Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

INFRASTRUKTUR Jembatan Senilai Rp 5,1 Triliun di Flotim Tetap Dibangun 29 Aug 2018 12:27

Article image
Maket Jembatan Pancasila Palmerah yang menghubungkan Flores Timur dan Adonara. (Foto: ist)
Pembangunan jembatan Palmerah Pancasila yang menghubungkan Pulau Flores dengan Pulau Adonara di Kabupaten Flores Timur dan pembangkit listrik tenaga arus laut Selat Gonzalu tetap dibangun.

KUPANG, IndonesiaSatu.co -- Juru Bicara Konsorsium Belanda Latif Gau menegaskan proyek Jembatan Pancasila Palmerah yang dilengkapi dengan turbin pembangkit listrik tenaga arus laut (PLTAL) di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap dibangun.

"Belanda sangat serius, hanya saja belum bisa terealisasi karena sedang proses di birokrasi pemerintah Indonesia," kata Latif Gau kepada Antara melalui surat email dari Belanda, Rabu (29/8).

Ia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan rencana pembangunan Jembatan Palmerah Pancasila yang menghubungkan Pulau Flores dengan Pulau Adonara di Kabupaten Flores Timur dan pembangkit listrik tenaga arus laut Selat Gonzalu.

Rencananya, kata Latif, peletakan batu pertama pembangunan proyek bernilai triliunan rupiah ini dilakukan pada September 2018 ini.
Menurut dia, PT Tidal Brigde sangat siap untuk memulai pelaksanaan proyek tersebut, bahkan dana dari Pemerintah Belanda juga sudah siap untuk membiayai pengerjaan proyek tersebut.

"Teknologi dan para ahli untuk proyek tersebut juga sudah siap, tapi pemerintah Indonesia yang punya birokrasi," katanya.
Ia menambahkan, jikalau semua proses ini berjalan lancar, maka pada September 2018 ini, pihaknya sudah bisa melakukan peletakan batu pertama, setelah sekian kali ditunda.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Nusa Tenggara Timur, Andre W Koreh secara terpisah mengatakan, pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Flores dengan Pulau Adonara itu tetap dilaksanakan, meski masih mengalami kendala teknis.

"Pembangunan jembatan Pancasila Palmerah tetap dilaksanakan. Jadi tidak berhenti hanya pada rencana peletakan batu pertamanya," katanya.

Menurut dia, pembahasan tentang kelanjutan pembangunan jembatan Palmerah baru dilakukan pada (24/7/2018) lalu di Jakarta dengan Kementerian ESDM.

Rapat tersebut membahas studi konektivitas dengan pihak Perusahan Listrik Negara (PLN) yang dipaparkan oleh pihak Konsorsium dari Belanda PT Tidal Brigde.

Latif Gau berharap agar pembangunan jembatan layang itu segera mulai, namun urusan administrasi dengan pihak PLN belum juga tuntas, serta masih menunggu persetujuan dari Bappenas.

Tidal Bridge BV, perusahaan konsorsium asal Belanda menawarkan agar jembatan itu dipasang turbin untuk pembangkit listrik. Hasil survai Tidal Bridge juga sangat mengejutkan. Di selat yang akan dibangun jembatan itu ternyata memiliki potensi arus laut yang bisa digunakan untuk menghasilkan energi listrik. Di bawah jembatan itu akan dipasang turbin yang bisa menghasilkan energi listrik. Inilah yang membuat Tidak Bridge tertarik.

Berdasarkan penelitian BPPT tahun 2008, potensi arus laut di lokasi yang akan dibangun jembatan itu memiliki kecepatan antara 4-8 meter per detik. Padahal menurut ahli, agar arus laut bisa menghasilkan energi, kecepatannya cukup 2 meter sampai 2,5 meter per detik.

Energi yang akan dihasilkan arus laut di jembatan ini berpotensi sampai dengan 300 MW. Sementara kebutuhan energi listrik untuk seluruh Flores saja hanya 92 MW.

--- Simon Leya

Komentar