, kita bisa mewujudkan idealisme kita.

Tahun 2014, Marsel dan Djafar Ahmad mengikuti pilkada dan memenangkan perlombaan pada putaran kedua. Filosofi "Genu Jarha Pedhu dan Wena Zhako Nggena" di Ratebhajo Boafeo 15 tahun sebelumnya terjawab.

 

Idealisme politik

Marsel sering ungkapkan Sua Sasa atau Doa Adat dalam budaya Ende Lio. "Jao so sai rhama nggena, jao tau tambu kema ghena. Jao So sai kezhi keta. Jao rhama sai mesi meta. Mbo jo, mborhe wozho, kako jo jembu ndetu". Artinya dia punya komitmen untuk menggapai cita-cita. Cita-cita memajukan Ata Zonggo yang mendiami kawasan dingin pegunungan. Tapi juga cita-cita memajukan "orang-orang Ndetu" atau kawasan kota dan wilayah lain yang sudah lebih maju. Ya, sebuah idealisme politik dengan spirit egaliter. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Ata Zonggo dan Ata Nia, ata Kezhi dan ata Ndetu harus sama-sama dari Nia Pase Rha'e utu Ende Lio Nage sare pawe.

Marsel menjadi bupati Ende dengan filosofi budaya dan narasi kerakyatan. Dia menjadi "Mosa Ulu Beu Eko Bewa Ata Ende Lio" dengan spirit kamu lima (lima akar).

Saya mendengar istilah kamu lima ini dari sahabat saya Goris Gesi Raja, warga kawasan Ata Zonggo dari Mbotulaka- Woimite. Goris yang saat ini menjadi salah satu mentor lintas agama di Solo Jawa Tengah mencatat "Kamu lima atau lima akar".

Pertama, Du,a rheta lulu wula, Nggae rhare wena tana. Pemimpin harus mengakui bahwa di atas jagat raya ada yang Illahi. Di bawah bumi ada para leluhur.

Kedua, ria tau dari nia, bewa tau pase rha'e. Pemimpin adalah pembesar dan pemberi teladan. Pembesar yang merangkul semua orang sebagai saudara.

Ketiga, bou mondo ngere tewu owo, mboka ngere ki, bere ngere ae. Pemimpin dan rakyat harus bersatu seperti tebu, sama sama jatuh seperti alang-alang, hanyut bersama seperti air di sungai. Pemimpin mesti merasa senasib dgn rakyatnya.

Keempat, timba tato mae wizho wazho. Mbabho nggajo mae gizho gazho. Pemimpin dan rakyat sering bermusyawarah bersama untuk menemukan keputusan dan langkah tindakan yg tepat.

Kelima, tipo gao ana harho, pama fai wazhu. Artinya menggandeng yatim piatu dan merangkul yang tak berpunya.

Marsel getol memperjuangkan kota Ende sebagai Kota Pancasila yang memiliki nilai plus. Dia coba menghidupkan tradisi dan warisan kultural di kota sejarah ini. Saya berpikir bahwa Soekarno bisa merumuskan Pancasila tidak hanya karena perjumpaan dengan para misionaris Eropa. Tapi juga karena perjumpaan dengan "Ata Merhe Nua" Ende Lio dengan kekayaan filsafat lokalnya.

Seorang pemimpin memikul tanggung jawab yang berat, memikul amanat dan penderitaan rakyat. Marsel selalu ungkapkan: "Kami su'u rheta wuwu, wangga gha warha, tane rhare ate". Artinya kami menjunjung amanat itu di ubun-ubun, pikul di pundak dan tanam dalam hati.

Dua tahun sudah Marsel menghadap Sang Khalik. Saya menulis catatan kini karena saya dan Marsel "Ari Ri'a Kae Pawe" (kami sahabat rasa saudara). Saya orang Bajawa rasa Ende. Orang Wolorowa rasa Boafeo.

Nama Marsel masih selalu terukir dalam hati sanubari orang Ende Lio dan para sahabat. Saya ingat Albert Schweitzer, teolog, filsuf, dokter dan musikus. Dia meraih hadiah Nobel Perdamaian tahun 1952.

Satu ungkapan terkenal beliau: "Das einzig Wichtige im Leben sind die Spuren, die wir hinterlassen, wenn wir weggehen". Artinya hal terpenting dalam hidup yang kita tinggalkan saat kita pergi adalah jejak-jejak cinta.

Marsel sudah pergi, tapi meninggalkan jejak-jejak cinta. Tentu ada gagasan membangun monumen Marsel Petu. Tapi jangan lupa satu yang penting. Kata Albert Schweitzer lebih lanjut: "Das schönste Denkmal, das ein Mensch bekommen kann, steht im Herzen seiner Mitmenschen". Monumen terindah yang dimiliki seorang manusia adalah ketika dia tetap diingat dan hidup dalam hati sesamanya. Marsel, semoga engkau beristirahat dalam damai.

 

Penulis adalah pastor yang pernah berkarya di kawasan Ata Zonggo, Lio, Flores, saat ini misionaris di Swiss.

Komentar