Breaking News

POLITIK Jimly Asshiddiqie: Oposisi Wajar dalam Demokrasi 26 Jul 2019 06:34

Article image
Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie. (Foto: Ist)
Kekuatan oposisi yang terlalu kuat justru akan mendikte proses pengambilan politik yang seharusnya berada di tangan presiden.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Oposisi merupakan hal yang wajar dalam demokrasi sebagai pengimbang sistem kekuasaan. Namun, kekuasaan oposisi hendaknya tidak terlalu kuat.

"Oposisi sifat alamiah demokrasi, demokrasi tidak akan bekerja jika tidak ada checks and balances itu hukum kehidupan," kata Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie di Jakarta, Kamis (25/7/2019).

Istilah apa pun yang digunakan, lanjut dia, kelompok pengimbang maupun oposisi merupakan istilah yang harus ada namun besaran kewenangannya harus dijaga.

"Harus ada (oposisi) tapi jangan terlalu kuat tapi jangan terlalu lemah," ujar mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu.

Menurutnya, kekuatan oposisi yang terlalu kuat justru akan mendikte proses pengambilan politik yang seharusnya berada di tangan presiden. Sedangkan, jika terlalu lemah, pemerintah tidak akan ada yang mengontrol sehingga berakibat pada runtuhnya sistem demokrasi yang dimiliki Indonesia.

Selain itu, Jimly turut mengapresiasi pertemuan Prabowo-Jokowi dan Prabowo-Megawati. Menurutnya, pertemuan tersebut sebagai lambang bahwa sudah saatnya rakyat Indonesia kembali bersatu pasca polarisasi Pemilu 2019.

"Saya senang sekali itu memberi sinyal pada rakyat sudah move on," pungkasnya.

--- Redem Kono

Komentar