Breaking News

INTERNASIONAL Jerman Kirim Pesawat Militer Jemput Pasien Corona Italia 28 Mar 2020 15:57

Article image
Pesawat Airbus 310 MedEvac milik Angkatan Udara Jerman. (Foto: spiegel.de/DPA)
Langkah Jerman merupakan wujud solidaritas setelah seluruh rumah sakit di wilayah utara Italia tak mampu menampung dan merawat pasien Covid-19.

BERLIN, IndonesiaSatu.co -- Pemerintah Jerman telah mengirim sebuah pesawat khusus militer untuk mengangkut sejumlah pasien Covid-19 dari Bergamo, Italia, pada Sabtu pagi ini (28/3/2020).

Seperti dilansir Spiegel Online, langkah Jerman itu merupakan wujud solidaritas setelah seluruh rumah sakit  di wilayah utara Italia tak mampu menampung dan merawat pasien Covid-19.

Pesawat militer berjenis Airbus A310 MedEvac yang memiliki fasilitas perawatan intensif tersebut akan membawa para pasien Covid-19 dari Bergamo ke kota Koeln, Jerman, pada Sabtu sore ini.

Menteri Pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer mengatakan, pemerintah Jerman memiliki kewajiban untuk membantu negara-negara sahabat yang sedang mengalami bencana atau musibah.

“Di tengah bencana besar seperti saat ini, kita harus siap membantu para sahabat kita. Ini adalah tanda solidaritas yang penting bagi persatuan Eropa,” ujar Kramp-Karrenbauer seperti dikutip dari Spiegel.de, Sabtu (28/3/2020).

Para pasien Corona dari Italia akan dirawat di rumah sakit sipil di Koeln.

Selain itu, pemerintah negara bagian Nordrhein-Westfallen juga akan menyiagakan sejumlah rumah sakit sipil di Duesseldorf untuk menampung dan merawat pasien-pasien COvid-19 dari Italia dan juga Prancis.

Menurut informasi Deutsche Presse-Agentur, armada Airbus-MedEvac merupakan bagian penting dari proses penyelamatan personil yang cedera parah dan kritis dan harus dievakuasi jarak jauh.

Pesawat tersebut dapat mengangkut sedikitnya 44 tempat tidur untuk pasien, enam di antaranya ditempatkan di unit perawatan intensif.

Sementara itu, Prancis diketahui akan meminta bantuan medis kepada pemerintah Jerman untuk ikut menangani pasien-pasien Covid-19 dari negaranya. Akan tetapi, sejauh ini belum ada permintaan resmi kepada otoritas terkait di Berlin.

--- Rikard Mosa Dhae