Breaking News

OPINI Kamis Putih: Dari Pembasuhan Kaki ke Pembasuhan Duka 08 Apr 2020 23:12

Article image
Ilustrasi ritual Yesus membasuh kaki para murid-Nya. (Foto: Catolicaconet)
Bagi kita orang katolik, upacara pembasuhan kaki merupakan sebuah tindakan kasih yang dilakukan Yesus untuk membasuh kaki para murid-Nya.

Oleh Alfred B. Jogo Ena

 

Situasi Ambang Batas

Pekan Suci tahun 2020 terasa sangat istimewa bagi umat katolik sedunia. Istimewa karena dirayakan di tengah kepanikan dan ketakutan terhadap pandemik coronavirus disease 2019 (covid 19). Hari-hari menjelang pekan suci banyak orang terjebak dalam kecemasan dan kegusaran manusia karena berada pada ambang batas kemanusiaannya. Manusia berada pada batas manusiawinya, tidak bisa serta merta menolak atau menerima peristiwa yang mengguncangkan ini sebagai sebuah peristiwa iman.

Dalam aneka postingan di media sosial entah Facebook, Twiter dan WhatsApp, kita seriang menjumpai aneka tulisan yang menghubung-hubungkan pandemik coronavirus ini dengan peristiwa iman. Ada yang mulai kreatif mencari-cari pendasaran biblis, ada yang mencoba mencari kecocokan dengan ramalan-ramalan para ahli nujum, paranormal dan lain-lain. Apakah semua itu langsung membawa orang pada pemaknaan spiritual bahwa pandemik corona virus adalah sebuah peristiwa sekaligus pengalaman iman? Tidak juga!

Fokus perhatian kita dalam refleksi singkat kali ini lebih berusaha membawa pembaca pada sebuah fragmen dalam Upacara Kamis Putih, yakni upacara/drama singkat pembasuhan kaki Tuhan Yesus kepada para murid-Nya. Kali ini, dengan situasi yang istimewa yakni mengikuti perayaan ekaristi secara live streaming/online – dalam “bencana” semesta yang tak terelakkan - kita diajak untuk merefleksikan makna dari pembasuhan kaki ke pembasuhan dukan.

 

Membasuh Kaki: Keluar Dari Sendiri

Bagi kita orang katolik, upacara pembasuhan kaki merupakan sebuah tindakan kasih yang dilakukan Yesus untuk membasuh kaki para murid-Nya. Seorang guru membasuh kaki para murid. Sebuah tindakan yang terbalik. Tindakan ini biasanya dilakukan oleh seorang budak atau hamba untuk membasuh kaki tuannya. Yesus mengajarkan yang sebaliknya. Ia membalikkan logika tentang melayani itu hanya dilakukan oleh seorang pelayan, bukan seorang tuan.

Tindakan Yesus ini menegaskan tentang betapa terhormatnya melayani itu. Melalui tindakan pembasuhan kaki ini, Yesus hendak menegaskan bahwa menghormati dan melayani orang lain terutama yang paling rendah dan hina itu sebuah perbuatan terhormat, sebuah tindakan perendahan diri yang didasari oleh kerendahan hati dan ketulusan dalam memberi. Seperti para hamba yang tulus (meski ada yang demi fulus) melayani tuannya, tindakan membasuh kaki menjadi contoh untuk keluar dari diri sendiri dan menjangkau sesama.

Menjangkau sesama sebagai tindakan keluar dari sendiri hanya bisa terjadi karena kita tidak bisa berada seorang diri. Menjangkau dan melayani itu selalu berhubungan dengan sesama. Dengan melayani sesama (yang paling dekat dalam keluarga dan kemunitas, lalu dalam masyarakat dan dunia) kita terpanggil untuk menundukkan kepala dengan tangan yang selalu terbuka dan terulur untuk menolong.

Dalam konteks refleksi kita kali ini, membasuh kaki artinya kita menjangkau mereka yang sedang menjadi korban dan terpapar covid 19, baik yang meninggal maupun yang sedang dalam proses pemulihan. Membasuh artinya kita mengjangkau sesama dengan tangan terbuka dan membawa mereka dalam rengkuhan kasih kita.

 

Membasuh Duka: Membawa Mereka ke Dalam Doa dan Penyelamatan

Ketika kita membaca atau mendengar berita tentang ratusan ribu orang yang terpapar covid 19 dan ribuan orang meninggal setiap hari di seluruh dunia, kita sampai pada dasar keterbatasan manusiawi kita. Akal dan imajinasi kita seakan mendadak “korslet” karena tak pernah membayangkan sesuatu yang sedahsyat itu (baik dalam kenyataan maupun dalam berita yang disertai dengan hoax dan permainan politik antarnegara).

Hari-hari ini, tak dapat dipungkiri bahwa sebagai umat katolik, selain sedih karena tidak bisa merayakan pekan suci dalam kebersamaan di gereja kita juga berduka bersama semesta karena bencana yang menimpa anak-anaknya. Hari-hari ini, tindakan pembasuhan kaki seakan makin konkret makna dan nilai manusiawi sekaligus spiritualnya. Manusiawi artinya tindakan berbela duka dengan sesama yang menjadi korban merupakan tindakan keseharian kita. Spiritual artinya dalam keterbatasan manusiawi dan terjadinya secara menggelobal (mendunia) kita terpanggil untuk saling mendoakan dan berbela rasa dengan para korban dalam doa-doa menurut keyakinan kita.

Situasi dunia yang tercabik-cabik dalam duka mendalam ini, ketika kita menyaksikan anak-anak kehilangan orang tua mereka, suami dan istri yang kehilangan pasangan hidupnya dalam rentang waktu yang demikian cepat dan massif (dialami banyak orang), Kamis Putih kita semakin aktual untuk para imam yang merayakan ekaristi seorang diri bersama umatnya di rumah-rumah mereka; ekaristi sebagai perjamuan kebersamaan seakan dinegasikan dengan perayaan yang terpisah-pisah; kegembiraan rohani seakan diganti dengan kehilangan selamanya, kita terpanggil untuk merengkuh siapapun dalam dekapan doa kita dan membasuh luka duka mereka dengan penghiburan rohani: bergadengan tangan sebagai sesama ciptaan yang serba terbatas.

Terpujilah para imam, karena tindakan membasuh duka dalam perayaan ekaristi yang mereka rayakan seorang diri tanpa umat menegaskan makna sakramen imamat yang mereka terima. Persembahkan dalam doa-doamu umatmu yang berduka. Basuhlah hati mereka dengan siraman rohani dan doa-doamu yang khusyuk bagi segenap dunia. Bersama segenap umatmu yang setia tinggal di rumah, bawalah mereka yang meninggal dalam doa-doamu agar diselamatkan dalam keabadian; bawalah para medis: dokter dan perawat yang merelakan hidupnya demi menyelematkan para korban.

Selamat memasuki dan merayakan Kamis Putih dari gereja-gereja yang kosong bersama umat yang setia mengikuti dari rumah-rumah sembari membawa dan membasuh para korban dalam hati dan doa-doa kita.

 

Penulis dan Editor buku-buku rohani Katolik, tinggal di Yogyakarta.

Komentar