Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

SOSOK Joni Gama, Penjaga Marwah Sang Saka dari Perbatasan 18 Aug 2018 08:04

Article image
Aksi Joni memanjat pohon demi berkibarnya Sang Saka Merah Putih. (Foto: Ist)
Aksi heroik Joni mengundang decak kekaguman dan kebanggaan. Joni dinilai membangkitkan semangat patrotisme, semangat cinta tanah air.

PETUGAS HUT ke-73 Republik Indonesia dan masyarakat yang hadir dalam upacara memperingati HUT Ke-73 Kemerdekaan RI di di Pantai Motaain, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendadak ribut sekaligus bingung. Penyebabnya adalah tali bendera untuk menaikkan Sang Saka Merah Putih tersangkut di bagian paling atas tiang bendera. Dibutuhkan seseorang untuk melepaskan tali yang tersangkut tersebut.

Tepat pada saat itu muncul sosok Yohanes Gama Marchal Lau (14) alias Joni, siswa SMP Silawan. Pada pukul 09.00, Joni merasa pusing karena tidak sempat sarapan dari rumah. Joni yang kini masih dibangku kelas 1 itu, dilarikan ke tenda kesehatan untuk mendapatkan perawatan.

Saat sedang dirawat dan sudah diberikan makan, tiba-tiba Joni mendengar pengumuman yang meminta agar siapa yang bisa memanjat tiang bendera. Seketika itu pula, ia langsung membuka sepatunya dan berlari ke arah tiang bendera dan memulai memanjatnya. Ia memanjat tiang bendera atas inisiatif sendiri.

"Saya juga lihat sudah banyak orang yang panik, sementara bendera juga sudah mau dikibarkan jadi saya langsung panjat tiang bendera tanpa pikir panjang lagi," tuturnya.

Sempat tiang itu bergoyang saat tubuh sang bocah berada di ujung. Namun, para peserta upacara di bawah sigap menahan tiang itu. Setelah berada di paling atas, Joni lantas memperbaiki tali ke posisi awal, yaitu di as rodanya. Setelah itu dia kembali turun dari tiang.

Suara tepuk tangan bertalu-talu terdengar dari peserta upacara yang menyaksikan aksi heroik Joni itu. Berkat jasanya, upacara HUT ke-73 RI dilanjutkan dan tetap berjalan.

Urusan memanjat termasuk aktivitas sehari-hari Joni. Ia mahir memanjat karena sering memanjat pohon asam, sekaligus membantu orang tuanya memilih asam untuk dijual di pasar demi keperluan sehari-hari. Karena itu setelah memanjat tiang bendera dan melepaskan talinya, ia pulang ke rumah. Joni sama sekali tidak menduga bahwa aksi heroiknya demi menjaga kehormatan Merah Putih akan mengubah takdirnya.

Adalah Ika Silalahi, diplomat Sesdilu 61 yang memvideokan aksi Joni memanjat tiang bendera. Ia mengaku membuat video tersebut tidak lepas dari nalurinya sebagai seorang Ibu. Ia khawatir dengan keselamatan Joni ketika memanjat tiang bendera. Namun di saat bersamaan, sebagai seorang Ibu, Ika juga yakin dengan kemampuan Joni ketika maju menawarkan diri untuk memanjat. Nalurinya untuk memvideokan peristiwa heroik tersebut akhirnya viral di media sosial.

Viralnya video Joni, tidak terlepas dari perbaikan infrastruktur komunikasi yang dilakukan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Di perbatasan Indonesia-Timor Leste ini, sinyal 4G relatif mudah ditemui. Video Ika yang diunggah hanya beberapa saat setelah upacara berlangsung, langsung viral di-like oleh 10 ribu orang dan di-share lebih dari 100 ribu kali hanya dalam waktu 3 jam. Jokowi tidak hanya membangun infrastruktur perbatasan seperti pos lintas batas, tetapi juga akses teknologi masyarakat.

Hasil speedtest yang dilakukan pada pukul 3 dini hari menunjukan kecepatan data yang mencengangkan! Pengguna layanan Telkomsel di Atambua dapat mengunduh data dengan rata-rata kecepatan 21,4 Mbps dan mengunggah data dengan kecepatan 10,5 Mbps.

Tetapi aksi Joni tidak datang dari kekosongan. Dilacak sejarah keluarnya, orang tua Joni adalah warga eks-Timor Leste yang berasal dari Bobonaro, mereka lebih memilih bersama Indonesia setelah jajak pendapat pada 1999. Pasangan suami istri Viktorino Fahik Marcal dan Lorenca Gama rela meninggalkan kampung halaman untuk tetap menjadi warga Negara Indonesia.

Dari kecil, Joni mengaku selalu diajarkan kedua orantuanya untuk mencintai NKRI. Karena itu, setiap HUT RI, meski dalam kondisi sakit, seluruh keluarganya akan tetap berupaya menghadiri upacara HUT kemerdekaan RI.

"Saya yang diberi tugas oleh ayah cari bambu di hutan untuk jadikan tiang bendera setiap HUT kemerdekaan RI," imbuh bocah yang bercita-cita jadi anggota TNI ini.

Banjir apresiasi

Aksi heroik Joni mengundang decak kekaguman dan kebanggaan. Joni dinilai membangkitkan semangat patrotisme, semangat cinta tanah air. Kementerian Pertahana melalui Pejabat Perwakilan Kementerian Pertahanan Nusa Tenggara Timur (NTT) Kolonel Friski Suatan mengatakan aksi spontan Joni dinilai cara untuk mencintai Tanah Air agar bendera Merah Putih tetap berkibar.

"Dalam sistem pertahanan, setiap warga negara Indonesia tentu memiliki cara masing-masing dalam membela Tanah Air. Yohanes dengan kemampuannya bisa membuat Merah Putih berkibar saat kondisi darurat," jelasnya.

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) bakal memberikan bantuan beasiswa hingga jenjang pendidikan tinggi kepada Joni. PLN Peduli merupakan program tanggung jawab sosial perusahaan yang salah satunya memberi perhatian khusus pada bidang pendidikan.

Direktur Human Capital Management PLN Muhamad Ali mengapresiasi tindakan Yohanes yang menjunjung tinggi rasa nasionalisme dan cinta NKRI.

"Aksi Yohanes sangat nasionalis sekali. Kami salut dengan anak ini. Mulai saat ini Yohanes menjadi 'Putra PLN' dan akan mendapatkan beasiswa sampai dengan tingkat S1," ungkap Ali dalam keterangan resmi, Jumat (17/8/2018).

Hari ini, Sabtu (18/8/2018), Joni berangkat ke Jakarta pada untuk memenuhi undangan pemerintah pusat. Adalah Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi yang mengundangnya. Joni juga dijadwalkan untuk bertemu Jokowi.

"Itu sebuah tekad yang luar biasa. Bagi Joni mungkin itu tidak berbahaya, tetapi itulah tantangan. Joni mengorbankan semuanya demi Merah Putih," kata Imam.

Imam berjanji akan mengajak bocah penyelamat pengibaran bendera Merah Putih itu untuk menonton salah satu cabang olahraga Asian Games 2018.

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto ikut angkat jempol kepada Joni.

“Panglima TNI memberikan apresiasi berupa beasiswa atas keberanian dan aksi heroik Johannes Adekalla, sehingga bendera Merah Putih dapat dikibarkan dalam upacara tersebut,” kata Kapuspen TNI Mayjen TNI M. Sabrar Fadhilah dalam keterangannya, Sabtu (18/8/2018).

Menurut Sabrar, aksi yang dilakukan Joni itu membangun rasa nasionalisme. Kata dia, panglima TNI pun siap memberikan penghargaan berupa beasiswa hingga lulus SMA. Kemudian, setelah lulus SMA, Joni akan jadi prioritas kalau berminat ingin menjadi prajurit TNI.

Joni adalah representan dari anak-anak perbatasan yang kini menikmati perhatian besar pemerintah. Pos perbatasan, infrastuktur jalan, infrastruktur komunikasi, pendidikan, dan pembangunan bendungan dilakukan secara besar-besaran. Tidak heran patrotisme dan bela Negara tetap dikumandangkan mulai dari perbatasan.

Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro, saat ini pemerintah tengah fokus memperbaiki daerah perbatasan.

“Di Indonesia masa lalu, daerah perbatasan dianggap halaman belakang. Ini yang membuat daerah perbatasan. Mindset dari pemerintahan sekarang perbatasan adalah front yard, halaman depan. Karena itu juga akan berpengaruh terhadap kewibawaan dari negara kita sendiri,” ungkap Bambang di Gedung Bappenas, Jakarta, Kamis (22/3/2018).

Proficiat Joni. Aksi heroikmu adalah setitik cercah cahaya terang bagi semangat patriotisme dan bela Negara.

--- Redem Kono

Komentar