Breaking News
  • Indonesia lampaui rata-rata standar keselamatan penerbangan dunia
  • Pemerintah realisasikan subsidi angkutan kargo udara di Papua
  • Pemerintah upayakan 2018 tanpa revisi APBN
  • Randi Anto pimpin Jamkrindo

SASTRA JEJAK SUNYI DEMOKRASI (Puisi) 23 Sep 2017 13:56

Article image
Ilustrasi demokrasi. (Foto: Ist)
Soal bhineka, indonesia rumah beradab warga bangsa, tanpa sekat!

Oleh Guche Montero

 

 

Pada haribaan pertiwi

Tonggak histori laten jadi intrik

Hasrat jiwa remuk rasa

Terseret musim penuh alibi

Cukup sudah adrenalin hipokrasi

Titik histori jangan lagi sulam emosi

Di simpul nadir, ikhtiar maaf terpahat di pusara nurani

 

Senja sudah usia Bangsa

Embun muda menggenang di jalanan

Tidak untuk memupuk citra

Apalagi merawat simpati kerdil esensi

Cerita hilir tidak semata seremoni

Hingga di ufuk benang kusut kembali dirajut

Kisruh di hulu tak luput dari siasat

Rakyat lupa apa kata wakilnya

Memaksa legislasi jadi doktrin?

Demokrasi bukan slogan setengah hati

 

Musim puasa tuhan sudah lewat

Litani doa jelata hampir terseret angin tenggara

Pada sukma sejarah

Nadi sang saka berkibar bakti

Titah demokrasi jadi pilar kunci ke pelosok negeri

Soal bhineka, indonesia rumah beradab warga bangsa, tanpa sekat!

 

Wajah demokrasi tidak semata retorika tanpa kendali logika

Intuisi tergelincir lebih mirip ombak berbuih

Sinisme yang wajar tidak mesti dipaksa jadi doktrin legitim

"Republik mimpi" sudah lama tersisih, histori jadi naif

 

Jejak sunyi demokrasi lahirkan rahasia

Tak kunjung berujung pada rambut dengan debu

Potret demokrasi soal imaji mendidik generasi

Menepis gemuruh empati

Hijrahkan litani jiwa kaum jelata

Republik ini milik kita.!

 

Kini pada titik nadir demokrasi

Jejak bernyali jadi kiprah paling mesti

Saat musim yang pasti datang kembali, nanti

 

Doa bangsa jadi amanah terjanji

Untuk negeri, demokrasi tak lebih tua dari usia

Demokrasi beradab

Niscaya bangsa bermartabat!

 

***

Komentar