Breaking News
  • 12 parpol lama lolos verifikasi faktual
  • 150 ton bahan narkoba asal China gagal masuk ke Indonesia
  • Eropa murka, siap jawab tantangan perang dagang Donald Trump
  • KM Pinang Jaya tenggelam di Laut Jawa akibat cuaca buruk
  • Presiden Jokowi masih pertimbangan Plt Gubernur dari Polri

ANALISIS MILITER Jet Tempur F-22 Raptor dan Konflik di Semenanjung Korea 18 Feb 2016 02:22

Article image
Jet tempur siluman F-22 Raptor. (Foto: Ist)
Kecanggihan dan keandalan F-22 Raptor kini menjadi salah satu "sandaran udara" bagi Korsel menghadapi tekanan dan ancaman Korut.

Oleh: Valens Daki-Soo*

 

MILITER Amerika Serikat (AS) akhirnya mengerahkan empat pesawat jet tempur andalannya dari generasi kelima F-22 Raptor ke Korea Selatan (Korsel). Dari basisnya di pangkalan udara Okinawa Jepang, Angkatan Udara AS mengirim empat pesawat pemburu bertipe siluman (stealth) tersebut ke pangkalan udaranya di Pyeongtaek, di dekat ibukota Korea Selatan, Seoul, Rabu (17/2). Aksi ini dibaca sebagai respons atas situasi dan eskalasi ketegangan yang kian memuncak di Semenanjung Korea.

Ketegangan kian melonjak antara Korea Utara (Korut) dan Korsel menyusul aksi peluncuran roket pembawa satelit oleh Korut yang dianggap negara-negara Barat sebagai tameng untuk uji coba rudal balistiknya, pada 7 Februari 2016. Sebelumnya, Korut juga pada awal Januari 2016 melancarkan uji coba bom hidrogen yang jauh lebih berdaya rusak secara massal dibanding bom atom yang dikenal selama ini.

Letnan Jenderal Terrence O'Shaughnessy dari Angkatan Udara AS mengatakan, pengerahan pesawat itu untuk menegaskan 'komitmen kuat' atas pertahanan Korea Selatan. AS menggelar sekitar 28.000 personil militer di Korsel untuk melindungi sekutu dekatnya itu.

AS juga telah mengerahkan sistem rudal pertahanan Patriot ke Korsel. Pada tanggal 8 Februari lalu, Pentagon mengungkap rencananya untuk menyebarkan sistem rudal pertahanan THAAD untuk menangkis rudal anti-balistik Korut. Meski rencana ini ditentang keras oleh Tiongkok yang merasa ikut terancam, hampir pasti pemasangan sistem pertahanan anti rudal itu tetap digelar.

Mengenal F-22 Raptor

F-22 Raptor adalah pesawat tempur siluman buatan Amerika Serikat. Mulanya pesawat ini dirancang untuk menentukan dan menegaskan keunggulan udara (air superiority) guna menghadapi pesawat tempur rival bebuyutannya, Rusia. Meski disasarkan untuk pertempuran udara, jet siluman ini juga dilengkapi persenjataan untuk serangan darat, peperangan elektronik dan sinyal intelijen.

Sebuah jurnal militer mengungkapkan, pesawat ini diproduksi melalui fase pengembangan yang panjang. Versi prototipenya diberi nama YF-22, lalu diberi nama F/A-22 dan akhirnya dinamakan F-22A sejak resmi dipakai pada Desember 2005.

F-22 dirancang untuk membawa peluru kendali udara-ke-udara yang tersimpan secara internal di dalam badan pesawat agar tidak mengganggu kemampuan silumannya. Peluncuran rudal ini dilakukan dengan membuka katup persenjataan lalu mendorong rudal ke bawah melalui sistem hidraulik.

Pesawat ini juga bisa membawa bom, seperti  Joint Direct Attack Munition (JDAM) dan Small-Diameter Bomb (SDB) yang lebih mutakhir. Selain secara internal, pesawat ini juga dapat membawa persenjataan pada empat titik eksternal, namun opsi ini bisa tidak dipakai karena dapat mengurangi kemampuan siluman, kecepatan dan kelincahannya.

Sebagai senjata cadangan, F-22 membawa meriam otomatis M61A2 Vulcan 20 mm yang tersimpan di bagian kanan pesawat. Meriam ini membawa 480 butir peluru dan dapat ditembakkan secara terus-menerus sampai pelurunya habis selama sekitar lima detik. F-22 dapat menggunakan meriam ini ketika bertarung tanpa terdeteksi, terutama ketika rudal sudah habis dilesakkan.

Dua raksasa dirgantara AS berjasa dalam pembuatan jet tempur hebat ini. Lockheed Martin Aeronautics merupakan kontraktor utama yang bertanggung jawab membuat sebagian besar badan pesawat, persenjataan dan perakitan F-22. Sementara Boeing Integrated Defense Systems memproduksi sayap, peralatan avionik serta menyediakan pelatihan pilot dan perawatan pesawat.

F-22 versus Sukhoi Su-35

Kendati diandalkan AS dan para sekutunya, kalangan analis militer menilai, F-22 Raptor mungkin sulit mengalahkan alias "kalah unggul" jika dihadapkan dengan jet tempur garang dari Rusia, Sukhoi Su-35. Jet tempur ini juga akan segera dibeli Indonesia untuk memperkuat TNI AU dalam rangka meningkatkan "air superiority".

Sejak diproduksi pada 2007, kemunculan perdana jet tempur Su-35 19 pada February 2008 langsung menjitak perhatian kalangan analis pertahanan, industri dirgantara dan dunia militer. Sejak penampilan pertamanya pada ajang Paris Airshow 2013, banyak kalangan menilai pesawat ini lebih "jago" ketimbang F-22 Raptor andalan Angkatan Udara (AU) AS.

Menurut laman nationalinterest.org, eksibisi Su-35 bikin seorang pejabat senior militer AS terperangah saat melihat jet itu mampu bermanuver dengan sangat lincah di udara. Bahkan, dia menyebut Su-35 lebih berbahaya jika dibandingkan F-22 Raptor.

"Pesawat yang luar biasa dan sangat berbahaya, apalagi jika mereka (Rusia) membuatnya secara massal," kata pejabat senior AS tersebut.

Sebagaimana dilansir laman Russia Beyond The Lines, karakteristik Su-35 telah mengambil alih peran generasi kelima jet tempur AS yang diproduksi sejak 1996 lalu. Irbis radar-control yang terpasang pada pesawat buatan Rusia itu mampu mendeteksi 30 target dalam jarak maksimal 400 km. Sedangkan radar jenis AN/APG-77 yang terpasang pada F-22 hanya mampu melihat jet tempur lawan sejauh 240 km saja.

Kalau soal kecepatan, Su-35 hanya terpaut 'kalah' sedikit dari F-22. Namun Su-35 unggul jauh dalam hal kemampuan atau daya jelajah.  Su-35 bisa melesat hingga 2.390 km per jam dan mampu menempuh jarak hingga 4.500 km, sedangkan kecepatan maksimal F-22 mencapai 2.410 km per jam dengan jarak tempuh 2.000 km.

Modernisasi yang dilakukan Rusia terhadap Su-27 membuat sistem pertahanan Su-35 jauh lebih prima. Meski beberapa jet tempur AS memiliki radar jenis Active Electronically Scanned Array (AESA), dengan teknologi Irbis-E, Su-35 bisa menangkis serangan jamming yang dilancarkan oleh pesawat musuh.

Seperti dilansir nationalinterest.org, seorang penerbang F-22 yang berpengalaman menilai Su-35 sulit dikejar apalagi dihancurkan. Dia mengakui, F-22 tidak bisa terdeteksi di radar lawan karena mengandalkan mode stealth, namun untuk mencari dan menjatuhkan Su-35 sulit dan butuh waktu lama.

Betapapun, kecanggihan dan keandalan F-22 Raptor kini menjadi salah satu "sandaran udara" bagi Korsel menghadapi tekanan dan ancaman Korut.

 

* Penulis adalah pengamat militer

Komentar