Breaking News

REGIONAL Jemput Jenazah PMI NTT ke-111, JarNas Anti TPPO: Negara Wajib Hadir dan Buktikan 28 Nov 2019 17:08

Article image
JarNas Anti-TPPO dan elemen pegiat kemanusiaan NTT saat penjemputan jenazah Reinaldo di Bandara El Tari Kupang. (Foto: Dok. JarNas)
Gabriel meminta agar Negara wajib hadir dan menyikapi secara serius persoalan kemanusiaan akut yang terus melilit dan menjadi stigma negatif Provinsi NTT.

KUPANG, IndonesiaSatu.co-- Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali mendapat kiriman jenazah Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari negeri Jiran, Malaysia.

Menurut Surat Keterangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur, dengan Nomor 1060/SK-JNH/11/2019 menyatakan bahwa Reinaldo Wangge (usia 30 tahun) asal Desa Koanara, kecamatan Kelimutu, kabupaten Ende, NTT, telah meninggal dunia pada tanggal 22 November 2019 di Rumah Sakit Gua Musang, Kelantan, Kuala Lumpur.

Menurut data Jaringan Nasional Anti-Tindak Pidana Perdagangan Orang (JarNas Anti-TPPO) hingga November 2019, jenazah Reinaldo merupakan korban ke-111 PMI asal NTT yang meninggal di luar negeri.

Sekretaris II JarNas Anti-TPPO, Gabriel Goa, kepada media ini, Kamis (27/11/19) mengaku prihatin dengan angka kematian PMI asal NTT yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

"Ini keterlaluan. Pemerintah Pusat, Pemprov NTT, BNP2TKI, dan segenap staleholders harus menyikapi bencana kemanusiaan serius yang sedang melanda NTT. Ini kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) yang harus disikapi secara luar biasa pula," kata Gabriel saat menjemput jenazah Reinaldo di Bandara El Kupang bersama Pendeta Emmi Sahertian  dan jaringan pegiat kemanusiaan NTT.

Negara Wajib Hadir

Gabriel meminta agar Negara wajib hadir dan menyikapi secara serius persoalan kemanusiaan akut yang terus melilit dan menjadi stigma negatif Provinsi Kepulauan ini.

"Negara melalui Pemprov NTT, BNP2TKI, BP3TKI NTT, dan para penegak hukum harus terus bersinergi dengan segenap elemen pegiat kemanusiaan baik daerah, nasional maupun internasional guna mengatasi persoalan ini. Hentikan segera bencana kemanusiaan ini. NTT bukan Nusa Peti Mati," tegas Gabriel.

Ia mengaku, mayoritas PMI asal NTT yang meninggal di Malaysia, mayoritas tidak mengantongi dokumen resmi (ilegal) sehingga menyulitkan proses pengiriman jenazah termasuk jaminan kerja bagi keluarga korban.

"Negara harus menjamin Hak Asasi setiap warga negara termasuk dalam hal pekerjaan dan penghidupan yang layak. Juga jaminan terhadap keluarga korban," harapnya.

Ende Peringkat Teratas

Menurut data dari Komisi Keadilan dan Perdamaian Pastoral Migran dan Perantauan (KKPP-MP) Kevikepan Ende, tercatat Kabupaten Ende telah menerima 24 jenazah sepanjang tahun 2019, dan peringkat pertama di NTT dalam kasus kematian tenaga kerja ilegal di Negara Malaysia.

“Jumlah kematian migran justru meningkat setiap tahun. Kabupaten Ende masih posisi tertinggi di NTT dengan menerima 24 jenazah dari Malaysia selama tahun ini,” lata Pastor Reginald Pi Perno dari KKPP-MP seperti dilansir voxntt.com, Senin (25/11/19).

Dari jumlah keseluruhan di NTT sebanyak 111 jenazah TKI yang dipulangkan, Kabupaten Ende masih posisi tertinggi.

Pastor Perno membandingkan dengan beberapa kabupaten lain yang justru terus menurun.

Misalnya, Kabupaten Malaka sebanyak 14 orang, Kabupaten Flores Timur 12 orang dan Kabupaten TTS sebanyak 9 orang.

Sementara Kabupaten TTU sebanyak 7 orang, Kabupaten Kupang 7 orang, Sumba Barat Daya (SBD) 6 orang, Belu 5 orang, Kota Kupang 5 orang, Manggarai 3 orang dan Kabupaten Nagekeo dan Sikka masing-masing 2 orang.

Sedangkan Kabupaten Lembata, Manggarai Timur, Sumba Barat, Rote Ndao dan Kabupaten Sabu Raijua masing-masing 1 orang.

--- Guche Montero

Komentar