Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

GAYA HIDUP Jutaan Pasangan di China Bercerai Setiap Tahun, Mengapa? 07 Nov 2017 17:24

Article image
Perceraian tidak lagi menjadi hal yang tabu secara sosial bagi generasi muda China saat ini. (Foto: Mace Greenfield)
Perubahan sosial yang dramatis adalah elemen utama meningkatnya kasus perceraian. Tapi para pakar hukum mengingatkan adanya kekerasan dalam rumah tanggga juga menjadi masalah yang serius.

Oleh Simon Leya

 

KETIKA  Zhou Ying dari Guangzhou mengakhiri pernikahannya yang sudah berjalan selama 10 tahun, dia merasa beban terlepas dari pundaknya.

“Kami jatuh cinta pada pandangan pertama dan itu akan selalu meninggalkan luka bahwa hubungan berakhir dengan perceraian. Tapi saya pikir itu kurang menyakitkan daripada bila kami saling membenci satu sama lain dan membiarkan putra kami hidup dalam lingkungan penuh permusuhan,” kata Zhou, perempuan berusia 38 tahun kepada South China Morning Post sebagaimana dikutip The Guardian.

“Secara finansial saya dapat menyokong hidup saya dan putra saya. Kualitas hidup saya tidak terpengaruh.”

Tidak seperti generasi tua yang berusaha bertahan dalam sebuah perkawinan yang tidak bahagia, perceraian tidak lagi menjadi hal yang tabu secara sosial bagi generasi muda China saat ini.

Pasangan dapat mendaftarkan gugatan perceraian ke catatan sipil dengan alasan-alasan mengapa mereka ingin berpisah. Atau mereka bisa saja bercerai melalui proses pengadilan yang dapat menetapkan pembagian harta gono gini dan pengasuhan anak.

Enam bulan pertama tahun ini saja, sebanyak 1.85 juta pasangan mendaftarkan perceraian di catatan sipil. Angka ini bertumbuh 10 persen dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.

Tiga dekade yang lalu, pada 1986, 460,000 pasangan mendaftarkan perceraian mereka ke catatan sipil. Sejak 2016, angka perceraian dalam setahun bertambah mencapai 4,15 juta pasangan.

Rata-rata umur pernikahan di China adalah 26 tahun, demikian survei tahun 2015 yang dilakukan the All-China Women’s Federation.

Angka perceraian tertinggi berasal dari kalangan pekerja ahli dan pengacara. Kenyataan ini tidak lepas dari kemandirian mereka secara finansial, terutama di kalangan perempuan.

Namun alasan yang tidak terungkap tapi meningkat angka statistiknya adalah karena kekerasan dalam rumah tangga dan perselingkuhan yang menyebabkan perceraian di China.

Pengadilan tingkat 2 di Beijing melaporkan bahwa pada bulan Maret ini 93 persen perceraian karena kekerasan dalam rumah tanggga dan perselingkuhan.

Sebuah survei yang dilakukan Jiayuan, website kencan pada April ditemukan 18 persen gugatan cerai oleh kaum istri akibat kekerasan dalam rumah tangga. Sebanyak 38 persen perempuan mengatakan mereka bercerai karena diselingkhi oleh suami mereka. Sementara dari pihak pria, 25 persen mengakui diselingkhi istri dan 2 persen mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan dari istri.

Sebesar 41 persen pasangan yang bercerai mengakhiri perkawinan mereka pada lima tahun pertama perkawinan mereka.

Lu Xiaoquan, Direktur Beijing Qianqian Law Firm, mengatakan lebih dari 1.200 konsultan hukum menerima pengaduan kasus kekerasan dan perselingkuhan.

Firma hukum Lu, berafiliasi dengan organisasi non pemerintah hak-hak perempuan, Beijing Zhongze Women Legal Aid Centre.

“Kekerasan dalam rumah tangga sudah menjadi hal yang lumrah dan terus menjadi perilaku yang buruk. Lingkungan sosial memiliki toleransi yang tinggi terhadap kekerasan dalam rumah tangga juga,” kata Lu.

Ruby Xu, seorang perempuan pekerja kesehatan berusia  32 tahun di Beijing yang sedang menjalani proses perceraian mengatakan, dia merasa telah terperangkap dalam mimpi buruk.

Dia kerap menderita akibat makian dan kata-kata kasar dari suaminya sejak bulan-bulan pertama menikah.

Dia hamil tidak lama setelah menikah tapi tinggal sendiri di rumah sakit selama beberapa pekan karena menderita komplikasi yang mengancam kehidupan bayinya.

Eskalasi kekerasan fisik terjadi setelah sebulan kelahiran anak pertamanya. Tidak tahan dengan perlakuan suaminya, yang memukul dan mengusirnya dari rumah, melarangnya untuk menjenguk anaknya, dia akhirnya minta cerai.

“Saya kangen dengan putra saya. Kadang saya menunggu di luar rumah sambil berharap bisa melihat putra saya bila sedang bermain. Ini sesuatu yang sangat kejam manakala seorang ibu tidak diizinkan untuk melihat anaknya,” kata Xu.

“Tiga tahun yang lalu adalah masa paling pahit dalam hidup saya. Harapan saya satu-satunya adalah bercerai dengan memberikan hak pengasuhan kepada saya sehingga saya bisa hidup bersama dengan putra saya lagi.”

Zhang Qihuai, Direktur Firma Hukum Lanpeng di Beijing, telah menangani lebih dari 200 kasus perceraian dalam karirnya. Dia mengatakan, pengadilan Beijing memperkirakan bahwa 93 persen kasus perceraian adalah akibat kekerasan dalam rumah tangga dan perselingkuhan.

“Dampak dari kultur Barat, pasangan suami istri mengejar hubungan yang romantis. Secara finansial mereka berkecukupan untuk berpacaran di restoran atau hotel. Jaringan sosial juga memungkinkan mereka menemukan pasangan dengan mudah hanya dalam semalam,” kata Zhang.

 “[Perkawinan] biasanya langgeng dan untuk melahirkan generasi penerus, tetapi sekarang tidak lagi,” Zhang said.

Pengadilan di Jinan, Provinsi Shandong, biasanya memberikan waktu tiga bulan bagi pasangan untuk berpikir sebelum mengambil keputusan, demikian ditulis Xinhua.

Li Jiang, seorang hakim pengadilan negeri di Sizhong mengatakan bahwa masalah keluarga menjadi kasus menonjol di pengadilan.

Dari 1.000 kasus hukum yang ditangani, 700 di antaranya adalah kasus perceraian. Para hakim meyakini bahwa pasangan suami istri umumnya terburu-buru mengakhiri perkawinan mereka hanya karena salah paham.

Mereka tidak jarang mengambil keputusan dengan tergesa-gesa atau karena ada campur tangan dari orang tua.

Tags:
Gaya Hidup

Komentar