Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

PARIWISATA Kadis Pariwisata NTT: Parade 1001 Kuda Sandelwood Harus Jadi Branding Nasional 13 Jul 2018 08:25

Article image
Parade 1001 Ekor Kuda Sandelwood di Sumba Timur, NTT (Foto: Ist)
“Kegiatan Parade Kuda Sandelwood dan Festival tenun Ikat harus menjadi trending topik di mana-mana seperti yang telah dilakukan di Sumba Barat dan bahkan Sumba Timur. Ini dari Sumba, NTT untuk Indonesia," ungkap Marius.

WAINGAPU, IndonesiaSatu.co-- Sebanyak 1001 ekor kuda sandelwood mewarnai kegiatan Parade kuda Sandelwood yang terjadi di kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (12/7/18).

Acara pelepasan 1001 kuda sandalwood dilakukan oleh Deputi Bidang Pengembangan, Pemasaran Pariwisata 1 Kementerian Pariwisata, I Gede Pitana, didampingi Kadis Pariwisata NTT, Marius Ardu Jelamu, Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora dan Ketua DPRD Sumba Timur, Palulu Pambundu Ndima.

Para penunggang kuda sandelwood dalam parade tersebut menyisiri padang dan lembah bukit savana Walakiri di kelurahan Watumbaka, kecamatan Pandawai, Sumba Timur, diiringi teriakan dan pekikan khas Sumba Timur oleh penunggang kuda “kayaka Kakalla'ku.” Para penunggang kuda juga mengenakan kostum pesona Indonesia dipadu dengan kain tenun ikat Sumba dan kepala berikatkan selempang Sumba, sementara kuda-kuda juga dihiasi kain motif Sumba.

Kelompok parade kuda sandalwood dibagi dalam lima belas kelompok dari lima kecamatan, yakni tiga kelompok dari Kecamatan Haharu sebagai kelompok pertama, tiga kelompok dari kecamatan Kanatang di urutan kedua, dan diikuti tiga kelompok dari kecamatan Kota, tiga kelompok dari kecamatan Kambera dan diakhiri tiga kelompok dari kecamatan Pandawai.

Kadis Pariwisata Propinsi NTT, Marius Ardi Jelamu mengatakan bahwa Parade 1001 Kuda dan Festival Tenun Ikat Sumba harus menjadi branding nasional selain menjadi salah satu branding terkuat di pulau Sumba dan NTT.

“Kegiatan Parade Kuda Sandelwood dan Festival tenun Ikat harus menjadi trending topik di mana-mana seperti yang telah dilakukan di Sumba Barat dan bahkan Sumba Timur. Ini dari Sumba, NTT untuk Indonesia. Ke depan, pemerintah akan memperbanyak festival dan selalu memperbaiki koreografinya. Jadi disentuh dengan berbagai kreativitas dan inovasi," ungkap Marius.

Menurutnya, pemerintah kabupaten sedaratan Sumba dan masyarakat Sumba harus serius menjaga keramahan, keamanan, kebersihan, menjaga budaya dan kearifan lokal yang menjadi potensi pariwisata. Apalagi Sumba adalah pulau  terindah menurut majalah Focus Jerman dan juga memiliki hotel terbaik Nihi Watu yang terletak di Sumba Barat.

“Untuk mendukung pariwisata di Sumba, pemerintah Provinsi NTT mengharapkan agar maskapai penerbangan dapat membuka penerbangan dari Labuan Bajo-Waingapu dan Labuan Bajo-Tambolaka sehingga para wisatawan dapat mempersingkat perjalanan tanpa harus melalui Kupang. Dalam waktu dekat, akan dibuka penerbangan Batik Air dari Surabaya ke Labuan Bajo, sementara yang sudah ada penerbangan dengan rute Kupang-Makassar dan Kupang-Lombok,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa dari tahun ke tahun kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara  ke NTT semakin meningkat baik melalui darat, laut dan terutama melalui udara, sehingga perlu diantisipasi.

“Provinsi NTT  sudah memiliki dua bandara internasional yakni Bandara Komodo di Labuan Bajo dan El Tari Kupang.  Sementara janji Kementerian Pariwisata begitu sudah selesai perpanjangan bandara di Komodo akan dibuka bandara internasional. Kita mengharapkan agar di tiga pulau besar ini memiliki bandara Internasional masing-masing dan sudah sangat cocok untuk Pulau Sumba di Tambolaka, Sumba Barat Daya. Sehingga maskapai dari luar negeri memiliki tiga alternatif bandara tersebut. Diharapkan pemerintah pusat dapat merespon hal ini,” harapnya.

--- Guche Montero

Komentar