Breaking News

NASIONAL Ketua ICMI Jimly Asshiddiqie: Masyarakat Tidak Boleh Pecah Karena Beda Pilihan Politik 27 Sep 2018 13:55

Article image
Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie. (Foto: Ist)
Penyelenggara KPU dan dan Bawaslu hendaknya juga bekerja secara profesional sesuai aturan, agar potensi umat dan bangsa terpecah belah semakin sempit.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Masyarakat Indonesia diharapkan agar tidak berpecah belah hanya gara-gara berbeda pilihan politik pada pemilu legislatif dan pemilihan presiden 17 April 2019. Potensi perbedaan cukup besar mengingat saat ini sudah memasuki tahun politik.

“Pilpres sekarang menjadi sorotan, potensi terbelah dukungan sangat mungkin. Saya berpesan jangan terpecah belah karena beda pilihan (politik),” ujar Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie ketika membuka Konsolidasi Pemantapan dan Persiapan Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) ICMI ke-28 di Bandar Lampung, Rabu (26/6/2018).

Menurut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu, untuk mengatasi hal tersebut tugas cendikiawan menjadi sangat penting untuk saling memperkuat rasa persatuan antarumat. Meskipun anggota ada yang politisi, namun secara kelembagaan ICMI harus netral dalam  mempersatukan umat dan bangsa ini.

Selain itu, penyelenggara KPU dan dan Bawaslu hendaknya juga bekerja secara profesional sesuai aturan,agar potensi umat dan bangsa terpecah belah semakin sempit, karena masing-masing tugas lembaga berjalan sesuai dengan koridornya.

Menurut dia, organisasi ICMI yang berisi cendikiawan dan kaum intelektual, berpikir dengan melihat jangka panjang. Sedangkan politisi berpikir ikut yang menang dan lima tahunan saja.

“Kita berpikir jangka panjang untuk saling menjaga negeri ini," katanya.

Saat memberikan kulaih umum di hadapan mahasiswa baru Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Jimly menekankan arti pentingnya hidup berbangsa dalam bernegara serta memiliki karakter dalam jiwa anak bangsa. Kepada mahasiswa baru dan mahasiswa lama, ia meminta untuk mengamalkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

Menurutnya, wawasan kebangsaan merupakan cara pandang bangsa untuk mengetahui dan memahami prisip-prinsip dasar negara. Dalam prinsip tersebut masyarakat perlu menghayati arti Bineka Tunggal Ika sebagai lambang pemersatu bangsa.

“Sebagai anak bangsa Indonesia, kita patut menghargai apa yang telah diperjuangkan para pendahulu yang telah memerdekakan bangsa. Melalui kuliah umum ini mari kita jaga bersama rasa persatuan bangsa dalam bingkai negara Reprublik Indonesia,” pungkasnya.

--- Redem Kono

Komentar