Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

INDUSTRI Kadin: Pabrik Semen Rembang Hadang Gempuran Produksi Asing 07 Mar 2017 18:36

Article image
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian Johnny Darmawan. (Foto: Ist)
"Saingan semakin banyak dengan produksi semen asing. Produksi Semen Rembang harus digunakan untuk kebutuhan dalam negeri..."

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian Johnny Darmawan mengatakan, sudah sepatutnya operasional pabrik PT Semen Indonesia di Rembang (Semen Rembang), Jawa Tengah, segera berlangsung.

Menurut Johnny, apalagi semua persyaratan kelayakan pabrik kini telah terpenuhi, seperti amdal dan izin lingkungannya, maka tidak ada alasan beroperasinya Semen Rembang terus ditunda.

"Kalau amdal dan izin lingkungannya sudah layak berarti (pabrik Semen Rembang) harus jalan dong. Kecuali kalau pemerintah mau terus-terusan ikuti rongrongan NGO itu," ujar Johnny, Selasa (7/3/2017).

Johnny mengungkapkan, penundaan operasional Semen Rembang yang semakin lama akan membuat beban biaya industri semakin bertambah. Hal itu tentu saja berpengaruh pada nilai investasi yang telah ditaruh.

"Penundaan mengeluarkan biaya. Semakin lama beroperasi Semen Rembang, tambah besar cost. Ini berdampak ke investasi. Jangan salah, tertunda sebulan saja pabrik semen itu ada cost yang harus dikeluarkan," ucap Johnny.

Johny menyebutkan, pentingnya industri pabrik Semen Rembang segera beroperasi sebab berkaitan terhadap dukungan pembangunan infrastruktur yang kini sedang ditingkatkan.

"Semen itu untuk pembangungan. Semua kan memerlukan semen untuk pembangunan. Membangun perbaikan infrastruktur jalan raya, jembatan dan lainnya," Johnny menuturkan.

Ditambah lagi, produksi Semen Rembang sebagai industri nasional guna mencukupi ketersediaan dan kebutuhan Indonesia yang kini amat ketat persaingannya dengan semen asing.

"Saingan semakin banyak dengan produksi semen asing. Produksi Semen Rembang harus digunakan untuk kebutuhan dalam negeri," ungkap Johnny.

Namun, Johnny menyatakan, ke depan juga perlu disusun arah produksi semen nasional, seperti dari pabrik Semen Rembang dapat dialihkan untuk ekspor. Jika, ucap Johnny, telah dihitung kapasitas semen nasional melebihi atau tidak.

"Makanya Semen Rembang harus jalan terus. Ke depannya juga penting untuk mendukung ekspor," ujar Johnny.

Walaupun menyangkut ekspor semen nasional tersebut bukan hal yang mudah dilakukan. Johnny beranggapan, masih ada beberapa kendala yang dihadapi industri semen milik negara.

"Ada kendala ekspor, seperti harga yang bersaing. Harga semen produksi milik nasional kita masih jauh di bawah harga semen asing. Kemudian juga soal kualitas perlu semakin ditingkatkan dari semen asing," kata Johnny.

Belum lama ini Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kembali menerbitkan izin lingkungan untuk pabrik Semen Rembang. Sebelumnya, izin tersebut dicabut sesuai putusan MA pada 5 Oktober 2016 sebab gugatan sekelompok orang.

Pabrik Semen Rembang menelan biaya investasi mencapai Rp 4,97 triliun dan diperkirakan mampu berproduksi 3 juta ton per tahunnya.

Diketahui, pabrik Semen Rembang juga mampu menyerap tenaga kerja lokal hingga berjumlah sekitar 2.500 orang. Saat izin lingkungan Semen Rembang dicabut, pabrik sementara waktu tidak bisa beroperasi dan merumahkan ribuan karyawannya.

 

--- Sandy Romualdus

Komentar